PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

Written by Adytomo Member at GNFI
Share this
0 shares
Comments
0 replies

Oleh : Bin Subiyanto.M

Bin Subiyanto .M.,Ketua SPKSI ( Serikat Pekerja Kependidikan Seluruh Indonesia) Kudus.

Direktur PADERI ( Pusat Analisis Demokrasi Ekonomi keRakyatan Indonesia)

Terkadang sulit mengkategorikan seseorang memenuhi syarat disebut pahlawan. Kebetulan di Indonesia ada satu profesi yang pasti dan berani disebut pahlawan yaitu Ibu bapak Guru.

Seperti yang tertuang dalam Himne Guru berikut ini : “ Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku,semua baktimu akan akan kuukir didalam hatiku. Sebagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan.Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan,engkau patriot pahlawan bangsa bangsa tanpa tanda jasa….

Himne Guru tersebut betul betul menyentuh rasa batin guru yang dengan tulus ikhlas berjalan kaki,naik sepeda atau menumpang angkot desa menuju sekolah tempat mengajar.Murid murid pun yang semula berhambur di luar kelas bergegas masuk tatkala melihat guru yang sederhana itu datang . Tidak ada anak yang nakal dan mbolos.Justru mereka tidak takut pada guru. Ada diantaranya yang belum berseragam, tidak memakai sepatu bahkan belum membayar iuran sama sekali. Mereka tidak takut .karena guru mereka lebih mengutamakan disiplin mengikuti pelajaran.Para murid bahkan tidak pernah mendengar kata kata atau istilah kurikulum, model dan metode mengajar. Buku-buku sekolah yang digunakan guru adalah buku tebal cetakan lama dan praktek IPA pun langsung di alam,misalnya mengambil tanaman di halaman sekolah,mencari serangga atau jamur di tetangga sekolah.Cara mengajar guru ceramah dan dialog. Dan tes ujian harian selalu lisan, menghadap satu persatu murid kepada guru. Alumni sekolah semua menjadi manusia yang utuh, mental spiritual serta intelektual.Demikian gambaran model pendidikan di masa sebelum tahun 2000 an.

EMBUN PENYEJUK

Sekarang , disaat dana anggaran pendidikan cukup memadai dan sudah lama pula ada dana BOS (biaya operasional sekolah),lalu diselenggarakan sertifikasi guru,tunjangan dan peningkatan gaji guru.Justru anak anak makin tidak termonitor dalam pengamatan oleh para guru secara utuh. Karena guru “Sangat” professional, dengan prinsip bahwa bila anak anak sudah lepas dari jam sekolah maka bukan kewajiban pendidikan.

Dalam hal pelaksanaan Proses belajar dan mengajar pun para Guru lebih santai karena tidak perlu ceramah- dialog. Sudah tersedia modul tugas dan selesai pelajaran para siswa ditugasi menjawab PR dengan memanfaatkan internet sebagai sumber ilmunya. Pertanyaanya apakah dengan model pengajaran sekarang ini bisa mengeksplorasi potensi siswa secara optimal. Lebih lanjut dipertanyakan kualitas akademis dan skill (bagi sekolah kejuruan) ketika ternyata output nya tidak kapable dalam ilmu dan ketrampilan.

Agaknya Mendiknas Anies Baswedan juga perlu mengembalikan fungsi pendidikan pada umumnya dan fungsi guru khususnya bukan lagi dalam konsep “ Industri”. Kembalikan lagi pada konsep “ Pelita Kegelapan “. Selaras dengan dasar pemikiran program “ Indonesia Mengajar” yang sering diucapkan sendiri oleh Mendiknas Anies Baswedan ; “ Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”.

Karena itu perlu dipadukan program Menteri Dikti dan ristek dengan Program Mendiknas dalam kaitannya “Indonesia Mengajar”,dengan cara mewajibkan semua alumnus Fakultas Ilmu pendidikan dan calon guru mengabdikan ilmunya di daerah terpencil khususnya di luar pulau jawa. Masyarakat rindu guru yang ikhlas lahir- batin. Anak anak di daerah tertinggal sangat butuh guru sebagai Embun penyejuk dalam kehausan ilmu. Betapa mulianya pengabdianya sehingga Guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Semoga masih banyak pahlawan baru yang tidak perlu tanda jasa.

( Bin Subiyanto.M. mantan guru sejak th 1977 ,purna tahun 2007)

Written by Adytomo Member at GNFI

Jurnalis Independent

More post by Adytomo