Jokowi dari Timur
By Akhyari Hananto
“Pernahkah anda dengar kota bernama Mamuju?” tanya saya kepada 100-an mahasiswa di sebuah kampus di Malang ketika saya diundang sebagai pembicara di kampus tersebut. Separuh dari mereka mengacungkan jari. “Tahukah anda dimana itu Mamuju?” tanya saya lagi. Hanya ada sekitar 10-an orang yang mengacungkan tangan. Saya menunjuk satu orang, “Maluku, pak” jawabnya. Salah. Saya menunjuk satu orang lagi, dan lagi-lagi salah.
Bagi anda yang juga belum tahu, Mamuju adalah ibukota propinsi Sulawesi Barat, propinsi yang baru berdiri tahun 2004. Saya telah mengunjungi Mamuju (dan sekitarnya) sebanyak 3 kali, dan semua kunjungan saya ke kota kecil tersebut sangat mengesankan. Bukan hanya karena keindahan alamnya, atau kelezatan makananannya, tapi juga kehangatan masyarakatnya. Yang paling mengesankan saya sebenarnya adalah betapa efektifnya peran pemerintah propinsi, mulai dari gubernur, hingga pelaksana di daerah.
Saya berkesempatan ngobrol dan berdiskusi dengan seorang karyawan di bagian protokol pemprov, juga diskusi dengan badan perencanaan daerah, lalu pernah juga diberi kesempatan berdiskusi langsung dengan Anwar Adnan Saleh, sang gubernur, dan saya berani menyimpulkan satu hal. They know what they are assigned to do, they know what they are doing, they know what it’s like if they dont do their assignments.
Catatan khusus untuk Anwar Adnan Saleh. Masa jabatannya tinggal 3 tahun lagi, dan ini adalah kali terakhir beliau boleh menjabat. Tapi semangatnya masih kuat untuk blusukan ke kampung-kampung yang terpencil jauh di ujung propinsi, atau menyeberang kali tanpa perahu. Jauh sebelum Jokowi blusukan di Jakarta, gubernur ini konon sudah keluar masuk kampung terpencil. Mungkin kurang lebih sama dengan Jokowi, ingin tahu sendiri apa yang kurang dari rakyatnya. Bedanya, Anwar jarang sekali diliput media nasional, sayang sekali, padahal kemampuannya bisa jadi sangat dibutuhkan secara nasional. Gubernur ini mengerti betul harga pasar hasil-hasil alam, ikan, atau hafal betul jarak antara satu kota dengan kota lain, berapa km jalan yang belum diaspal, berapa investasi tahun lalu, berapa inflasi bulan lalu, dan sebagainya. Lagi, he knows what he’s doing.

Otonomi Daerah yang disepakati oleh negara ini beberapa tahun lalu, harus disikapi dengan kemampuan dan kerja keras seperti itu. Saya sendiri sangat setuju desentralisasi, negeri sebesar Indonesia akan sangat sulit “maju bersama” dengan sistem terpusat. Disentralisasi akan memungkinkan masing2 daerah (propinsi dan kabupaten) untuk mengembangkan potensinya, yang sesuai dengan kebutuhan, karakter, dan kemampuan masyarakatnya. Saya berani bilang bahwa Sulawesi Barat termasuk salah satu yang berhasil, dengan membukukan pertumbuhan ekonomi yang fantastis, pembangunan terencana dan terarah, juga kemauan masyarakatnya untuk berkerja keras untuk maju. Tak heran, ekonomi propinsi ini tumbuh cepat, 12.7% tahun lalu, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang hanya 6.23%.
Kita selalu skeptis memandang otonomi daerah, padahal dari sinilah muncul Jokowi-jokowi yang tak hanya mengerti apa yang harus diperbuat, tapi juga akan bekerja keras untuk mencapai kemajuan untuk daerahnya, meski tentu saja tak semuanya berjalan mulus. Namun setidaknya, dengan otonomi lah, Indonesia nantinya akan menjadi gabungan dari entitas-entitas kuat, yang tidak hanya maju secara ekonomi, namun juga kuat di bidang pemerintahan. Sulawesi Barat adalah contoh yang baik.
Wayan, Made, Nyoman, Ketut, Ida Bagus..
Jika Anda sedang berada di Bali, Anda tentu sering mendengar nama-nama khas Bali mulai Wayan, Made, Nyoman, Ketut, Ida Bagus, dan sebagainya. Semua nama itu ternyata ada artinya.
Kita mulai dulu dengan sebutan I dan Ni pada nama-nama orang Bali. Huruf I di depan nama Wayan misalnya, adalah kata sandang yang bermakna laki-laki. Sementara kata sandang penanda kelamin perempuan adalah Ni. I dan Ni juga bermakna seorang lelaki dan wanita dari keluarga masyarakat kebanyakan, tidak berkasta atau biasa disebut orang jaba. Jika ia terlahir di keluarga penempa besi, maka orang Bali ini bernama Pande. Bila di depan Wayan gelarnya Ida Bagus, ia tentu terlahir di keluarga Brahmana. Ida Bagus berarti yang Tampan atau Terhormat. Jika saja ia digelari Anak Agung, maka ia lahir di keluarga bangsawan.

Nama Wayan berasal dari kata “wayahan” yang artinya yang paling matang. Titel anak kedua adalah Made yang berakar dari kata “Madia” yang artinya tengah. Anak ketiga dipanggil Nyoman yang secara etimologis berasal dari kata “uman” yang bermakna “sisa” atau “akhir”. Jadi menurut pandangan hidup orang Bali, sebaiknya sebuah keluarga memiliki tiga anak saja. Setelah beranak tiga, kita disarankan untuk lebih “bijaksana”. Namun zaman dahulu, obat herbal tradisional kurang efektif untuk mencegah kehamilan, coitus interruptus tidak layak diandalkan, dan aborsi selalu dipandang jahat, sehingga sepasang suami istri mungkin saja memiliki lebih dari tiga anak.
Anak keempat gelarnya Ketut. Ia berasal dari kata kuno “Kitut” yang berarti sebuah pisang kecil di ujung terluar dari sesisir pisang. Ia adalah anak “bonus” yang tersayang. Karena program KB yang dianjurkan pemerintah, semakin sedikit orang Bali yang bernama Ketut. Itu sebabnya ada kekhawatiran dari sementara orang Bali akan punahnya sebutan kesayangan ini.
Menurut situs balirustique.com, orang Bali memiliki sebuah tabu atau pantangan bahwa petani tidak boleh menyebut kata tikus, yang di Bali disebut bikul, jika sedang ada di sawah. Menyebut tikus di sawah, dipercaya bagai mantra yang bisa memanggil tikus. Untuk itu jika sedang di sawah, orang memanggilnya dengan julukan spesial ” Jero Ketut”. Ia bermakna tuan kecil. Ini berangkat dari pandangan bahwa tikus bagimanapun juga adalah bagian dari keseimbangan alam.
Bila keluarga berencana gagal, dan sebuah keluarga memiliki lebih dari empat anak, maka mulai dari anak kelima, orang Bali mengulang siklus titel di atas. Anak kelima bergelar Wayan, keenam Made, dan seterusnya.
Namun jika bicara lebih rinci, ketiga titel hirarki kelahiran orang Bali memiliki sinonim; untuk Wayan: Putu, Kompiang, atau Gede; untuk Made: Kadek atau Nengah; untuk Nyoman: Komang. Sementara nama Ketut yang istimewa tak bersinonim.
Seperti orang Jawa, orang Bali tidak memiliki nama marga atau nama keluarga (family name). Jadi kalau dilihat dari kaca mata orang barat, orang Bali hanya memiliki first name tanpa family name. Konon ini memudahkan orang untuk menyamar di waktu perang. Bahkan bila terpaksa, setelah kekalahan militer, seorang bangsawan bisa mengaku sebagai orang kebanyakan. Dan seluruh keturunannya pun terpaksa memakai titel I atau Ni.
Meski tidak mengenal nama marga atau fam, ada juga orang Bali yang yang turun temurun dengan jelas menambahkan nama marga atau sub marga sepeti Dusak, Pendit, dan lain lain di belakang nama depan . Misalnya saja (hanya rekayasa), Wayan Sujana Pendit. Di jaman modern ketika nama keluarga jadi penting untuk urusan paspor atau kalau tinggal di luar negeri, beberapa keluarga Bali yang progresif membuat nama marga baru yang biasanya diambil dari nama seorang ayah yang berpendidikan tinggi dan “sukses”.
Banyak hal yang berubah di Bali sejak kemerdekaan Indonesia. Bila di zaman dulu orang menamai anaknya sekehendak hati, sering tanpa arti, atau hanya onomatope, di zaman sekarang ini, orang-orang mulai ramai memakai nama yang berasal dari bahasa Sanskerta. Ada juga nama orang Bali kini yang sudah ‘bernuansa’ barat seperti misal I Ketut Bobby atau Ni Luh Ayu Cindy.
(Berbagai sumber)
Antara Victory Day, Kebangkitan Nasional, dan Gosip Selebritis
Oleh: Ahmad Cholis Hamzah*
Pada tanggal 20 Mei 2013 kemarin tanpa sadar kita bangsa Indonesia ini merayakan hari Kebangkitan Nasional yang ke-105. Hari yang setelah jaman kemerdekaan dulu dirayakan dengan gegap gempita oleh segenap bangsa; karena hari itu adalah hari lahirnya pergerakan pemuda Indonesia yang bernama Boedi Oetomo (ejaan lama). Organisasi ini didirikan oleh Dr. Sutomo dan teman-temannya mahasiswa Fakultas Kedokteran STOVIA pada tanggal 20 Mei 1908. Pendirian organisasi ini penting dalam sejarah Indonesia karena berdirinya Boedi Oetomo inilah dianggap sebagai bibit dari pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia. Karena itulah tanggal tersebut di peringati sebagai hari Kebangkitan Nasional.
Saya beberapa hari sebelum tanggal 20 Mei itu melihat TV Rusia yang menayangkan acara parade militer peringatan hari kemenangan (atau Victory Day) atas Nazi Jerman 68 tahun yang silam di Moskow. Hampir seluruh rakyat Rusia termasuk penyiar TV memasang pita di dada sebelah kiri tanda merayakan hari kemenangan itu. Pertempuran hidup mati bangsa Rusia melawan Jerman menjadi sejarah penting bagi bangsa Rusia; dan karena itu setiap tahun diperingati secara besar-besaran. Disetiap kota dan desa ada acara mengenang hari yang penuh dengan heroism itu, orang tua, pemuda dan anak-anak memakai seragam tentara Rusia jaman dulu, tank-tank jaman pertempuran itu di pamerkan, ada acara perang-perangan yang meniru adegan pertempuran melawan Nazi, dan sebagainya. Stasiun – stasiun TV di negeri ini menayangkan film documenter pertempuran melawan Jerman di berbagai kota seperti Stalingrad dan sekitarnya; TV2 itu juga mewancarai para veteran perang yang menjelaskan heroism perjuangan mereka; sebaliknya para veteran yang sudah sepuh atau tua itu berkunjung ke sekolah-sekolah menjelaskan sejarah perjuangan bangsa pada generasi penerusnya. Pendek kata bangsa Rusia merayakan hari sejarah mereka dengan gegap gempita.

Ironis bagi, kita bangsa Indonesia ini yang dalam sejarahnya dipenuhi dengan sejarah perjuangan anak-anak muda seperti Dr.Sutomo itu untuk merebut kemerdekaan bangsa; tapi saat ini sepi senyap; hanya ada upcara bendera di kantor-kantor pemerintahan; setelah itu bubar. TV2 kita tetap saja menayangkan acara gossip para selebriti, cerita para koruptor yang menerima uang haram dan dipakai untuk mengumbar nafsu syahwat; acara-acara musik hingar bingar yang membuat para penontonnya menari kesurupan dan lupa bahwa pada tanggal 20 Mei itu dulu anak-anak muda seperti mereka itu berjuang mati-matian mengorbankan jiwa raganya dengan tekad “Indonesia Merdeka”. Jarang (bahkan boleh dikata tidak satupun) TV, atau radio atau Koran yang mewancarai para pejuang kita; atau menayangkan dan menulis cerita sejarah pergerakan Boedi Oetomo ini.
Saya kebetulan memiliki buku peninggalam almarhum ayah saya buku tua (sekitar tahun 1920an kalau tidak salah) yang ditulis Dr. Sutomo dalam bahasa Jawa. Pahlawan kita ini menulis laporan perjalanan beliau di manca Negara seperti Jepang, Ceylon (Srilangka), Turki, dan Negara-negara lain dengan foto-fotonya yang tentunya masih hitam putih. Dr. Sutomo dalam tulisannya itu menjelaskan kemajuan Negara-negara yang di kunjungi, malahan bisa berkunjung ke makam-makam orang Indonesia yang dibuang penjajah Belanda di Ceylon dan Afrika Selatan. Dalam laporan perjalanannya itu Dr. Sutomo tersirat akan cita-cita luhurnya: kapan bangsa Indonesia ini merdeka.
Saya jadi sedih, ketika melihat begitu luhurnya cita-cita Dr. Sutomo (dan para pahlawan besar lainnya) untuk memerdekan bangsa ini dari hinaan dan cercaan bangsa lain; tapi di pihak lain kita yang mengaku bangsa besar dan santun ini melupakan begitu saja perjuangan mereka.
Presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno (atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Bung Karno”) dulu pernah berujar dengan lantang: “Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Menghargai Sejarah Bangsanya”.
Dan sekarang giliran kita menanyakan pada diri kita masing-masing: pantaskah kita disebut sebagai Negara besar itu?
*Alumni University of London, Universitas Airlangga Surabaya; Dosen pada STIE PERBANAS Surabaya.
Tertinggi di Dunia
Indonesia terbukti menjadi salah satu target paling menggiurkan di pentas bisnis dunia. Menurut hasil survei yang dirilis oleh The Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions pada awal Mei lalu, Indonesia berada di urutan teratas dalam daftar sepuluh negara dengan tingkat optimisme ekonomi tertinggi di dunia.

Dengan indeks kepercayaan konsumen mencapai 122 poin, Indonesia mengalahkan rata-rata Asia yang indeksnya mencapai 103 poin dan bahkan berada jauh di atas rata-rata dunia yang ‘hanya’ sebesar 93 poin! Menurut lembaga riset tersebut, hal ini didorong oleh optimisme Indonesia menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden di tahun 2014 dan naiknya upah minimum karyawan. Karena kuatnya kondisi domestik ini, konsumen Indonesia menjadi semakin loyal dalam berbelanja. Bahkan, timbul tren berbelanja merek-merek premium.
Hal tersebut dipaparkan Managing Director perusahaan konsultan kehumasan PT Fortune Pramana Rancang (Fortune PR) Indira Abidin dalam lawatannya ke Seoul, Korea Selatan, baru-baru ini. “Setelah Indonesia, India menempel di posisi kedua dengan indeks kepuasan konsumen sebesar 120 poin, diikuti Filipina 118 poin, Thailand 116 poin, dan Brazil 111 poin. Lima negara lain yang masuk sepuluh besar adalah Arab Saudi, Tiongkok, dan Hongkong dengan 108 poin, lalu Malaysia dan Norwegia dengan 106 poin,” jelas Indira.
Di Negeri Ginseng tersebut, Indira melakoni serangkaian agenda selama sembilan hari. Salah satunya adalah menghadiri Rapat Umum tahunan Worldcom, jaringan perusahaan public relations (PR) independen terkemuka dunia. Hadir bersama Indira dalam rapat tersebut adalah perwakilan perusahaan-perusahaan PR unggulan yang menjadi partner Worldcom dari berbagai regional di seluruh dunia, yaitu Amerika, Asia-Pasifik, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.
“Seluruh peserta di rapat ini menjabat sebagai pimpinan di perusahaan mereka. Karena itu, penting untuk mempromosikan kondisi ekonomi Indonesia yang disebut-sebut sebagai salah satu yang paling kondusif di lingkup global. Potensi bisnis dan peluang-peluang kemitraan, baik di bidang PR maupun lainnya, harus dibuka lebar-lebar,” ujar Indira.
Selain menghadiri rapat Worldcom, Indira juga mempromosikan Indonesia melalui kunjungan-kunjungannya ke berbagai perusahaan komunikasi di Seoul. Dalam pertemuannya dengan para petinggi perusahaan-perusahaan itu, Indira mengungkapkan bahwa Indonesia masuk ke kategori yang sama dengan Tiongkok, India, Malaysia, Filipina, Pakistan, Thailand, dan Vietnam yang dijuluki Fast-Track Asia.
“Kategori ini memiliki pertumbuhan ekonomi yang cepat, sangat siap untuk mengadopsi teknologi, dan belanja iklannya diprediksi akan tumbuh sekitar 10-11 persen per tahun mulai tahun ini sampai tahun 2015 mendatang. Sangat menggairahkan bagi kerja sama bisnis apapun,” kata perempuan yang baru saja dianugerahi gelar Indonesia Accredited Public Relations (IAPR) dari Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS) ini.
Di Seoul, Indira juga sempat bertemu dengan duta besar Indonesia untuk Korea Selatan, John A. Prasetyo, dan pelopor periklanan di Korea, Senyon Kim.
Indira adalah praktisi PR terkemuka di Indonesia dan telah diundang sebagai pembicara dalam berbagai workshop, seminar, dan konferensi baik berskala nasional maupun internasional. Tahun lalu, Indira berhasil menerima penghargaan Anugerah Perempuan Indonesia 2012 untuk kategori Perusahaan Publik Bidang Jasa Periklanan. Sosok Indira juga dikenal sebagai aktivis media sosial melalui akun Twitter @indiraabidin.
Tentang Fortune PR
Fortune PR merupakan konsultan yang menyajikan layanan solusi komunikasi terintegrasi berbasiskan public relations sebagai layanan utamanya. Fortune PR yang menjadi pionir dalam industri humas di Indonesia adalah anak perusahaan dari PT Fortune Indonesia Tbk (IDX: FORU), sebuah perusahaan pengembang komunikasi terpadu yang berdiri tahun 1970. Fortune PR juga menjadi salah satu mitra dari jaringan perusahaan humas independen terkemuka di dunia Worldcom Public Relations Group. Pada tahun 2012, Fortune PR menjadi satu-satunya finalis berbasis di Indonesia yang berhasil meraih penghargaan South-East Asia Consultancy of The Year oleh publikasi PR internasional The Holmes Report yang berpusat di Inggris. Di tahun yang sama, Fortune PR juga dianugerahi predikat sebagai Southeast Asia PR Agency of the Year dari majalah Campaign-Asia Pacific. Informasi selengkapnya, kunjungi www.fortunepr.com
Media contact:
Oscar Prajnaphalla
Marketing Communications Manager
Email: oscar@fortunepr.com HP: +62 897 6102 820
Putri Rizky Pramadhani
Media Relations Officer
Email: putri@fortunepr.com HP: +62 853 3431 8031
PT Fortune Pramana Rancang
Gedung Galaktika, Jl. Harsono RM No. 2, Ragunan, Jakarta Selatan 12550
Phone: (+6221) 765 8506, Fax (+6221) 780 5498
Era Baru Jaminan Kesehatan
By dr. Sholihul Abshor
Sakit bagi semua orang bukanlah kondisi yang dikehendaki, tapi bila sakit menyerang, semua orang dalam kondisi apapun pasti berupaya mencari obat bagi kesembuhannya. Bagi orang yang mampu berusaha mencari pengobatan kemana saja, bisa ke dokter umum, dokter spesialis, atau ke rumah sakit swasta yang mahal sekalipun. Namun bagi orang yang tidak mampu tentu bukan hal yang mudah dalam menghadapi keadaan sulit seperti ini. Jangankan ke dokter spesialis, ke dokter umumpun mereka tidak mampu sementara berobat ke puskesmas tidak sembuh. Memang saat ini pemerintah menanggung biaya berobat bagi masyarakat, baik ke puskesmas maupun ke rumah sakit umum. Namun masih banyak masalah yang timbul, diantaranya kualitas pelayanan medis yang kurang baik, pelayanan non medis yang belum nyaman dan ramah, hingga banyaknya masyarakat yang belum tercakup jaminan kesehatan sehingga mereka yang tidak mampu masih mengeluarkan biaya sendiri bila berobat.

Mulai tahun depan masyarakat bisa bernapas lega karena pemerintah akan memperbaiki sistim jaminan kesehatan sehingga masalah di atas tidak terjadi lagi. Komitmen pemerintah ini tertuang dalam undang undang no 44 tahun 2004 tentang sistim jaminan sosial nasional, sebagai amanah dari pasal 28-H dan pasal 34 Undang Undang Dasar 1945 yang menyebutkan kewajiban negara untuk memberikan perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sistim yang baru ini menjamin semua warga negara tercover dengan asuransi kesehatan dan wajib membayar premi yang ditentukan. Bagi masyarakat yang tidak mampu akan disubsidi seluruhnya oleh pemerintah dalam bentuk Penerima Bantuan Iur (PBI). Mulai 1 januari 2014 sistim ini akan diberlakukan, dengan konsekuensi pemerintah menanggung PBI sekitar 96 juta jiwa. Seluruh pola jaminan kesehatan yang ada saat ini yaitu; jamkesmas, jamsostek, dan PT Askes dilebur menjadi satu institusi berupa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS kes). Persiapan perubahan saat ini sudah dilakukan oleh pemerintah dengan menunjuk PT Askes sebagai model bagi BPJS kes.
Sistim yang baru ini diyakini dapat merubah pola pelayanan kesehatan ke arah yang lebih baik. Tidak hanya dalam hal jaminan terlayaninya bagi warga yang sakit, tetapi lebih dari itu mampu memperbaiki praktik pengobatan yang tidak sesuai dengan prosedur semestinya maupun yang menyimpang dari etika profesi. Banyak praktik pelayanan kesehatan yang merugikan pasien selama ini, seperti pemakaian obat yang tidak terkontrol sehingga biaya membengkak, prosedur perawatan yang tidak efisien sehingga pasien dirawat lebih lama dari semestinya, penggunaan laboratorium dan radiologi yang berlebihan, hingga tindakan pembedahan yang tidak perlu. Semuanya akan diatur dalam ketentuan yang baru di bawah kendali BPJS kes.
Saat ini PT Askes yang ditugasi pemerintah untuk menyiapkan BPJS kes berkerja keras melengkapi prosedur dan seluruh infra struktur yang dibutuhkan. Direktur PT Askes, DR. dr Fachmi Idris, MKes dalam kesempatan bertemu dengan pengurus Ikatan Dokter Indonesia dan pengelola rumah sakit di Surabaya beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa BPJK kes akan dikelola secara transparan dan tidak berorientasi profit, berprinsip kegotong royongan dan ekuitas, yaitu kesamaan dalam memperoleh pelayanan sesuai dengan kebutuhan medisnya.
Pada akhirnya kita berharap agar program ini berjalan sesuai yang direncanakan dan diharapkan. Sehingga seluruh rakyat Indonesia akan terjamin kesehatannya, mampu tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang unggul dan menjadi sumberdaya yang tangguh bagi Indonesia yang sejahtera dan bermartabat di tataran dunia.
@dokter_absor
Menanti Sang Elang Terbang Tinggi
By Ahmad Cholis Hamzah*
Dulu pada tahun 1950 an dunia perminyakan mengenal istilah “The Seven Sisters” yang di populerkan oleh Enrico Mattei Kepala perusahaan minyak Negara Itali. Dia menjelaskan istilah itu adalah tentang tujuh perusahaan minyak dunia yaitu Anglo Persoan Oil Company – yang sekarang bernama BP; Gulf Oil, Standard Oil of California atau SoCal; Texaco – yang sekarang bernama Chevron, Royal Dutch Shell; Standard oil of New Jersey atau Esso dan Standard Oil Company of New York – yang sekarang bernama ExxonMobil. Kartel ketujuh perusahaan dari Amerika dan Eropa ini menguasai industri minyak global sejak pertengahan tahun 1940 an sampai tahun 1970 an; menguasai hampir 85% lebih cadangan minyak dunia – yang sebagian besar berada di Timur Tengah. Kartel ini juga yang menguasai dan menentukan harga minyak dunia.
Kedigjayaan the Seven Sisters ini mulai menurun ketika Negara-negara penghasil minyak dunia membentuk OPEC dimana dulu Indonesia menjadi salah satu anggotanya. OPEC ini menjadi tandingan kartel ketujuh perusahaan minyak dunia ini dalam hal menentukan jumlah produksi minyak dan tentunya harga minyak dunia. Dalam perang teluk tahun 1973 an, OPEC menggunakan pengaruhnya dengan mengeluarkan embargo minyak dunia.

Dunia secara cepat berubah, Negara-nagara dulu yang perekonomiannya dianggap kecil, mulai tumbuh cepat dan bangkit menjadi Negara-negara maju seperti China, Brazil dan India. Dalam industri minyak pun ada perubahan yang drastik, Rusia setelah pecahnya Uni Sovyet bangkit menjadi raja minyak untuk daerah utara dan timur Eropa, pipa-pipa minyak dan gas Rusia sampai masuk ke Negara Turki. Di daerah timur dunia ini muncul Negara China yang pertumbuhan ekonominya tercepat di dunia dan memiliki devisa Negara yang besar yang menjadikan negaranya Negara paling kaya ke dua di dunia. China yang “hungry for oil” atau memerlukan supply minyak yang besar untuk menopang pertumbuhan ekonominya, mulai melebarkan sayapnya ke berbagai Negara seperti di Afrika dan Asia. Di barat dan selatan tentunya perusahaan-perusahaan lama Amerika masih bercokol kuat. Jadi sekarang publik dunia menyaksikan: di Utara ada “Russian Bear” atau Beruang Rusia, di Selatan ada “American Eagle” atau Elang Amerika; dan di Timur ada “Chinese Dragon” atau Naga China yang menguasai belantara industri minyak dunia.
Sekarang apakah Indonesia yang memiliki PERTAMINA yang bercokol di negeri tercinta ini sejak lama hanya diam di pinggir jalan menonton hiruk pikuk perubahan dunia ini?. Jangan mau! Perusahaan minyak Negara ini sudah saatnya tidak boleh menjadi raja di kandangnya sendiri; sudah saatnya mulai merambah dunia luas. Sudah saatnya juga PERTAMINA menjawab cibiran dunia bahwa SDM Indonesia belum mampun menangani industry minyak dunia. Tengok saja Negara serumpun kita yang kecil; tapi sudah memiliki perusahaan minyak yang mendunia – padahal PERTAMINA memiliki pengalaman yang lebih dari perusahaan minyak Malaysia ini.
Apabila PERTAMINA bisa menjadi perusahaan yang professional dan efisien, lepas dari image sarang korupsi atau perusahaan “Cash Cow” atau sapi perah kepentingan politik sesaat; maka mungkin sekali suatu saat “Indonesian Eagle” atau Garuda Indonesia juga mampu menjadi pemain kunci dan penentu industri minyak dunia.
*Alumni University of London, Universitas Airlangga Surabaya
Dan dosen pada STIE PERBANAS Surabaya.
Sarini, sang Kartini pengharum negeri
By Ahmad Cholis Hamzah*
Seringkali kita menonton tayangan TV luar negeri misalnya Amerika Serikat kejadian-kejadian yang sangat tragis misalkan kebakaran, kecelakaan pesawat, tabrakan mobil, orang yang terseret arus dsb, dan ada seseorang yang dengan ketulusan hatinya menolong orang-orang yang terlibat dalam kejadian tragis itu sekaligus menyelamatkan jiwa mereka. Orang seperti ini langsung mendapatkan penghargaan dari Gubernur, kepala kepolisian atau tokoh-tokoh masyarakat sebagai pahlawan. Semua media elektronik dan cetak menyiarkan aksi heroik orang seperti ini berhari-hari dan seringkali menjadi headline.

Baru-baru ini media Taiwan melaporkan aksi kepahlawanan seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bernama Sarini umur 35 tahun dari Indramayu Jawa Barat yang menyelamatkan jiwa majikannya, seorang warga Taiwan lanjut usia bernama Tsai tenggelam di sungai yang arusnya deras. Tsai – pada tanggal 17 April 2013 yang lalu tiba-tiba melompat dari kursi rodanya terjun ke sungai; dan Sarini yang sedang menjaga Tsai dan tidak bisa berenang itu dengan tulus ikhlas demi kemanusiaan terjun ke sungai dan berhasil memeluk nenek Tsai dan bergolak didalam air selama 10 menit dan akhirnya menyelamatkan jiwa nenek ini meskipun tangan dan kaki Sarini cedera akibat tindakan kebajikannnya.
Tindakan heroik Sarini yang disiarkan oleh stasiun televisi dan media cetak tersebar luas dan menimbulkan respons yang luar biasa dari kalangan luas warga Taiwan. Karena meskipun Sarini baru saja bekerja sebulan di keluarga Tsai di Taiwan ini, tapi dia sudah menganggap nenek Tsai sebagai keluarga sendiri. Karena itu aksi heroik Sarini dan keikhlasan dia untuk mencintai majikannya ini banyak mendapat sorotan positif dari media setempat dan dielu-elukan menjadi pahlawan perempuan.
Kepala Pekerjaan dan Pelatihan Komite Buruh Taiwan Lin San-gui, Wakil Kepala Camat Kabupaten Changhua Yang Zhang Zhong, dan Kepala Kantor Perwakilan Indonesia untuk Taipei Ahmad Syafri Nurmatias, pada 22 April berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk keduanya yang dirawat di rumah sakit. Baik Lin Sangui dan Yang Zhang Zhong memuji dan menyatakan terkesan dengan perbuatan Sarini. Meskipun baru sebulan lebih bekerja di Taiwan, dia mencintai pasien seperti keluarga sendiri. Mereka juga berharap Sarini cepat sembuh dan memberi Sarini hadiah dan penghargaan sebagai tanda simpatik.
Sebenarnya ada banyak TKI kita yang bekerja di luar negeri memiliki jiwa sosial yang tinggi seperti Sarini ini; mereka ini meskipun berada jauh dari tanah air, tapi masih memegang teguh adat istiadat Indonesia yang santun terhadap sesama tanpa melihat latar belakang suku, agama dan ras bangsa; mereka sejatinya telah menjadi “Diplomat” bangsa yang ikut mengharumkan nama bangsa dengan cara mereka sendiri.
Tentu tidak ada dalam pikiran Sarini untuk minta dihargai atas perbuatan mulianya. Namun selayaknya kita sebagai bangsa tidak boleh melihat dengan mata sebelah kepada orang seperti Sarini. Selayaknya Sarini mendapatkan perhatian yang tulus dari seluruh anak bangsa ini karena tingdakannya yang mulia.
Sayang sekali tidak banyak media kita di tanah air ini yang meliput tindakan Sarini ini dengan liputan “Breaking News”; sehingga masyarakat tidak memiliki informasi yang baik tentang tindakan positif warga Negara Indonesia diluar negeri. Media kita penuh dengan berita gossip dan rumor para selebritis, penangkapan politisi dan pejabat pemerintah yang korup, atau perkelahian antar pelajar dan desa. Kalau toh ada berita tentang TKI kita di luar negeri, berita itu hanya tentang tindakan kriminal yang dilakukan mereka di luar negeri. Menurut saya untuk mengharumkan nama bangsa, sejatinya kita tidak boleh mempraktekkan “bad news is good news”. Good news tentang anak bangsa seperti Sarini ini perlu di pertontonkan kepada khayalak.
Saya berkhayal, Menteri Tenaga Kerja Indonesia, atau Duta Besar Indonesia untuk Taiwan, atau MUI atau Pimpinan Organisasi Masyarakat, atau para anggota DPR/DPRD yang sedang studi banding, atau para tokoh aktivis LSM dsb dsb, Mengalungkan kalungan bunga, memberikan penghargaan kepada Sarini, dan diliput luas di media cetak atau elektronik, seperti yang terjadi di Amerika Serikat atau di Negara negara lain. Alangkah bangganya bangsa ini.
*Alumni University of London, Universitas Airlangga Surabaya dan dosen pada STIE PERBANASA Surabaya.
Sudah saatnya..
By Akhyari Hananto
Ada pemandangan yang sangat mencolok mata pagi ini ketika saya mengisi Pertamax di sebuah SPBU di Surabaya. Tepat ketika petugas Pertamina selesai mengisi tanki mobil saya (yang bukan mobil mewah), seorang penjual tahu dan arem-arem menghampiri saya yang sedang mengambil uang dari dompet untuk membayar BBM.
Saya mengamati orang ini sebentar.
Bapak ini belum cukup tua, mungkin sekitar 45 tahun-an, badannya kecil dan agak kurus, bersandal jepit, bercelana panjang, berpeci, dan berbaju putih lengan panjang. Bapak ini sengaja berpakaian rapi untuk (sekedar) berjualan tahu dan arem-arem berkeliling berjalan kaki. Bapak ini tidak punya motor seperti para penjual lain yang dengan mudah berkeliling kemanapun untuk menjual jajanannya. Bapak ini mungkin hanya memakai listrik skala terkecil dengan pemakaian sangat minim di rumahnya.
Sosok pak Susilo (namanya) ini adalah korban langsung ketidakadilan dalam subsidi BBM dan listrik. Dia dan keluarganya tidak mendapatkan manfaat langsung dari subsidi raksasa yang digelontorkan dari anggaran tahunan pemerintah. Jumlahnya sangat raksasa. Hampir Rp. 200,000,000,000,000 ! (Baca : Rp. 200 trilyun), nilai yang tak terbayangkan oleh saya, apalagi oleh pedagang asongan seperti pak Susilo.

Kalau anda jalan-jalan di Jawa Timur menggunakan kendaraan roda empat, anda akan merasakan apa yang saya rasakan selama ini. Hampir seluruh ruas jalan utama di Jawa Timur (termasuk kota2 besar seperti Surabaya, Sidoarjo, Malang, dll) mengalami kerusakan, entah bergelombang, berlubang, atau kualitas jalan yang kurang memadai. Jangan bermimpi punya Ferrari dan ngebut Surabaya-Madiun, bahkan mobil saya yang ber-ground clearance lumayan tinggi pun tak mampu berlama-lama dipacu dengan kecepatan tinggi. Ini jugalah korban langsung subsidi raksasa BBM. Tak banyak lagi anggaran tersisa untuk memperbaiki dan membangun jalan.
Pendidikan, fasilitas kesehatan, pembangunan jalan, rel kereta, pelabuhan, akan terlalu panjang menulis ‘korban korban’ lain.

Salah satu korban ’terpenting’ yang dilupakan banyak orang adalah, defisit anggaran. Kalau anggaran sudah defisit, maka siapapun pasti akan dengan mudah menerka korban berikutnya…yakni utang luar negeri. Beban utang yang terus menumpuk ini, akan menjadi beban anak-anak kita di masa depan. Sungguh tidak adil. Anak-anak kita yang ‘tak tahu apa-apa’ harus memikul beban utang, hanya karena kita yg hidup saat ini ‘malas’ menanggung beban kenaikan harga BBM. Sungguh ketidakadilan lintas generasi yang mengerikan!
Saya berhenti berpikir, dan kemudian membeli 10 tahu dan 5 arem-arem dan pak Susilo dan menyerahkan Rp. 20 ribu. Bukan uang kecil untuk pak Susilo.
Dan ketika saya mulai beranjak pergi, sebuah Toyota Fortuner keluaran baru berwarna putih berhenti dan…mengisi Premium. Si empunya adalah anak muda 20-an tahun, mungkin akan menjemput pacarnya, atau sekedar kongkow, entahlah. Dan yang jelas, negara memberikan subsidi kepada si pemuda kaya itu.
Sungguh, sebuah ketidakadilan lintas generasi yang mengerikan!
(Foto : Republika)
Muslimah Festival by FKM UI
Ada kegiatan seru di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Check this out.
Tema Kegiatan
I am Muslimah, beautiful, smart, healthy, and shalihah
Tujuan Kegiatan
è Memupuk rasa bangga sebagai seorang muslimah yang berkarakter (cantik, cerdas, sehat, shalihah)
è Mengajak muslimah untuk menjaga kecantikan, kecerdasan, kesehatan dan keshalihan diri menuju pernikahan
è Melatih dan membudayakan peran muslimah dalam memunculkan bakat dan potensi diri muslimah di berbagai bidang
è Mengajak muslimah dan wanita pada umumnya untuk tanggap mengenai isu pelecehan seksual terhadap perempuan saat ini
Acara Festival:
- 1. Bazar Muslimah
Waktu : Rabu-Sabtu, 1-3 Mei 2013
Tempat : Bawah Pohon Mangga (BPM) FKM UI
Tema : Khazanah muslimah, perhiasan dunia dan surga
Bazar dengan jenis dan kualitas terbaik menyediakan berbagai kebutuhan dalam bentuk makanan, buku, pernak-pernik, elektronik, dan konsultasi kecantikan dan kesehatan. Indikator keberhasilan dari bazar ini adalah dilihat dari antusias pengunjung yang dapat dilihat dari jumlah pengunjung mencapai 150 orang setiap harinya dan keuntungan yang mencapai Rp 2.000.000,00.
2. Lomba Muslimah
- Lomba Essay
Pendaftaran : 8-24 April 2013
Batas Pengumpulan : 26 April 2013
Lomba essay kali ini bertema “Hijabku, Perisai Kehormatanku” memuat gagasan inovatif sebagai solusi dalam menjawab fenomena maraknya kasus pelecehan seksual terhadap wanita saat ini. Output yang diinginkan dari lomba ini adalah mendapatkan berbagai gagasan atau ide inovatif yang dapat dikemas serta diajukan kepada pihak terkait (Kementerian Pemberdayaan Perempuan ataupun Komisi Perlindungan Anak dan Perempuan). Indikator keberhasilan dari lomba ini dilihat dari jumlah karya ilmiah yang diterima mencapai 50 essay.
Syarat Peserta :
Peserta adalah perempuan muslimah berstatus mahasiswa/pelajar/umum
Pendaftaran :
- Pendaftaran lomba esai dibuka pada tanggal 8-24 April 2013
- Peserta wajib melakukan pendaftaran melalui sms dengan format: Mufest_Esai_Nama Lengkap_asal universitas/sekolah/instansi kirim ke Fuzna (085292168515)
- Setelah mendapat konfirmasi, peserta dikenai biaya pendaftaran sebesar Rp. 25.000, – (dua puluh lima ribu rupiah) dan dikirim melalui rekening BNI 0227525668 a.n. Desy Safitri paling lambat pada hari terakhir pendaftaran
- Setelah mentransfer biaya pendaftaran, peserta harus mengkonfirmasi kepada Fuzna (085292168515) dengan mencatumkan nama dan tanggal pembayaran. Scan bukti pembayaran dapat dilampirkan pada saat pengiriman karya.
Hadiah :
- Juara 1 Rp 500.000,- & sertifikat
- Juara 2 Rp 300.000,- & sertifikat
- Juara 3 Rp 200.000,- & sertifikat
Ketentuan :
- Tema esai “Hijabku, perisai kehormatanku”
- Panjang esai maksimal 500-800 kata
- Orisinil, belum pernah dipublikasikan, tidak mengandung SARA.
- Dikirim dalam bentuk softcopy dengan format sebagai berikut:
- Jenis File: Microsoft Word dengan ekstensi file .doc
- Font: Times New Roman (12 pt)
- Ukuran Kertas: A4
- Margin: Left: 4, Right: 3, Top: 3 cm, Bottom: 3 cm
- Spasi: 1,5. Essai berbentuk opini dan sesuai dengan tema
- Dikirim melaui email mufest.2013@gmail.com
Pengumuman pemenang
- Dewan juri akan menetapkan juara 1, 2, dan 3
- Pemenang akan diumumkan pada acara talkshow muslimah festival
- Setiap peserta yang telah mengirimkan hasil karyanya akan mendapatkan sertifikat dari panitia.
- Lomba Desain Busana Muslimah
Pendaftaran : 8-24 April 2013
Batas Pengumpulan : 26 April 2013
Tema yang diusung dalam lomba desain busana muslimah kali ini adalah “Syar’i, cantik, mempesona dengan corak budaya dalam berhijab dengan paduan gaya modern” berupa desain gambar tangan busana-busana muslimah syar’i. Indikator keberhasilan dari lombaa ini dilihat dari jumlah desain yang diterima mencapai 50 desain.
Syarat Peserta :
Peserta adalah perempuan muslimah berstatus pelajar/mahasiswa/umum
Pendaftaran :
- Pendaftaran lomba desain dibuka pada tanggal 8-24 April 2013
- Peserta wajib melakukan pendaftaran melalui sms dengan format: Mufest_Desain_Nama Lengkap_asal universitas/sekolah/instansi kirim ke Nurul (083807954981)
- Setelah mendapat konfirmasi, peserta dikenai biaya pendaftaran sebesar Rp. 25.000, – (dua puluh lima ribu rupiah) dan dikirim melalui rekening BNI 0227525668 a.n. Desy Safitri paling lambat pada hari terakhir pendaftaran
- Setelah mentransfer biaya pendaftaran, peserta harus mengkonfirmasi kepada Nurul (083807954981) dengan mencatumkan nama dan tanggal pembayaran. Scan bukti pembayaran dapat dilampirkan pada saat pengiriman karya
Hadiah :
- Juara 1 Rp 500.000,- & sertifikat
- Juara 2 Rp 300.000,- & sertifikat
- Juara 3 Rp 200.000,- & sertifikat
Untuk pendaftaran via sms ketik MuFest_essay_nama lengkap_asal kirim ke 085292168515
Ketentuan Lomba :
- Tema desain “ Syar’i, cantik, mempesona, dengan corak budaya dalam berhijab, dengan paduan gaya modern”
- Hasil karya sesuai dengan tema
- Sketsa dibuat dan diwarnai dengan tangan
- Hasil sketsa di scan maksimal dengan ukuran 1-2 MB
- Desain lengkap dengan rincian jenis kain yang digunakan untuk menjahit
- Karya disertai dengan file berisi nama peserta, judul desain, dan deskripsi dari desain yang dibuat (cerita singkat) dalam A4 (maksimal 2 lembar, margin atas dan bawah 3 cm; margin kiri 4 cm; margin kanan 3 cm; huruf Times New Roman; ukuran 12 poin; rata kiri-kanan (justify); spasi 1,5)
- Karya hasil pribadi, orisinil, bukan plagiarism, dan belum pernah di ikut sertakan di lomba manapun
Pengumpulan :
- Pengumpulan karya dalam bentuk softcopy melalui email ke alamat mufest.2013@gmail.com dengan subjek: Nama Lengkap_Lomba yang diikuti (co. Putri Anisa_Lomba Desain)
- Pengumpulan karya dimulai tanggal 8-21 April 2013
Pengumuman Pemenang :
- Dewan juri akan menetapkan juara 1, 2, dan 3
- Pemenang akan diumumkan pada acara talkshow muslimah festival
- Setiap peserta yang telah mengirimkan hasil karyanya akan mendapatkan sertifikat dari panitia
- Lomba Fotografi
Pendaftaran : 8-24 April 2013
Batas Pengumpulan : 26 April 2013
Lomba fotografi ini bertemakan ” Alam, Inspirasi Cantik dan Shalihah Seorang Muslimah” dengan konten di dalamnya meliputi pesona alam ataupun fenomena-fenomena atau gambaran dari tema yang ditentukan. Indikator keberhasilan dari lomba ini dilihat dari jumlah foto yang diterima mencapai 50 foto.
Syarat Peserta :
- Peserta adalah muslimah berstatus mahasiswa/pelajar/umum
- Foto yang dilombakan merupakan karya perorangan peserta
- Peserta wajib memahami lomba dan menyepakati seluruh ketentuan lomba
- Dapat mengikutsertakan maksimal 2 karya (hanya salah satu karya yang menjadi juara untuk peserta yang sama)
Pendaftaran :
- Pendaftaran lomba fotografi dibuka pada tanggal 8-24 April 2013
- Peserta wajib melakukan pendaftaran melalui sms dengan format: Mufest_Fotografi_Nama Lengkap_asal universitas/sekolah/instansi ke Desy (083873142896)
- Setelah mendapat konfirmasi, peserta dikenai biaya pendaftaran sebesar Rp. 25.000, – (dua puluh lima ribu rupiah) dan dikirim melalui rekening BNI 0227525668 a.n. Desy Safitri paling lambat pada hari terakhir pendaftaran.
- Setelah mentransfer biaya pendaftaran, peserta harus mengkonfirmasi pembayaran kepada Desy (083873142896) dengan mencantumkan nama dan tanggal pembayaran
Pengumpulan :
- Pengumpulan karya dalam bentuk softcopy melalui email dengan alamat email pengirim yang aktif
- Pengumpulan karya tanggal 8-26 April 2013
- Karya di kirim ke alamat mufest.2013@gmail.com dengan subjek: Nama Lengkap_Lomba yang diikuti (co. Putri Anisa_Lomba Fotografi)
Ketentuan Lomba:
- Foto lomba adalah original yang merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah diikutkan dalam lomba sejenis
- Tema foto “Pesona Alam Inspirasi Cantik dan Sehatmu”
- Jenis kamera bebas
- Peserta diijinkan melakukan pengolahan digital sebatas saturation, brightness, dan contrass dan tidak diperkenankan melakukan penambahan atau pengurangan konten foto
- Foto dalam format JPG dengan sisi panjang 1500 skala 6
- Karya disertai dengan file berisi nama peserta, judul, lokasi pemotretan dan narasi foto dalam A4 (maksimal 2 lembar, margin atas dan bawah 3 cm; margin kiri 4 cm; margin kanan 3 cm; huruf Times New Roman; ukuran 12 poin; rata kiri-kanan (justify); spasi 1,5)
- Foto yang sudah dikirimkan menjadi hak milik panitia dan keputusan juri tidak dapat diganggu gugat
- Hasil karya tidak boleh berbau pornografi, menyinggung SARA dan melanggar norma agama.
Pengumuman pemenang
- Dewan juri akan menetapkan juara 1, 2, dan 3
- Pemenang akan diumumkan pada acara talkshow muslimah festival
- Setiap peserta yang telah mengirimkan hasil karyanya akan mendapatkan sertifikat dari panitia
- Lomba Pidato
Pendaftaran : 8-24 April 2013
Batas Pengumpulan : 26 April 2013
Lomba pidato ini mengangkat tema “Aku Bangga Menjadi Seorang Muslimah” dengan peserta berasal dari berbagai fakultas, universitas, dan sekolah di Jabodetabek. Indikator keberhasilan dari lomba ini adalah jumlah peserta mencapai 25 orang.
Syarat Peserta :
Peserta adalah perempuan muslimah berstatus pelajar/mahasiswa/umum
Pendaftaran :
- Pendaftaran lomba pidato dibuka pada tanggal 8-24 April 2013
- Peserta wajib melakukan pendaftaran melalui sms dengan format: Mufest_Desain_Nama Lengkap_asal universitas/sekolah/instansi kirim ke Hanan (085715803473)
- Setelah mendapat konfirmasi, peserta dikenai biaya pendaftaran sebesar Rp. 25.000, – (dua puluh lima ribu rupiah) dan dikirim melalui rekening BNI 0227525668 a.n. Desy Safitri paling lambat pada hari terakhir pendaftaran
- Setelah mentransfer biaya pendaftaran, peserta harus mengkonfirmasi kepada Hanan (085715803473) dengan mencatumkan nama dan tanggal pembayaran. Scan bukti pembayaran dapat diberikan pada saat lomba.
Pelaksanaan Lomba:
Lomba pidato akan dilaksanakan pada tanggal 1 Mei 2013
Ketentuan Lomba:
1.Tema lomba pidato “Aku Bangga Menjadi Muslimah”
2.peserta menyiapkan naskah pidato yang sudah diketik pada kertas A4 (margin atas dan bawah 3 cm; margin kiri 4 cm; margin kanan 3 cm; huruf Times New Roman; ukuran 12 poin; rata kiri-kanan (justify); spasi 1,5).
3.Peserta menyerahkan naskah pidato sebanyak 4 rangkap (1 asli dan 3 fotocopy) pada hari H lomba pidato kepada panitia.
4.Naskah pidato menjadi hak milik panitia dan keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
Pengumuman pemenang
1.Dewan juri akan menetapkan juara 1, 2, dan 3.
2.Pemenang akan diumumkan pada acara talkshow muslimah festival.
Hadiah :
- Juara 1 Rp 500.000,- & sertifikat
- Juara 2 Rp 300.000,- & sertifikat
- Juara 3 Rp 200.000,- & sertifikat
3. Talk Show Pra-Nikah
Waktu : Sabtu, 4 Mei, 09.00-13.00
Tempat : Aula A FKM UI
Tema : “Preparing for the Prepared”
Talk show berupa tatap muka yang membahas tentang mempersiapkan diri sebaik mungkin menuju pernikahan. Persiapan menuju pernikahan bukan hanya sekedar materi semata, melainkan juga persiapan dalam berbagai hal seperti kesehatan, baik fisik ataupun psikologis, kecantikan luar dan dalam, serta bagaimana persiapan-persiapan manajemen kehidupan setelah pernikahan nantinya sebagai bekal menuju pernikahan seiring penantian sehingga diharakan peserta memiliki ilmu dalam hal mempersiapkan segala yang terbaik dalam pernikahan, selain itu juga mendapatkan ilmu dan pengalaman dari beberapa narasumber. Talk show ini disertai dengan pemutaran sebuah film pendek tentang tema yang dibahas dalam talkshow tersebut. Indikator keberhasilan dari kegiatan ini dilihat dari antusiasme peserta terhadap talkshow ini yang ditunjukkan dengan jumlah peserta talkshow mencapai 300 orang.
Menghadirkan
- Asma Nadia, penulis buku ternama
- Bunda Noveldy, penulis buku ‘Menikah Untuk Bahagia’

