Indonesia is in the Brave New World
Civilization 5: Brave New World adding Indonesia, Morocco
by Steve Watts
Firaxis has announced two more of the nine cultures being added to Civilization 5′s Brave New World expansion. Indonesia and Morocco will join the set, joining Poland, Brazil, Assyria, Zulu, and Portugal, with two civilizations still remaining to be revealed.
Indonesia will be led by Gajah Mada, the Prime Minister of the Majapahit Empire from the 14th century. They’ll get a bonus for taking to the seas, as your first three cities formed on new continents get two luxury resources from the Spice Islanders ability. It also replaces the swordsman with the Kris Swordsman, who gets a random upgrade after the first combat, and the Candi replaces the Garden, complete with a faith bonus.

Morocco is led by Ahmad al-Mansur. It is centered around the new trade route mechanics coming in Brave New World, since they get bonuses to gold and culture for each external trade route from the Gateway to Africa ability. Cavalry is replaced by Berber Cavalry, which gets combat bonuses on home turf or on desert. The Kasbah improvement grants extra defense, food, production, and gold to desert tiles as well.
Indonesian Film Festival..In Australia
|
|||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||
KAMPOENG JAZZ IS BACK
Here comes the fifth edition of Kampoeng Jazz. Diadakan pertama kali di tahun 2008, Kampoeng Jazz (KJ) mendapat sambutan hangat dari publik dalam negeri, yang membuat konsistensi acara ini terus berlanjut sampai dengan tahun yang kelima ini. Hingga saat ini KJ tidak hanya dinikmati oleh masyarakat dalam negeri namun juga internasional yang tidak kurang dari 8000 pengunjung tercatat memadati KJ di tahun 2011. Tahun 2011 lalu, penonton KJ dimanjakan oleh penampilan luar biasa oleh musisi-musisi ternama tanah air dan internasional. Sebut saja Tesla Manaf Effendi ft. Mahagotra Ganesha yang mengkombinasikan gitar dengan gamelan bali, Yovie Widianto Fusion, dan Syaharani and the QueenFireworks (ESQI:EF) yang tampil interaktif. Tidak berhenti di situ, band asal Prancis Tahiti 80, dan penyanyi wanita asal Filipina, Sabrina juga memeriahkan Panggung Utama Kampoeng Jazz.
Sungguh sebuah kebanggaan sekaligus kehormatan bagi kami karena dapat menyuguhkan pertunjukan yang berkesan di mata pecinta musik Jazz tanah air. Panggung Utama Kampoeng Jazz merupakan puncak dari rangkaian acara kami, setelah sebelumnya kami mempersembahkan Kampoeng Jazz untuk Bandung-ku, dan Pre-event Kampoeng Jazz kepada masyarakat. Hal tersebut kami lakukan semata-mata untuk mempersiapkan Kampoeng Jazz agar lebih nyata dan berwarna. Kampoeng Jazz untuk Bandung-ku merupakan kegiatan social act dari kepanitiaan Kampoeng Jazz. Melalui Kampoeng Jazz kita dapat melihat kepedulian pemuda terhadap lingkungan, pada akhir Desember kemarin kami membersihkan bantaran sungai Cikapundung dari sampah, dan membangun tempat pembuangan sementara untuk masyarakat. Dari Kampoeng Jazz untuk Bandung-ku.
Akhir Desember kemarin juga merupakan sebuah ‘pemanasan’ bagi panitia untuk menyelenggarakan acara Utama tanggal 23 Maret nanti. Di Blitz MegaPlex Paris van Java, Pre-event Kampoeng Jazz digelar dengan sempurna. Pre-event ini dimeriahkan oleh Halfwhole Project, David Manuhutu Project feat Sandy Winarta, Accoustic Funk, dan Anugrah Aditya. Melalui audisi yang diselenggarakan saat Pre-event, juri memilih tiga band penuh bakat dan semangat untuk tampil di Panggun Utama nanti, mereka adalah 3minarets,Mojo Jojo Experiment,dan Last Minute Action
Tahun yang kelima ini, The 5th International Kampoeng Jazz mengusung tema JAZZTORICAL ”Jazz You Back to History” dimana kita sebagai pemuda Indonesia penikmat musik jazz harus berbangga hati karena Indonesia memiliki seniman jazz legendaris seperti Jack Lesmana, Buby Chen. Ermy Kulit, dan Yopie Item yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah panjang musik Indonesia. Namun nama mereka mungkin tidak akrab dengan generasi muda zaman sekarang yang lebih mengenal Tompi, Maliq and The Essentials dan musisi lainnya yang mengusung jazz-pop.
Kami mengharapkan dengan hadirnya Fariz RM Anthology ft. Indra Lesmana, Andien, Trio Lestari (Glen Fredly, Tompi, Sandi Sandoro), Chaseiro, Sondre Lerche dan Tetsuo Sakurai dapat membawa pecinta Jazz Indonesia menelusuri ruang sejarah Jazz melalui musik yang disenandungkan nanti. Andien, merupakan ikon generasi muda yang berbakat dan terus belajar. Sepanjang kariernya, Andien telah berkolaborasi dengan banyak musisi kenamaan seperti Indra Lesmana, Jeff Lorber, Jammin Zeb, Bob James, Frank Griffith, serta dengan legenda piano jazz Indonesia Buby Chen dan pelopor Indonesia progressive rock band Discus.
Sedangkan Trio Lestari yang digawangi oleh Glenn Fredly, Tompi, dan Sandy Sandoro merupakan gambaran generasi muda yang mengedepankan kualitas dalam bermusik, seolah mereformasi industri musik Indonesia saat ini. Sejak pertama kali dibentuk pada tahun 2011, Trio Lestari adalah sebuah konsep konser live. Lalu hadir Fariz RM dan Indra Lesmana yang tidak perlu diragukan lagi kontribusinya dalam sejarah musik Indonesia. Nama mereka harum dalam kenangan kita sebagai musisi, penyanyi, dan pencipta lagu yang handal. Duet mereka adalah sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu, dan pastinya akan menjadi momentum bersejarah di tanah air saat dua legenda musik Indonesia berduet dalam satu panggung hanya untuk anda.

Tidak hanya dari tanah air, Sondre Lerche musisi muda berbakat asal Norwegia akan datang dari New York untuk memanjakan pecinta musik tanah air. “Sleep on Needles”, ”Two Way Monologue” dan “Domino” adalah sebagian dari karya Sondre yang akan diperdengarkan langsung oleh sang musisi pada 23 Maret nanti. Legenda bass dari Jepang, Tetsuo Sakurai, juga akan menemani Sondre di Panggung Utama nanti. Bersama Issei Noro, Sakurai menggawangi lahirnya Cassiopea, dan menghasilkan 19 album bersama band legendaris tersebut. Kali ini, Sakurai akan memperdengarkan permainan bass kelas dunia kepada penonton Kampoeng Jazz di Indonesia.
Jangan lewatkan kesempatan emas untuk menyaksikan sederetan musisi terbaik dunia di Konser Jazz terbesar di Bandung, The 5th International Kampoeng Jazz pada 23 Maret 2013 mendatang bertempat di Kampus Iwa Koesoemasoemantri di Jalan Dipati Ukur No.4, Bandung.
Suksesnya Festival Jazz Tertua di Indonesia
Masih bertempat di pelataran parkirKampus FEUI, Depok, puncak acara Jazz Goes To Campus kembali digelar pada tanggal 25 November 2012 dengan tema Freedom of Jazzpression. Terdapat beberapa perbedaan dari segi kelangsungan festival itu sendiri, mulai dari segi line-up artist, adanya Jazz Museum, sampai jumlah show area yang didirikan. Selain terdapat 3 stage yaitu Vitacimin stage, Mandiri stage, dan Jazzpression stage, terdapat pula Propaganda stage yang disponsori oleh DeMajors, yang memungkinkan para pengunjung untuk mnenikmati seluruh nuansa serta ambience dari berbagai ekspresi musik jazz, sesuai dengan tema yang diusung tahun ini. Tidak hanya dari artis nasional, The 35th Jazz Goes To Campus juga berhasil membawa beberapa nama internasional sepertiToninhoHorta, Orange Pekoe, dan Martin Denev.

Begitu memasuki area venue, penonton akan bertemu dengan Vitacimin Stage yang nuansa musik jazz nya mudah dimengerti dan ringan untuk kuping penonton. Di Stage ini bermain legenda-legenda musik Jazz Indonesia seperti IdangRasjidi dan Fariz RM. Stage ini juga diwarnai oleh permainan artis muda seperti Bubugiri, R2RYTHM, Indonesian Youth Regenaration, dan ditutup dengan manis oleh penampilan dari Tulus. Menjadi warna tersendiri dari stage ini adalah permainan electro jazz dari Martin Denev Jazza Wacka, yang didalamnya adalah kolaborasi Martin Denev dengan musisi Indonesia yaitu Matthew Sayerz, Bertha, dan Demas Narawangsa.
Berbelok sedikit ke area Selasar FEUI, penonton akan bertemu dengan Propaganda Stage yang merupakan kerjasama JGTC dengan De Majors. Di Stage ini ditampilkan artis-artis dari De Majors Lable, diantaranya adalah MonitaTahalea, Bonita and The Hus Band, Ginda And The White Flowers, dan masih banyak lagi. Suasana stage yang intim dan dihiasi dengan tata cahaya yang dinamis membuat Propaganda Stage tempat yang tepat untuk penonton yang mencari suasana yang lebih private di Jazz Goes To Campus ini sambil menikmati musik yang tak kalah indah.
Mandiri Stage adalah Stage yang membawakan varian yang sangat unik dari musik Jazz; dari mainstream jazz, ethnic jazz, sampai Brazilian jazz yang dibawakan oleh legenda Internasional: ToninhoHorta. Sebagai sebuah kejutan, Toninho Horta berkolaborasi dengan artis internasional lain yaitu Kazuma Fujimoto dari Orange Pekoe.
Musik etnik dari KunoKini yang kental diwarnai dengan nuansa hip-hop dan reggae beriringan dengan jazz menjadi warna yang sangat unik untuk Mandiri Stage, begitu juga dengan Benny Likumahuwa Jazz Connection yang tahun ini memamerkan berbagai alat tiup dalam komposisinya. Penutup dari Barry Likumahuwa Project adalah momen puncak dari stage ini.Teriakan dan nyanyian penonton menggambarkan semangat penikmat musik jazz di Jazz Goes To Campus.
Jazzpression Stage adalah stage yang bisa dikatakan paling megah di Jazz Goes To Campus ke-35 ini dari segi size, ornamen, dan penampil. Salah satu highlight di awal penampilan di Jazzpression Stage adalah ketika Ari Pramundito menarik salah satu penonton untuk bernyanyi bersama diatas panggung.
Kemudian penampilan dari Funky Thumb, sebuah band yang diprakarsai oleh salah satu pelopor Jazz Indonesia Yance Manusama, yang berkolaborasi dengan Tompi dan Simon Marantika dalam penampilannya. Disusul dengan special project “Indonesia Longplay Extended Project” dengan Music Director Indra Perkasa, yang membawakan remake dari beberapa lagu Indonesia lama.
Tiga performer terakhir di stage ini adalah Tompi, Orange Pekoe, dan The Groove.Tompi membawakan konsep yang fresh, dengan kolaborasi dengan seorang pianis cilik (Joey) dan salah satu musisi jazz kawakan Tjut Nyak Deviana. Penampilan dari Orange Pekoe juga mendapat banyak antusiasme dari penonton.Penutup dari The Groove yang sarat dengan suasana mengenang The Groove di masakala, berhasil menarik hati penonton untuk menyanyi bersama dalam menutup The 35th Jazz Goes To Campus.
Freedom of Jazzpression.Gambaran kebebasan berkespresi dalam musik jazz.Itulah The 35th Jazz Goes To Campus!
(Foto oleh : Ramadhan Putera Djaffri)
iTunes now in Indonesia
Earlier today we reported that Apple has launched its iTunes Store in Russia and a number of other markets, and it transpires that the company has also made two major moves in launching it in India (population 1.2 billion) and Indonesia (240 million). Hitting a total cumulative possible audience of 1.4 billion is likely its widest expansion to date.
(Apple subsequently announced the iTunes Store has launched in a total of 56 countries today, taking the total in 119. Movie content has been made available in India, Indonesia, Russia and Turkey.)
Back in June, Apple launched the iTunes Store in 12 new markets in Asia — including Hong Kong, Singapore and Taiwan — but Indonesia and India were then conspicuous absent, despite their huge populations. Now the company has seized on the opportunity in these two markets, where iTunes users will enjoy access to a range of video and music content, with pay options in their respective local currencies – rupee in India and rupiah in Indonesia.

Music is available in India for 7-15 rupees ($0.13) and albums from 70 rupees ($1.28). In Indonesia, Daily Social reports that music and content is equally cheaper than the US, where tracks cost upwards of $0.99.
The price ranges from Rp 5000 to 7000 ($0.50 to $0.70) for music and ringtones, while one album may cost Rp 45.000 to Rp 65.000 ($4.70 – $6.80). A full download of The Raid movie in HD quality is set at Rp 149.000 ($15.50).
Both markets, while huge, are challenging for the content industry since piracy is rampant. The two countries are significant global hugely important Internet markets; they rank among Facebook’s top 5, but mobile is the key enabler since fixed-line Internet access is low: sub-10 percent in India, and below 20 percent in Indonesia.
These markets have huge potential — particularly on mobile, just ask WhatsApp, KakaoTalk, Line, WeChat et al — but Apple is now ready to build a local content ecosystem, which will be a key step to local Web users forgoing piracy for a better (but paid) entertainment experience.
Those benefits may even be felt by content firms which, on paper, rival iTunes — such as music streaming services Dhingana and Saavn, or Hulu-like Spuul in India — since Apple’s launch will bring new visibility and emphasis to legal entertainment and multimedia content.
The iTunes rollout in Russia is being seen as a possible first step towards an Apple Store in the country and Apple is reported to have explored retail options in India and Indonesia. Apple has been hiring for retail-related positions in Indonesia since June, while the company is said to be looking at moving beyond its reseller model in India, but stringent local laws make such a move difficult.
Speaking earlier this year, CEO Tim Cook said that India’s “multilayer distribution” system and Apple’s relatively low marketshare would see it prioritize other markets ahead of India. However, with the first step taken, Indian Apple fans are at least a step closer to a greater Apple presence there.
Warna Indonesia di Tokyo International Film Festival
Perhelatan Tokyo International Film Festival yang telah berlangsung sejak 20 Oktober 2012 meninggalkan banyak cerita indah untuk Indonesia. pasalnya, di festival film kenamaan yang diselenggarakan di Toho Cinemas Roppongi Hills, Tokyo ini, ada satu sesi yang dikhususkan untuk menampilkan film – film buatan tiga sineas ternama Indonesia, yaitu sesi Indonesian Express. Dalam sesi ini, sekitar tujuh film dari tiga sutradara Indonesia ditampilkan. Sutradara legendaris Indonesia, Garin Nugroho, menampilkan dua film terbarunya, Blindfold dan Soegija. Selain itu, Edwin, sutradara muda yang telah melanglang buana di berbagai festival film dunia juga datang dengan kedua filmnya, The Blind Pig Who Wants to Fly dan Postcard from The Zoo. Terakhir adalah Riri Riza, yang hadir di Tokyo membawa The Rainbow Troops, The Dreamer dan Atambua 39° Celcius.
Ketujuh film Indonesia ini, tanpa ragu, telah menarik minat masyarakat Jepang dan internasional saat pemutarannya. pada penayangan berbagai film Indonesia seluruh kursi dalam gedung bioskop selalu penuh terisi dan mayoritas penonton adalah masyarakat lokal. Di kesempatan lain, saat pemutaran perdana Atambua 39° Celcius baru saja selesai, penonton ramai bertepuk tangan dan banyak diantaranya rela mengantri untuk mendapatkan tanda tangan Riri Riza serta Mira Lesmana.
Tidak hanya itu, pada sesi talkshow dengan Edwin mengenai filmnya Postcard from The Zoo, banyak penonton menunjukkan antusiasmenya dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan kepada sang sutradara. Salah satu penonton bahkan memuji akting Ladya Cheryl di film tersebut dengan mengatakan ‘kirei’ yang artinya cantik atau indah.
Hal menarik juga terjadi saat sesi talkshow Atambua 39 Celcius. Salah seorang penonton berkewarganegaraan Jepang nampaknya terkesima melihat bagaimana film tersebut secara lugas menampilkan ibadah masyarakat kristen di Nusa Tenggara. ‘Bukankah Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam? Apakah tidak ada pertentangan antar agama disana?’ tanyanya pada Riri Riza. ‘ada banyak agama berkembang di Indonesia, dan masyarakat hidup rukun berdampingan karena memang begitulah Indonesia.’ jawab sang sutradara sambil tersenyum.
Selain itu, ketiga sutradara ini juga dibuatkan symposium spesial di Tokyo International Film Festival. Dalam symposium yang dihadiri oleh masyarakat Jepang itu, Garin Nugroho berkata, “Saya selalu ingin buat film yang penting untuk Indonesia. Saya tidak peduli soal pasar, saya hanya ingin berdialog lewat film kepada penonton.” Lanjutnya saat disinggung soal alasan ia membuat film.
Sementara itu, Edwin mengatakan bahwa ia memang tidak ingin membuat film biasa. “Saya selalu suka membuat film yang tidak mainstream. Kebun Binatang adalah film yang merupakan perwujudan dari mimpi – mimpi saya. Saya selalu suka dengan kebun Binatang, dan sejak dulu memang ingin membuat cerita soal itu. Banyak sekali hal yang saya angkat di film ini adalah hal yang sering terlupakan, dan kehidupan di Kebun Binatang adalah salah satunya.”
Ketiga sutradara ini memang berasal dari generasi yang berbeda, tetapi ada satu hal yang menyamakan mereka sehingga mereka bertiga bisa sama – sama berada di Tokyo International Film Festival; mereka tidak suka membuat film yang temanya biasa. “Film itu bagian dari seni, dan Indonesia sangat luas serta punya banyak sekali jenis kesenian, jadi saya akan terus membuat film yang berbeda – beda.” Tutur Riri Riza, yang diiringi anggukan oleh kedua rekan sineasnya.
Riri Riza adalah satu – satunya sutradara Indonesia di Tokyo International Film Festival tahun ini yang filmnya berhasil masuk dalam kompetisi di festival ini, bersaing dengan belasan film terpilih lain dari berbagai penjuru dunia. Filmnya Atambua 39° Celcius menceritakan mengenai kehidupan di Atambua, daerah tertinggal di Nusa Tenggara Timur. Film ini pertama kali diputar di Tokyo International Film Festival, dan akan ada di bioskop Indonesia mulai 8 November 2012.
Ketika ditanyai pendapatnya soal Indonesia dan Sumpah Pemuda, Garin Nugroho mengatakan bahwa anak muda Indonesia harus ‘nakal’ agar bisa berkembang. “’kenakalan’ itu harus ada agar bisa mengguncang orang sehingga mereka bisa tumbuh. Maksud dari ‘nakal’ ini adalah anak muda Indonesia harus kritis dan kreatif sehingga tidak kalah dengan konsumerisme dan radikalisme.”
ditulis oleh Farah Fitriani
Staf Biro Informasi & Teknologi PPI Jepang
Kontributor Good News From Indonesia
Indonesian Films Honored at the 25th Tokyo International Film Festival

The prestigious 25th Tokyo International Film Festival (TIFF) officially opens today and will run through October 28. It is the sole Japanese film festival with an accreditation from the International Federation of Film Producers Association (FIAPF). TIFF has been playing an active and inspiring role in Japanese film and culture ever since its establishment in 1985, and is known as one of the four major film festivals in the world that also includes Cannes, Venice and Berlin. On its silver anniversary, and together with The Japan Foundation, TIFF invited three generations of Indonesian film directors: Garin Nugroho, Riri Riza and Edwin to attend this year’s festival with a focus on Indonesian films.
The latest film by Mira Lesmana and Riri Riza, titled Atambua 39 Degrees Celsius, has been chosen for the competition and will have its world premiere screening on October 24 and 25 at Roppongi Hills. More Indonesian films will also be shown as part of the program titled “Indonesia Express” including Laskar Pelangi (Rainbow Troops, directed by Riri Riza); Sang Pemimpi (The Dreamer, by Riri Riza); Mata Tertutup (The Blindfold, By Garin Nugroho); Soegija (by Garin Nugroho); Babi Buta Yang Ingin Terbang (Blind Pig Who Wants to Fly, by Edwin) and Postcards From The Zoo (by Edwin).
A scene from SoegijaDirector Garin Nugrorho has been invited by TIFF seven times over the years and has also been one of the judges at the biggest international film festival in Asia. Garin shares his views on TIFF, “This particular festival has its own characteristic, where you get the entertainment aspect but more of the arts. I have been here several times and I believe that TIFF has been supporting the development of Indonesian film while presenting the reality of Indonesia’s diverse cultures to Japanese society.”
TIFF has also chosen up-and-coming young film director, Mouly Surya, and her film project titled The Fandom Diary to participate in Project Market TIFFCOM 2012 — a commercial event that aims to provide a market in Asia for filmmakers and buyers from all over the world. Mouly’s film is largely based on her own observations and tells the story of 3 fandoms (fans of Japanese artists) from Japan, France and Indonesia who become friends and eventually learn about each other’s cultures through social media.
taken from: tnol.asia
picture taken from Tokyo International Film Festival official website
Indonesia’s ‘Atambua 39° C’ To Screen at Tokyo Festival
“Atambua 39° C,” the latest project from producer Mira Lesmana and director Riri Riza, the creators of MILES Films, will be included as part of the Tokyo International Film Festival, set to take place from Oct. 20 to 28.
“The plan is to have the world premiere of the film in Tokyo,” Mira said.
The movie, which follows the real life stories of East Timorese refugees in Atambua, a village in East Nusa Tenggara, will also be screened at the Rotterdam International Film Festival in the Netherlands in January next year.
As for film-lovers in Indonesia seeing the movie, “Atambua” will premiere on Nov. 8 on a limited number of cinemas across the country.?
BeritaSatu
Indonesian Film Makes It to the Festival Circuit
Making a film can be just like creating art — a process requiring craftsmanship as well as time.
Indonesian filmmaker Yosep Anggi Noen knows this. He has been writing various scripts for feature films since 2008.
One of the biggest factors slowing him down was financing, a common problem among local filmmakers.
In the end, Yosep chose a script that fit easily within his budget and skills as a director. His feature film debut, “Vakansi Yang Janggal dan Penyakit Lainnya,” (“Peculiar Vacation & Other Illnesses”) is ready to be shown in at least nine film festivals this year.
Yosep’s film festival season kicked off at the Locarno International Film Festival in Switzerland in September, where “Vakansi” was the only entry from Southeast Asia. This month, Yosep’s film will be shown at the Vancouver International Film Festival, which is the biggest exhibition for films from the Asia Pacific. Yosep will compete with seven other films from Japan, China and South Korea for the “Dragon and Tigers Award” for young cinema. This award aims to recognize young, talented film directors who have not yet received international recognition.
The film “Vakansi” is a story about cheating. Ning (Christy Mahanani) struggles to find a deeper meaning in her marriage with Jarot (Joned Suryatmoko). Jarot is unemployed and feels like he has been a failure to his wife. He is a quiet, introverted person, and Ning finds it difficult to communicate with her husband. Along the way, Ning meets Mur (Muhammad Abe Baasyin), a driver from her new workplace, and decides that she wants to get romantically involved with him.
The lack of blatant emotions in the film portrays the typical, suppressed feelings in the Javanese culture. The dialogue in “Vakansi” is mostly delivered in Javanese. Yosep, who originally comes from Yogyakarta, says he wanted to portray the lives of people in his city.
“This is a special film for me, because it is so simple that sometimes it seems incapable of delivering poetic dialogues,” he said. “You can hear it from my Javanese accent. [When someone with an accent like this] tries to speak in a poetic way, it will probably sound ridiculous in people’s ears.”
Film programmer John Badalu praised “Vakansi” for its original script and its unique story-telling technique.
“There is no special formula for a film to be able to attract a festival programmer,” he said. “For me, ‘Vakansi’ is more art house than commercial and really reflects Anggi’s idealism in crafting his work.”
In a sea of horror and religious films, “Vakansi” represents something fresh, though it may prove difficult to grasp for casual viewers.
John is excited international festivals are screening Indonesian films. On Friday, he will bring six Indonesian films to the Busan International Film Festival in South Korea, including “Postcards from the Zoo,” “Modus Anomali,” “Hello Goodbye” and “Sang Penari.”
taken from the jakarta globe
photo courtesy: Limaenam films








