Wayan, Made, Nyoman, Ketut, Ida Bagus..
Jika Anda sedang berada di Bali, Anda tentu sering mendengar nama-nama khas Bali mulai Wayan, Made, Nyoman, Ketut, Ida Bagus, dan sebagainya. Semua nama itu ternyata ada artinya.
Kita mulai dulu dengan sebutan I dan Ni pada nama-nama orang Bali. Huruf I di depan nama Wayan misalnya, adalah kata sandang yang bermakna laki-laki. Sementara kata sandang penanda kelamin perempuan adalah Ni. I dan Ni juga bermakna seorang lelaki dan wanita dari keluarga masyarakat kebanyakan, tidak berkasta atau biasa disebut orang jaba. Jika ia terlahir di keluarga penempa besi, maka orang Bali ini bernama Pande. Bila di depan Wayan gelarnya Ida Bagus, ia tentu terlahir di keluarga Brahmana. Ida Bagus berarti yang Tampan atau Terhormat. Jika saja ia digelari Anak Agung, maka ia lahir di keluarga bangsawan.

Nama Wayan berasal dari kata “wayahan” yang artinya yang paling matang. Titel anak kedua adalah Made yang berakar dari kata “Madia” yang artinya tengah. Anak ketiga dipanggil Nyoman yang secara etimologis berasal dari kata “uman” yang bermakna “sisa” atau “akhir”. Jadi menurut pandangan hidup orang Bali, sebaiknya sebuah keluarga memiliki tiga anak saja. Setelah beranak tiga, kita disarankan untuk lebih “bijaksana”. Namun zaman dahulu, obat herbal tradisional kurang efektif untuk mencegah kehamilan, coitus interruptus tidak layak diandalkan, dan aborsi selalu dipandang jahat, sehingga sepasang suami istri mungkin saja memiliki lebih dari tiga anak.
Anak keempat gelarnya Ketut. Ia berasal dari kata kuno “Kitut” yang berarti sebuah pisang kecil di ujung terluar dari sesisir pisang. Ia adalah anak “bonus” yang tersayang. Karena program KB yang dianjurkan pemerintah, semakin sedikit orang Bali yang bernama Ketut. Itu sebabnya ada kekhawatiran dari sementara orang Bali akan punahnya sebutan kesayangan ini.
Menurut situs balirustique.com, orang Bali memiliki sebuah tabu atau pantangan bahwa petani tidak boleh menyebut kata tikus, yang di Bali disebut bikul, jika sedang ada di sawah. Menyebut tikus di sawah, dipercaya bagai mantra yang bisa memanggil tikus. Untuk itu jika sedang di sawah, orang memanggilnya dengan julukan spesial ” Jero Ketut”. Ia bermakna tuan kecil. Ini berangkat dari pandangan bahwa tikus bagimanapun juga adalah bagian dari keseimbangan alam.
Bila keluarga berencana gagal, dan sebuah keluarga memiliki lebih dari empat anak, maka mulai dari anak kelima, orang Bali mengulang siklus titel di atas. Anak kelima bergelar Wayan, keenam Made, dan seterusnya.
Namun jika bicara lebih rinci, ketiga titel hirarki kelahiran orang Bali memiliki sinonim; untuk Wayan: Putu, Kompiang, atau Gede; untuk Made: Kadek atau Nengah; untuk Nyoman: Komang. Sementara nama Ketut yang istimewa tak bersinonim.
Seperti orang Jawa, orang Bali tidak memiliki nama marga atau nama keluarga (family name). Jadi kalau dilihat dari kaca mata orang barat, orang Bali hanya memiliki first name tanpa family name. Konon ini memudahkan orang untuk menyamar di waktu perang. Bahkan bila terpaksa, setelah kekalahan militer, seorang bangsawan bisa mengaku sebagai orang kebanyakan. Dan seluruh keturunannya pun terpaksa memakai titel I atau Ni.
Meski tidak mengenal nama marga atau fam, ada juga orang Bali yang yang turun temurun dengan jelas menambahkan nama marga atau sub marga sepeti Dusak, Pendit, dan lain lain di belakang nama depan . Misalnya saja (hanya rekayasa), Wayan Sujana Pendit. Di jaman modern ketika nama keluarga jadi penting untuk urusan paspor atau kalau tinggal di luar negeri, beberapa keluarga Bali yang progresif membuat nama marga baru yang biasanya diambil dari nama seorang ayah yang berpendidikan tinggi dan “sukses”.
Banyak hal yang berubah di Bali sejak kemerdekaan Indonesia. Bila di zaman dulu orang menamai anaknya sekehendak hati, sering tanpa arti, atau hanya onomatope, di zaman sekarang ini, orang-orang mulai ramai memakai nama yang berasal dari bahasa Sanskerta. Ada juga nama orang Bali kini yang sudah ‘bernuansa’ barat seperti misal I Ketut Bobby atau Ni Luh Ayu Cindy.
(Berbagai sumber)
Indonesia is in the Brave New World
Civilization 5: Brave New World adding Indonesia, Morocco
by Steve Watts
Firaxis has announced two more of the nine cultures being added to Civilization 5′s Brave New World expansion. Indonesia and Morocco will join the set, joining Poland, Brazil, Assyria, Zulu, and Portugal, with two civilizations still remaining to be revealed.
Indonesia will be led by Gajah Mada, the Prime Minister of the Majapahit Empire from the 14th century. They’ll get a bonus for taking to the seas, as your first three cities formed on new continents get two luxury resources from the Spice Islanders ability. It also replaces the swordsman with the Kris Swordsman, who gets a random upgrade after the first combat, and the Candi replaces the Garden, complete with a faith bonus.

Morocco is led by Ahmad al-Mansur. It is centered around the new trade route mechanics coming in Brave New World, since they get bonuses to gold and culture for each external trade route from the Gateway to Africa ability. Cavalry is replaced by Berber Cavalry, which gets combat bonuses on home turf or on desert. The Kasbah improvement grants extra defense, food, production, and gold to desert tiles as well.
From Hollywood to Cannes
Indonesian Student Achieves Big in Foreign Countries
LOS ANGELES, Calif. – April 18, 2013 – Roland Wiryawan, a recent graduate from University of Southern California, is set to visit Cannes from May 14 to May 26. His visit to Cannes will be his new stepping-stone in the world of cinematic arts as his last short film at USC School of Cinematic Arts, “Would You” is officially selected for Short Film Corner at the Cannes Film Festival.
“It is an honor for me to be able to show the world my work as a filmmaker,” said Roland. This is not the first time that his work got featured at international film festival. His three years of study at one of the most prestigious film school in the world, USC School of Cinematic Arts, has prepared him well. “Another short movie of mine called “Lee” has previously been featured at International Film Festivals in London, Toronto, and Los Angeles, among many others.”

“Filmmaking is a true passion of mine. I’ve tried other career paths, literally. I graduated from University of Indonesia majoring in Law, but I realized that it wasn’t truly my passion,” explained Roland. Before he studied abroad, Roland was also active in entertainment industry, mostly taking jobs as MC, radio announcer, and event organizer. “I still love entertainment very much, but now I want to focus on film industry,” he stated.
“Would You” is a story of two kids and young friendship before and slightly after social distinction comes and puts in different perspectives. It resonates to the problem of racism and taps into the innocence of young ones and parenthood.
Living and learning filmmaking for almost 7 years in Los Angeles, California, he still has his heart locked up for Indonesia. This year, he plans to go back and start pre-production on his first feature that incorporates Indonesian history and a modern touch, packed with adventures and actions.
At Cannes Film Festival, Roland plans to expand his horizon even more. Roland is hungry for more experience and looking forward to meeting and collaborating with other global filmmakers.
###
For more information, please visit: Festival de Cannes Official Website
Media Contact: Siera Tamihardja / +1 (206) 218 – 4477 / st.siera@gmail.com
About Would You
Would You is a poignant story about young friendship and two different worlds colliding. It depicts the ugly truth of a social issue. We are born race blind and with innocent minds, but as we grow up, our external influences can change our perceptions. Are we willing to embrace our differences?
About Roland Wiryawan
Roland Wiryawan is an avid filmmaker graduated from USC School of Cinematic Arts majoring in Film and Television Production. During his years in USC, he was a distinguished scholar, receiving scholarships from USC Asian Pacific Alumni Association and Norman Topping Student Aid Fund. Due to his contributions in the areas of leadership and service, he was the only Indonesian recipient of the prestigious USC The Order of Troy among his graduation class of 2012.
Having a deep passion in filmmaking, Roland directed a number of shorts such as Wake Up (2007), Pointe (2010), Good Night, Mr. O (2010), and LEE (2011). The latter has received praises and remarkable reviews not only from the United States, but also from other parts of the world such as Israel, United Kingdom, Hong Kong, and Indonesia.
Since its debut in 2011, Lee has been official selection for 16 film festivals in Los Angeles, San Francisco, Chicago, and France, among many others. Recently, 27th London Lesbian & Gay Film Festival, Tel-Aviv’s International LGBT Film Festival, and Asian Queer Film Festival in Japan have put LEE on their official selection in 2013.
Upon his arrival in United States of America, Roland wanted to help other minority filmmakers gain access to resources. He founded the Asian American Cinema Association at the USC School of Cinematic Arts. Though he founded this group to improve access for Asian-American filmmakers, he is active in supporting all minorities. He is passionate about fostering a global cinema community. One of his goals is to elevate and bridge Indonesia and Hollywood film industry in the near future.
We Are Relative
by Ahmad Cholis Hamzah
When I joined ASEAN-Japan youth exchange program in 1982 – together with youth leaders from ASEAN and Japan I visited Manila, the capital city of the Philippines and Bangkok, the capital city of Kingdom of Thailand. I was surprised to find the fact in Manila that pronunciation and the meaning of some words of Tagalog, the Filipino language are the same with my native Javanese and national language of Bahasa Indonesia. It seems to me that both Indonesian people and Filipino shared common words such as “anak” for child, “Lelaki” or “lalaki” for man, “Kambing” for goat, “bibir” for lip, “Aku (in Bahasa Indonesia or Malay) or “Akoy” for I, “tahan” for stop and many other similar words.

Then when I visited Bangkok, Thailand I also found the fact that Indonesians and Thais learned similar culture and literature since in the past. Both people learned from the same great civilization of India. It explains why Thais and Indonesians still read about and dance for episodes from Ramayana and Mahabrata. Like with Filipino or Malaysians, both Indonesians and Thais share names originating from Sanskrit as “Chandra, Aditya, Suriya, Sawitri, Dwi, Tri, Dewi, and Dewa”. We also share hundreds of words, although pronounce slightly different such as: “menteri” for minister, “wanita” for woman, “suami” for husband, “mitra” for partner or friend, “putra and putri” for son and daughter, and “Duta” for a representative as in “Duta Besar” (in bahasa Indonesia) that means Ambassador.
Both Indonesian and Thai students study the history of Majapahit in East Java and Sriwijaya kingdom in Sumatra Island.
Indonesia has “wayang kulit” and Thai has similar shadow puppet shows that traditionally used to play episodes from Ramayana. In both countries, such shadow puppet performances are also used by local communities/government to spread information about any issue like family planning program, rural development programs, health, and education issue using easy and simple local language which enable public understand the message.
In Thailand, people also have many dishes resembling Indonesian cuisine. For example, Thais have Thai sa-te (which is also called sa-te in Thai language). The originality, I believe, is from Indonesia. This Indonesian cuisine was one of the favourite foods of U.S President Obama during his childhood in Indonesia.
Well, once again, we are not only neighbor but we are also relative.
__
Author is an alumni of University of London,
Airlangga University Surabaya and a lecturer at Banking College
PERBANAS Surabaya, Indonesia.
Indonesian, in Mongolia
The National University of Mongolia plans to set up a study center to introduce Indonesia to the Mongolian public, says the university’s vice president, Gerelt Od Lkhagvasuren.
Muslimah Festival by FKM UI
Ada kegiatan seru di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Check this out.
Tema Kegiatan
I am Muslimah, beautiful, smart, healthy, and shalihah
Tujuan Kegiatan
è Memupuk rasa bangga sebagai seorang muslimah yang berkarakter (cantik, cerdas, sehat, shalihah)
è Mengajak muslimah untuk menjaga kecantikan, kecerdasan, kesehatan dan keshalihan diri menuju pernikahan
è Melatih dan membudayakan peran muslimah dalam memunculkan bakat dan potensi diri muslimah di berbagai bidang
è Mengajak muslimah dan wanita pada umumnya untuk tanggap mengenai isu pelecehan seksual terhadap perempuan saat ini
Acara Festival:
- 1. Bazar Muslimah
Waktu : Rabu-Sabtu, 1-3 Mei 2013
Tempat : Bawah Pohon Mangga (BPM) FKM UI
Tema : Khazanah muslimah, perhiasan dunia dan surga
Bazar dengan jenis dan kualitas terbaik menyediakan berbagai kebutuhan dalam bentuk makanan, buku, pernak-pernik, elektronik, dan konsultasi kecantikan dan kesehatan. Indikator keberhasilan dari bazar ini adalah dilihat dari antusias pengunjung yang dapat dilihat dari jumlah pengunjung mencapai 150 orang setiap harinya dan keuntungan yang mencapai Rp 2.000.000,00.
2. Lomba Muslimah
- Lomba Essay
Pendaftaran : 8-24 April 2013
Batas Pengumpulan : 26 April 2013
Lomba essay kali ini bertema “Hijabku, Perisai Kehormatanku” memuat gagasan inovatif sebagai solusi dalam menjawab fenomena maraknya kasus pelecehan seksual terhadap wanita saat ini. Output yang diinginkan dari lomba ini adalah mendapatkan berbagai gagasan atau ide inovatif yang dapat dikemas serta diajukan kepada pihak terkait (Kementerian Pemberdayaan Perempuan ataupun Komisi Perlindungan Anak dan Perempuan). Indikator keberhasilan dari lomba ini dilihat dari jumlah karya ilmiah yang diterima mencapai 50 essay.
Syarat Peserta :
Peserta adalah perempuan muslimah berstatus mahasiswa/pelajar/umum
Pendaftaran :
- Pendaftaran lomba esai dibuka pada tanggal 8-24 April 2013
- Peserta wajib melakukan pendaftaran melalui sms dengan format: Mufest_Esai_Nama Lengkap_asal universitas/sekolah/instansi kirim ke Fuzna (085292168515)
- Setelah mendapat konfirmasi, peserta dikenai biaya pendaftaran sebesar Rp. 25.000, – (dua puluh lima ribu rupiah) dan dikirim melalui rekening BNI 0227525668 a.n. Desy Safitri paling lambat pada hari terakhir pendaftaran
- Setelah mentransfer biaya pendaftaran, peserta harus mengkonfirmasi kepada Fuzna (085292168515) dengan mencatumkan nama dan tanggal pembayaran. Scan bukti pembayaran dapat dilampirkan pada saat pengiriman karya.
Hadiah :
- Juara 1 Rp 500.000,- & sertifikat
- Juara 2 Rp 300.000,- & sertifikat
- Juara 3 Rp 200.000,- & sertifikat
Ketentuan :
- Tema esai “Hijabku, perisai kehormatanku”
- Panjang esai maksimal 500-800 kata
- Orisinil, belum pernah dipublikasikan, tidak mengandung SARA.
- Dikirim dalam bentuk softcopy dengan format sebagai berikut:
- Jenis File: Microsoft Word dengan ekstensi file .doc
- Font: Times New Roman (12 pt)
- Ukuran Kertas: A4
- Margin: Left: 4, Right: 3, Top: 3 cm, Bottom: 3 cm
- Spasi: 1,5. Essai berbentuk opini dan sesuai dengan tema
- Dikirim melaui email mufest.2013@gmail.com
Pengumuman pemenang
- Dewan juri akan menetapkan juara 1, 2, dan 3
- Pemenang akan diumumkan pada acara talkshow muslimah festival
- Setiap peserta yang telah mengirimkan hasil karyanya akan mendapatkan sertifikat dari panitia.
- Lomba Desain Busana Muslimah
Pendaftaran : 8-24 April 2013
Batas Pengumpulan : 26 April 2013
Tema yang diusung dalam lomba desain busana muslimah kali ini adalah “Syar’i, cantik, mempesona dengan corak budaya dalam berhijab dengan paduan gaya modern” berupa desain gambar tangan busana-busana muslimah syar’i. Indikator keberhasilan dari lombaa ini dilihat dari jumlah desain yang diterima mencapai 50 desain.
Syarat Peserta :
Peserta adalah perempuan muslimah berstatus pelajar/mahasiswa/umum
Pendaftaran :
- Pendaftaran lomba desain dibuka pada tanggal 8-24 April 2013
- Peserta wajib melakukan pendaftaran melalui sms dengan format: Mufest_Desain_Nama Lengkap_asal universitas/sekolah/instansi kirim ke Nurul (083807954981)
- Setelah mendapat konfirmasi, peserta dikenai biaya pendaftaran sebesar Rp. 25.000, – (dua puluh lima ribu rupiah) dan dikirim melalui rekening BNI 0227525668 a.n. Desy Safitri paling lambat pada hari terakhir pendaftaran
- Setelah mentransfer biaya pendaftaran, peserta harus mengkonfirmasi kepada Nurul (083807954981) dengan mencatumkan nama dan tanggal pembayaran. Scan bukti pembayaran dapat dilampirkan pada saat pengiriman karya
Hadiah :
- Juara 1 Rp 500.000,- & sertifikat
- Juara 2 Rp 300.000,- & sertifikat
- Juara 3 Rp 200.000,- & sertifikat
Untuk pendaftaran via sms ketik MuFest_essay_nama lengkap_asal kirim ke 085292168515
Ketentuan Lomba :
- Tema desain “ Syar’i, cantik, mempesona, dengan corak budaya dalam berhijab, dengan paduan gaya modern”
- Hasil karya sesuai dengan tema
- Sketsa dibuat dan diwarnai dengan tangan
- Hasil sketsa di scan maksimal dengan ukuran 1-2 MB
- Desain lengkap dengan rincian jenis kain yang digunakan untuk menjahit
- Karya disertai dengan file berisi nama peserta, judul desain, dan deskripsi dari desain yang dibuat (cerita singkat) dalam A4 (maksimal 2 lembar, margin atas dan bawah 3 cm; margin kiri 4 cm; margin kanan 3 cm; huruf Times New Roman; ukuran 12 poin; rata kiri-kanan (justify); spasi 1,5)
- Karya hasil pribadi, orisinil, bukan plagiarism, dan belum pernah di ikut sertakan di lomba manapun
Pengumpulan :
- Pengumpulan karya dalam bentuk softcopy melalui email ke alamat mufest.2013@gmail.com dengan subjek: Nama Lengkap_Lomba yang diikuti (co. Putri Anisa_Lomba Desain)
- Pengumpulan karya dimulai tanggal 8-21 April 2013
Pengumuman Pemenang :
- Dewan juri akan menetapkan juara 1, 2, dan 3
- Pemenang akan diumumkan pada acara talkshow muslimah festival
- Setiap peserta yang telah mengirimkan hasil karyanya akan mendapatkan sertifikat dari panitia
- Lomba Fotografi
Pendaftaran : 8-24 April 2013
Batas Pengumpulan : 26 April 2013
Lomba fotografi ini bertemakan ” Alam, Inspirasi Cantik dan Shalihah Seorang Muslimah” dengan konten di dalamnya meliputi pesona alam ataupun fenomena-fenomena atau gambaran dari tema yang ditentukan. Indikator keberhasilan dari lomba ini dilihat dari jumlah foto yang diterima mencapai 50 foto.
Syarat Peserta :
- Peserta adalah muslimah berstatus mahasiswa/pelajar/umum
- Foto yang dilombakan merupakan karya perorangan peserta
- Peserta wajib memahami lomba dan menyepakati seluruh ketentuan lomba
- Dapat mengikutsertakan maksimal 2 karya (hanya salah satu karya yang menjadi juara untuk peserta yang sama)
Pendaftaran :
- Pendaftaran lomba fotografi dibuka pada tanggal 8-24 April 2013
- Peserta wajib melakukan pendaftaran melalui sms dengan format: Mufest_Fotografi_Nama Lengkap_asal universitas/sekolah/instansi ke Desy (083873142896)
- Setelah mendapat konfirmasi, peserta dikenai biaya pendaftaran sebesar Rp. 25.000, – (dua puluh lima ribu rupiah) dan dikirim melalui rekening BNI 0227525668 a.n. Desy Safitri paling lambat pada hari terakhir pendaftaran.
- Setelah mentransfer biaya pendaftaran, peserta harus mengkonfirmasi pembayaran kepada Desy (083873142896) dengan mencantumkan nama dan tanggal pembayaran
Pengumpulan :
- Pengumpulan karya dalam bentuk softcopy melalui email dengan alamat email pengirim yang aktif
- Pengumpulan karya tanggal 8-26 April 2013
- Karya di kirim ke alamat mufest.2013@gmail.com dengan subjek: Nama Lengkap_Lomba yang diikuti (co. Putri Anisa_Lomba Fotografi)
Ketentuan Lomba:
- Foto lomba adalah original yang merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah diikutkan dalam lomba sejenis
- Tema foto “Pesona Alam Inspirasi Cantik dan Sehatmu”
- Jenis kamera bebas
- Peserta diijinkan melakukan pengolahan digital sebatas saturation, brightness, dan contrass dan tidak diperkenankan melakukan penambahan atau pengurangan konten foto
- Foto dalam format JPG dengan sisi panjang 1500 skala 6
- Karya disertai dengan file berisi nama peserta, judul, lokasi pemotretan dan narasi foto dalam A4 (maksimal 2 lembar, margin atas dan bawah 3 cm; margin kiri 4 cm; margin kanan 3 cm; huruf Times New Roman; ukuran 12 poin; rata kiri-kanan (justify); spasi 1,5)
- Foto yang sudah dikirimkan menjadi hak milik panitia dan keputusan juri tidak dapat diganggu gugat
- Hasil karya tidak boleh berbau pornografi, menyinggung SARA dan melanggar norma agama.
Pengumuman pemenang
- Dewan juri akan menetapkan juara 1, 2, dan 3
- Pemenang akan diumumkan pada acara talkshow muslimah festival
- Setiap peserta yang telah mengirimkan hasil karyanya akan mendapatkan sertifikat dari panitia
- Lomba Pidato
Pendaftaran : 8-24 April 2013
Batas Pengumpulan : 26 April 2013
Lomba pidato ini mengangkat tema “Aku Bangga Menjadi Seorang Muslimah” dengan peserta berasal dari berbagai fakultas, universitas, dan sekolah di Jabodetabek. Indikator keberhasilan dari lomba ini adalah jumlah peserta mencapai 25 orang.
Syarat Peserta :
Peserta adalah perempuan muslimah berstatus pelajar/mahasiswa/umum
Pendaftaran :
- Pendaftaran lomba pidato dibuka pada tanggal 8-24 April 2013
- Peserta wajib melakukan pendaftaran melalui sms dengan format: Mufest_Desain_Nama Lengkap_asal universitas/sekolah/instansi kirim ke Hanan (085715803473)
- Setelah mendapat konfirmasi, peserta dikenai biaya pendaftaran sebesar Rp. 25.000, – (dua puluh lima ribu rupiah) dan dikirim melalui rekening BNI 0227525668 a.n. Desy Safitri paling lambat pada hari terakhir pendaftaran
- Setelah mentransfer biaya pendaftaran, peserta harus mengkonfirmasi kepada Hanan (085715803473) dengan mencatumkan nama dan tanggal pembayaran. Scan bukti pembayaran dapat diberikan pada saat lomba.
Pelaksanaan Lomba:
Lomba pidato akan dilaksanakan pada tanggal 1 Mei 2013
Ketentuan Lomba:
1.Tema lomba pidato “Aku Bangga Menjadi Muslimah”
2.peserta menyiapkan naskah pidato yang sudah diketik pada kertas A4 (margin atas dan bawah 3 cm; margin kiri 4 cm; margin kanan 3 cm; huruf Times New Roman; ukuran 12 poin; rata kiri-kanan (justify); spasi 1,5).
3.Peserta menyerahkan naskah pidato sebanyak 4 rangkap (1 asli dan 3 fotocopy) pada hari H lomba pidato kepada panitia.
4.Naskah pidato menjadi hak milik panitia dan keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
Pengumuman pemenang
1.Dewan juri akan menetapkan juara 1, 2, dan 3.
2.Pemenang akan diumumkan pada acara talkshow muslimah festival.
Hadiah :
- Juara 1 Rp 500.000,- & sertifikat
- Juara 2 Rp 300.000,- & sertifikat
- Juara 3 Rp 200.000,- & sertifikat
3. Talk Show Pra-Nikah
Waktu : Sabtu, 4 Mei, 09.00-13.00
Tempat : Aula A FKM UI
Tema : “Preparing for the Prepared”
Talk show berupa tatap muka yang membahas tentang mempersiapkan diri sebaik mungkin menuju pernikahan. Persiapan menuju pernikahan bukan hanya sekedar materi semata, melainkan juga persiapan dalam berbagai hal seperti kesehatan, baik fisik ataupun psikologis, kecantikan luar dan dalam, serta bagaimana persiapan-persiapan manajemen kehidupan setelah pernikahan nantinya sebagai bekal menuju pernikahan seiring penantian sehingga diharakan peserta memiliki ilmu dalam hal mempersiapkan segala yang terbaik dalam pernikahan, selain itu juga mendapatkan ilmu dan pengalaman dari beberapa narasumber. Talk show ini disertai dengan pemutaran sebuah film pendek tentang tema yang dibahas dalam talkshow tersebut. Indikator keberhasilan dari kegiatan ini dilihat dari antusiasme peserta terhadap talkshow ini yang ditunjukkan dengan jumlah peserta talkshow mencapai 300 orang.
Menghadirkan
- Asma Nadia, penulis buku ternama
- Bunda Noveldy, penulis buku ‘Menikah Untuk Bahagia’
Indonesian Film Festival..In Australia
|
|||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||
Discover The Elegance Of Java.
Masih dengan dua jenis kompetisi, yaitu Paduan Suara dan Tari Tradisional, National Folklore Festival digelar untuk yang ke-7 kalinya pada tanggal 13-15 Maret 2013 bertempat di Auditorium Gedung IX Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Indonesia. Pada 7th National Folklore Festival kali ini, panitia yang berasal dari mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) mengambil tema Discover The Elegance Of Java. Tema tersebut diambil dengan maksud untuk membumikan dan melestarikan berbagai macam kebudayaan tari dan lagu daerah dari Pulau Jawa. National Folklore Festival adalah salah satu acara yang cukup besar di bawah bimbingan divisi Apresiasi Seni dan Budaya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Pada tahun ini, Lomba Tari Tradisional dan Paduan Suara dibagi dalam dua kategori, yaitu kategori A (untuk SMA dan sederajat) dan kategori B (untuk Universitas dan Umum) untuk masing-masing cabang lomba. Khusus untuk tahun ini, sesuai dengan tema yang ada, 7th National Folklore Festival mengundang sejumlah SMA, universitas dan sanggar tari yang berdomisili di Pulau Jawa. Peserta yang panitia terima tersebar dalam 74 kelompok (37 Tari Tradisional dan 37 Paduan Suara). Acara berlangsung meriah dari hari pertama hingga hari terakhir. Hari pertama diisi dengan lomba Paduan Suara Kategori B (Universitas dan Umum) mulai pukul 09.00 s.d 20.00. Dari kategori B, Paduan Suara dimenangkan oleh PSM Universitas Pendidikan Indonesia di posisi pertama, serta UPH Choir, dan Jinggaswara ITENAS Choir di posisi kedua dan ketiga. Hari kedua diisi lomba tari tradisional dari kategori A maupun B. Acara dimulai dari pukul 09.00 s.d 19.00. Lomba tari tradisional dari kategori A dimenangkan oleh SMAN 1 Jampangkulon B, SMAN 1 Jampangkulon A dan SMAN 5 Depok. Sedangkan dari Kategori B dimenangkan oleh Sanggar Swargaloka, Universitas Tirtayasa A sebagai juara II, dan untuk juara III diraih oleh Sanggar Antika Budaya Semarang. Untuk kategori B, juri menambah juara menjadi juara IV dan V yang diraih masing-masing oleh Sanggar Borneo Khatulistiwa dan Sanggar Tari Bali Dwipayana. Dan untuk Hari ketiga, lomba Paduan Suara untuk Kategori A pada akhirnya dimenangkan oleh SMAN 1 Blitar, SMAN 78 Jakarta dan SMAN 48 Jakarta.

Discover The Elegance Of Java. Gambaran keindahan dan kemewahan dari sebuah Pulau Jawa yang tergambar dan terbungkus dalam Paduan Suara dan Tari Tradisional di 7th National Folklore Festival Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Meeting Javanese People in Bangkok
By: Ahmad Cholis Hamzah*
Javanese people are the majority ethnic group in Indonesia; and therefore no wonder that many of Javanese people are found anywhere in Indonesian archipelago. For long time, public also know very well that Javanese community are also found in Peninsular Malaysia, and they have been in Malaysia since early times. Javanese migration to this country occurred during Dutch colonial era. They are concentrated in Perak, Johor, Selangor in Kedah, even in Kuala Lumpur. Javanese community is also found in Suriname in South America. In Singapore, approximately 50% -60% of its Malay population have some degree of Javanese ancestry.
However, not everyone in Indonesia is aware of Javanese presence in Thailand.
A reporter of detik.com – a widely read e-news portal last month (February 2013) was one of Indonesian journalists that joined a program called Media Familiarization to Thailand. They visited “Kampong Java” in the middle of Bangkok city. He was amazed when a Thai Javanese named Slamet Dariyat (= Slamet is a common Javanese name for man) greeted him and said (in Javanese language) “I am a real Thai, my father from Kendal (Central Java)”. He welcomed Indonesian journalists at the veranda of a Mosque at Sathorn area of Bangkok. My friend who the area told me that we can go to Sathorn area by BTS of Bangkok Mass Transit System to Surasak for a single trip; and the city of Javanese descent people in Bangkok is near Surasak Station.

There are approximately 3,000 Javanese people in this area and most of them are second, the third and fourth generation; and most of them are Muslims. They reside at a plot of land granted by Thai Kingdom.
These Javanese people originally came to Thailand following the visit of King Chulalongkorn to Java in 1896; at that time the Majesty King asked helps from Javanese Kings to send skilled carpenter and carvers from Java to build new Kingdom buildings. His Majesty provided residences for them. Detik.com journalist reported that there has been no clear information as to why they did not return to Indonesia. However, some people say that they preferred to stay in Thailand due to Colonial era in Indonesia.
Irfan Dahlan, a son of Kiai Haji Ahmad Dahlan – the founding father of Muhammadiyah (the second largest Muslim organization in Indonesia) in 1924 was in Pakistan to study but could not return to Indonesia, and finally decided to stay in Thailand instead and he joined with other Javanese descents to stay at Kampong Java in Bangkok. He once went to Java when Soekarno the first President of Indonesia awarded National Hero medals to his parents. Marifah Dahlan daughter of Irfan Dahlan – who also lives at Kampong Java, told Indonesian journalists that she and her families keep communicating with her families at Kauman Yogyakarta (her grandfather established Muhammadiyah at Kauman neighborhood – a Muslim neighborhood near the palace of King of Yogyakarta).
Most Thai Indonesian descents speak Thai language as they are now Thai citizens. However, they still preserve the value of Javanese and Muslim culture in Thailand.
So, it is an amazing story isn’t it? and by knowing it we are more aware that we are in ASEAN community are not only neighbours, but we are relatives.
*) Alumni of University of London, U.K, Universitas Airlangga Surabaya and a lecturer at PERBANAS (Banking College) in Surabaya, Indonesia.
KAMPOENG JAZZ IS BACK
Here comes the fifth edition of Kampoeng Jazz. Diadakan pertama kali di tahun 2008, Kampoeng Jazz (KJ) mendapat sambutan hangat dari publik dalam negeri, yang membuat konsistensi acara ini terus berlanjut sampai dengan tahun yang kelima ini. Hingga saat ini KJ tidak hanya dinikmati oleh masyarakat dalam negeri namun juga internasional yang tidak kurang dari 8000 pengunjung tercatat memadati KJ di tahun 2011. Tahun 2011 lalu, penonton KJ dimanjakan oleh penampilan luar biasa oleh musisi-musisi ternama tanah air dan internasional. Sebut saja Tesla Manaf Effendi ft. Mahagotra Ganesha yang mengkombinasikan gitar dengan gamelan bali, Yovie Widianto Fusion, dan Syaharani and the QueenFireworks (ESQI:EF) yang tampil interaktif. Tidak berhenti di situ, band asal Prancis Tahiti 80, dan penyanyi wanita asal Filipina, Sabrina juga memeriahkan Panggung Utama Kampoeng Jazz.
Sungguh sebuah kebanggaan sekaligus kehormatan bagi kami karena dapat menyuguhkan pertunjukan yang berkesan di mata pecinta musik Jazz tanah air. Panggung Utama Kampoeng Jazz merupakan puncak dari rangkaian acara kami, setelah sebelumnya kami mempersembahkan Kampoeng Jazz untuk Bandung-ku, dan Pre-event Kampoeng Jazz kepada masyarakat. Hal tersebut kami lakukan semata-mata untuk mempersiapkan Kampoeng Jazz agar lebih nyata dan berwarna. Kampoeng Jazz untuk Bandung-ku merupakan kegiatan social act dari kepanitiaan Kampoeng Jazz. Melalui Kampoeng Jazz kita dapat melihat kepedulian pemuda terhadap lingkungan, pada akhir Desember kemarin kami membersihkan bantaran sungai Cikapundung dari sampah, dan membangun tempat pembuangan sementara untuk masyarakat. Dari Kampoeng Jazz untuk Bandung-ku.
Akhir Desember kemarin juga merupakan sebuah ‘pemanasan’ bagi panitia untuk menyelenggarakan acara Utama tanggal 23 Maret nanti. Di Blitz MegaPlex Paris van Java, Pre-event Kampoeng Jazz digelar dengan sempurna. Pre-event ini dimeriahkan oleh Halfwhole Project, David Manuhutu Project feat Sandy Winarta, Accoustic Funk, dan Anugrah Aditya. Melalui audisi yang diselenggarakan saat Pre-event, juri memilih tiga band penuh bakat dan semangat untuk tampil di Panggun Utama nanti, mereka adalah 3minarets,Mojo Jojo Experiment,dan Last Minute Action
Tahun yang kelima ini, The 5th International Kampoeng Jazz mengusung tema JAZZTORICAL ”Jazz You Back to History” dimana kita sebagai pemuda Indonesia penikmat musik jazz harus berbangga hati karena Indonesia memiliki seniman jazz legendaris seperti Jack Lesmana, Buby Chen. Ermy Kulit, dan Yopie Item yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah panjang musik Indonesia. Namun nama mereka mungkin tidak akrab dengan generasi muda zaman sekarang yang lebih mengenal Tompi, Maliq and The Essentials dan musisi lainnya yang mengusung jazz-pop.
Kami mengharapkan dengan hadirnya Fariz RM Anthology ft. Indra Lesmana, Andien, Trio Lestari (Glen Fredly, Tompi, Sandi Sandoro), Chaseiro, Sondre Lerche dan Tetsuo Sakurai dapat membawa pecinta Jazz Indonesia menelusuri ruang sejarah Jazz melalui musik yang disenandungkan nanti. Andien, merupakan ikon generasi muda yang berbakat dan terus belajar. Sepanjang kariernya, Andien telah berkolaborasi dengan banyak musisi kenamaan seperti Indra Lesmana, Jeff Lorber, Jammin Zeb, Bob James, Frank Griffith, serta dengan legenda piano jazz Indonesia Buby Chen dan pelopor Indonesia progressive rock band Discus.
Sedangkan Trio Lestari yang digawangi oleh Glenn Fredly, Tompi, dan Sandy Sandoro merupakan gambaran generasi muda yang mengedepankan kualitas dalam bermusik, seolah mereformasi industri musik Indonesia saat ini. Sejak pertama kali dibentuk pada tahun 2011, Trio Lestari adalah sebuah konsep konser live. Lalu hadir Fariz RM dan Indra Lesmana yang tidak perlu diragukan lagi kontribusinya dalam sejarah musik Indonesia. Nama mereka harum dalam kenangan kita sebagai musisi, penyanyi, dan pencipta lagu yang handal. Duet mereka adalah sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu, dan pastinya akan menjadi momentum bersejarah di tanah air saat dua legenda musik Indonesia berduet dalam satu panggung hanya untuk anda.

Tidak hanya dari tanah air, Sondre Lerche musisi muda berbakat asal Norwegia akan datang dari New York untuk memanjakan pecinta musik tanah air. “Sleep on Needles”, ”Two Way Monologue” dan “Domino” adalah sebagian dari karya Sondre yang akan diperdengarkan langsung oleh sang musisi pada 23 Maret nanti. Legenda bass dari Jepang, Tetsuo Sakurai, juga akan menemani Sondre di Panggung Utama nanti. Bersama Issei Noro, Sakurai menggawangi lahirnya Cassiopea, dan menghasilkan 19 album bersama band legendaris tersebut. Kali ini, Sakurai akan memperdengarkan permainan bass kelas dunia kepada penonton Kampoeng Jazz di Indonesia.
Jangan lewatkan kesempatan emas untuk menyaksikan sederetan musisi terbaik dunia di Konser Jazz terbesar di Bandung, The 5th International Kampoeng Jazz pada 23 Maret 2013 mendatang bertempat di Kampus Iwa Koesoemasoemantri di Jalan Dipati Ukur No.4, Bandung.




