365Indonesia Day 11 – An Evening at Borobudur, Jogja
Let’s get off the water for a bit now. On my trip back to west, again, I stopped by the original and true world wonder that was recently featured on the Amazing Race series, the Borobudur Temple. Located about 40km to the northeast of Jogjakarta, this is a good place to reminiscent how great we were in the past. I mean, this blocks of stones are not only huge but also beautifully hand-crafted.
Borobudur is very famous among international and domestic tourists. Lots of public and catered transportation that go there. One time my friend told me that she was guiding a lost-with-almost-no-money backpacker from Japan to see Borobudur.
However, if decide to visit Borobudur, please add staying and touring around Jogja and it’s surrounding for a few days. Guaranteed, you’ll experience a whole different world.
The weather can be very hot in the afternoon, so make sure you have enough drinks with you. And it should be nice after 3pm.
Very recommended for: historical sites lovers, serene seekers, backpackers.
Regards,
Mad
Check out my travel blog Mad Alkatiri for more cool places and follow me @madalkatiri.
Jogja Hip Hop Foundation dalam Iklan Intel Visibly Smart
Jogja Hip Hop Foundation (JHF) adalah salah satu grup hip hop populer yang berasal dari Yogyakarta. Salah satu ciri khas JHF adalah lirik-lirik berbahasa Jawa. Grup yang satu ini juga selalu mengenakan kemeja batik di setiap konsernya. Di bulan Mei lalu JHF berhasil menampilkan hip hop Jawa di New York, kota sakral bagi para pecinta hip hop. JHF pun mulai dikenal publik tanah air karena berani berbeda dengan mengkolaborasikan budaya tradisional Jawa dengan musik modern.
![]()
JHF Crew di Time Square, New York
Kabar terbaru dari JHF adalah kerjasama mereka dengan Intel Indonesia dalam iklan terbaru Intel Indonesia dengan tagline Visibly Smart. Versi lengkap iklannya sudah bisa disaksikan di YouTube sejak tanggal 14 Oktober. Video berdurasi hampir 6 menit itu menceritakan JHF secara singkat hingga saat ini. Marzuki Muhammad alias Kill The DJ mengatakan di blognya :
“Kami sangat berbangga atas kerjasama mutualis dengan Intel Inside ini, dimana telah menempatkan kami tetap sebagai diri kami sendiri dengan segala kemandirian dan idealisme yang kami percaya dan telah kami bangun selama ini. Sebuah apresiasi atas dedikasi yang membanggakan.
Dalam video tersebut Kill The DJ menuturkan sumber-sumber inspirasi JHF yang begitu beragam, mulai dari kehidupan sehari-hari di Jogja, puisi-puisi tradisional Jawa hingga pementasan wayang kulit. Kill The DJ juga menceritakan bahwa JHF selalu mendokumentasikan perjalanan dan pementasan yang mereka lakukan, karena JHF yakin itu akan menjadi sesuatu yang bermanfaat di masa depan. Kill The DJ merasa bahwa kemudahan akses pada sosial media di era digital ini bermanfaat bagi musisi untuk mengenalkan karya-karyanya pada masyarakat tanpa tekanan dari pihak luar seperti pihak label misalnya.
Semoga dengan adanya video ini bisa lebih mengenalkan dan melestarikan budaya Indonesia kepada masyarakat luas terutama generasi muda agar Indonesia menjadi Indonesia yang sebenarnya di masa depan, seperti diungkapkan Kill The DJ:
“Ketika generasi mudanya bangga dan memahami dan mau belajar kembali kepada akarnya, itulah Indonesia yang sebenarnya, Indonesia ke depan”
Salut untuk kreatifitas dan prestasi kawan-kawan JHF, semoga sukses terus! Apalagi sudah ada tawaran untuk tur di Amerika Serikat tahun depan. Membanggakan Indonesia dan tentu saja Jogja.
- – -
Ditulis untuk Good News From Indonesia oleh Alfonsius Johannes
Sumber:
Video
Blog Kill The DJ
Hiphopdiningrat
Yogyakarta, Contoh Istimewa
Bagi yang pernah berwisata ke Jogjakarta, seringkali judul dari tulisan ini pernah didengar utamanya datang dari saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai tukang becak, misalnya di daerah Malioboro. Orang yang pertama kali mendengar tawaran ini merasa terkejut karena “kok bisa” tiga tujuan ongkosnya hanya Rp 5000. Padahal satu tujuan saja biasanya Rp 8000-Rp.10000. Tiga tujuan yang dimaksud itu biasanya antara lain “Dagadu”, sebuah toko yang menjual T-shirt, Bak Pia “Patuk” (jajanan khas Jogjakarta) dan daerah pertokoan Batik atau Kraton.
Kesan pertama kali yang didapat adalah “kok begitu baiknya tukang becak disini dibanding Surabaya (misalnya)” apalagi cara menawarkan jasanya dengan bahasa Jawa halus. Namun akhirnya kita ketahui bahwa industri jasa becak itu mempunyai “business link” dengan tiga tujuan wisata kota tadi, yaitu menerima bayaran berupa komisi atas jasanya membawa wisatawan ke tempat-tempat tersebut dari para pemilik toko. Tak heran mereka berusaha mati-matian menjaring “nasabah”nya di jalan-jalan. Dengan cara ini mereka mendapatkan keuntungan yang lebih dari ongkos narik becaknya, kraton dan toko-toko juga laris dikunjungi. Tapi manfaat yang lebih luas dari hubungab bisnis itu adalah Jogjakarta akan tetap menjadi daerah tujuan wisata, persepsi tentang Jogjakarta sebagai kota budaya yang lestari tetap masuk di “mind set” nya wisatawan.
Para wisatawan juga mendapatkan pengalaman yang unik ketika mengunjungi keraton dengan segala apa yang ada didalamnya, termasuk mengetahui bahwa luas keraton Jogja hampir seluas kota itu kalau kita diajak abdi dalem keraton misalnya mengelilingi kampung-kampung disekitar keraton dan akan menjumpai dinding tebal seperti tembok China yang mengelilingi areal keraton.
Hal itu bisa terjadi sebab semua kegiatan kepariwisataan terintegrasi. Walaupun para tukang becak itu tidak memahami ilmu marketing, tidak tahu Kotler (pengarang buku marketing), tapi apa yang mereka lakukan itu bersatu dengan “grand strategy” Jogja dalam bidang turisme.
Secara umum saya tidak mengetahui bagaimana hubungan “simbiosis mutualisme” itu bermula. Namun kita dapat memetik pelajaran marketing dari kota Jogjakarta dalam menarik wisatawan berkunjung ke sana. Ini semacam “planned strategic marketing” yang dilakukan secara sistimatis, terintegrasi dan hasilnya tentu mengagumkan. Bayangkan Malioboro atau jalan-jalan lainnya di Jogja dibandingkan dengan jalan Tunjungan toh juga sama-sama kotornya, tidak seperti Orchard road di Singapore misalnya, tapi kenapa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jogjakarta ini lebih besar ketimbang Surabaya.
Di kota-kota negara maju lainnya, kita bisa menyaksikan kegiatan marketing yang terpadu ini, misalnya secara spesifik dapat disebutkan adanya tiket kereta api bawah tanah yang berlaku jam-jaman (misalkan dua jam) atau harian, dan tiket yang samapun bisa dipakai untuk naik bis kota. Selain itu dapat diperhatikan bahwa semua halte dan stasiun itu dekat dengan daerah pariwisata, sehingga seorang wisatawan yang ingin berkunjung ke suatu musium misalnya, dia hanya tinggal cari lokasi stasiun yang berada di dekat lokasi musium. Bagi yang tidak bisa berbahasa Inggris atau bahasa yang berlaku di kota itu berada, juga tidak perlu khawatir “kesasar” (tersesat) sebab yang harus dia kerjakan adalah melihat tanda warna yang menjelaskan kemana kereta api itu menuju. Misalkan ke musium harus naik KA yang ada tanda warna biru.
Sebaliknya apabila ada wisatawan asing (atau domestik) yang ingin melihat daerah produksi tas di Tanggulangin, maka dia akan mendapatkan kesulitan karena tidak ada peta petunjuk jalan di Surabaya ini, dan tidak ada transportasi yang langsung menuju ke situ, paling-paling informasi yang didapat dari orang-orang di jalan adalah antara lain: “naik bis lyn X ke terminal, dari situ cari colt atau bemo jurusan Tanggulangin, dan turun di pasar, didepan pasar itu ada jalan menuju ke tempat produksi tas dengan jalan naik bemo atau becak dsb dsb”. Atau kalau ada orang yang ingin ke Mesjid Ampel maka nasihat yang didapat antara lain: “naik bis dari terminal ke Jembatan Merah, dari situ naik becak sekitar 1-2 km, kemudian tanya orang-orang disekitar, dsb”. Informasi seperti ini sangat membingungkan bagi wisatawan. Bisa-bisa ada orang yang mendengar hal itu berkomentar:” sampai bungkuk gak ketemu nggone” (= sampai kapanpun tidak ketemu).
Di Jogjakarta, kita bisa melihat kemudahan transportasi itu, meskipun tidak secanggih seperti di negara-negara maju. Kita dapat menjumpai bis yang menuju daerah pariwisata seperti Kaliurang, UGM, Parangtritis dsb. “Yang mbaurekso” Jogjakarta, Sultan Hamengkubuwono pun, tidak tanggung-tanggung menyewa ahli marketing nasional dari berbagai tempat. Hasilnya pada bulan April tahun 2001, Sultan secara resmi mencanangkan kembali nama “Jogjakarta” dengan moto: “Jogja Never Ending Asia”. Sangat mungkin terinspirasi dari iklannya negara jiran yaitu: “Malaysia is truly Asia” atau Malaysia sebenar-benarnya Asia, jadi kalau ingin melihat pluralisme suku bangsa, agama, keragaman hayati, birunya pantai, kehebatan hutan tropis Asia, maka datanglah ke Malaysia bukan tampat lain, barangkali itulah makna iklan itu. Jogajakarta juga melakukan hal yang sama.
Sangat disayangkan memang, kebanyakan perencanaan yang dibuat di kota Surabaya atau kota-kota lainnya di Jawa Timur ini masih bersifat parsial, dan umum. Lihat saja kalimat yang dipakai dalam perencanaan itu mirip dengan kalimat-kalimat yang ada di GBHN. Perencanaan kebijaksanaan tidak dibuat secara terintegrasi misalnya perencanaan dari dinas tata kota tidak ada hubungannya dengan dinas pariwisata, sistim transportasi umum tidak sinkron dengan daerah tujuan wisata. Padahal sebenarnya potensi tujuan wisata itu banyak, sebut saja Mesjid Ampel, Sasak (pasar tradisional di daerah Ampel yang mirip pasar di Timur Tengah), gedung-gedung kuno, Kebun Binatang, Monkasel dsb dsb. Akan tetapi tetap saja kota ini tidak menjadi kota tujuan wisata utama. Jarang sekali keluarga dari kota lain yang mempunyai niat: “Ayo kita liburan ke Surabaya tiga hari atau satu minggu”.
Perdebatan, diskusi atau seminar yang membicarakan kota Surabaya, sering memunculkan pendapat tentang Surabaya ini mau dibawa kemana, apakah budaya “Arek” perlu dipertahankan, apa sebenarnya ciri khas Surabaya dan seterusnya. Namun sekali lagi hal itu sayangnya masih bersifat umum, filosofis dan parsial dan banyak nostalgianya, tidak membicarakan hal-hal yang spesifik untuk kedepan. Ini seperti pendapat dari kalangan kampus yang sering mengungkapkan bahasa klasik: “kita tidak ingin menciptakan sarjana pencari kerja, tapi ingin menciptakan sarjana pencipta lapangan kerja”, tanpa di tindak lanjuti dengan hal-hal yang bersifat teknis misalkan evaluasi kurikulum, rasio dosen dengan mahasiswa, sistim perpustakaan yang baik (bila perlu yang canggih), updating materi kuliah dsb.
Dalam hubungan dengan ini, kita ingat upaya Hiramatsu, Gubernur Perfektur Oita di Jepang untuk memajukan daerahnya dengan cara melaksanakan:”Integrated planning” yang melibatkan perkumpulan ibu-ibu rumahtangga, seperti PKK disini, untuk menggunakan “Antena Marketing Strategy”, yaitu (fungsi antena pertama) menyerap informasi, komplain, usulan dsb dari wisatawan dan sekaligus menyebarkan (fungsi antena kedua) informasi tentang potensi daerahnya kepada wisatawan yang datang ke toko-toko atau tempat-tempat budaya dimana para Ibu itu berada. Melibatkan peran Ibu-Ibu di Jepang dan para tukang becak di Jogjakarta itu sama-sama memberikan manfaat yang besar bagi majunya pariwisata.
Ibu-ibu disini juga bisa dilibatkan dalam melakukan strategi ini, agar tidak hanya pandai main kulintang dan tari Poco-Poco saja, namun juga ahli dalam marketing. Sudah saatnya kini Surabaya perlu melakukan strategi marketing yang cerdas semacam yang dilakukan Jogyakarta dan Oita – Jepang ini.
Written for Good News From Indonesia by A. Cholis Hamzah
*) Alumni Unair dan University of London, saat ini sebagai staf pengajar Stie Perbanas, Stiesia dan Program Pasca Sarjana Unmuh Sidoarjo serta Sekretaris I Ikatan Alumni FE-Unair.
The City Of Mind
There are times when landing at Yogyakarta’s Adisucipto airport feels as if you’re leaping onto a dinghy in the middle of a stormy ocean. The room for error is very limited. Needless to say, you’re praying hard as the plane slams on its brakes and the surprisingly short runway comes to an abrupt stop.
Tumbling out of the plane, you’re directed into a narrow corridor that quickly gets even more cramped as all the luggage is unloaded. But then again, you don’t come to Yogya for the infrastructure. You come to Yogya for the art, for the ideas and for the energy that’s generated off the city’s hundreds of thousands of students. In the past few weeks, I’ve been shuttling in and out of this extraordinary place — each time more amazed by what Yogya has to offer.
Arriving first thing in the morning on a recent trip, I darted off to have breakfast with artist Yusra Martunus of the art collective Jendela. By the way, most Yogya artists don’t appear to eat, instead they live off endless cigarettes and heavily sweetened black coffee, which is tough for me, since I need to be fed regularly.
Still, Yusra is a thoughtful interlocutor: hesitant and somewhat distant. As an artist he creates beautifully crafted sculptures that seem to be in the midst of melting: solid and fluid at the same juncture.
After Yusra, I headed off to see the Agus Suwage retrospective at the Jogja National Museum, located in the former Indonesian Arts Institute premises. I bought my first work by Agus more than 10 years ago at a show in Utan Kayu. The dark and forbidding texture and tones he used then appropriately reflected the turmoil on the streets.
After years of observing him, I noticed he is a consistent artist — consistently paradoxical. With his trademark self-portraits and quizzical expression, he’s both serious and humourous. Interestingly, Agus is cosmopolitan, while somehow managing to remain firmly Javanese.
Ironically, he isn’t a didactic artist. He steers clear of moral absolutes, though he’s fervent when it comes to issues of freedom of expression, perhaps understandably given his experience with antipornography activists at the 2005 CP Biennale, when his installation with photographer Davy Lingga was closed prematurely.
The Agus retrospective spreads over three floors. There were some dramatic installations — a Frida Kahlo dummy hanging from the wall and miniature “Agus” figurines balancing on a tightrope as if taken from a troupe of circus artistes. From the Agus retrospective, I headed back to Alun-Alun, where there’s a show of Heri Dono’s latest works. Heri, like Agus, is a stalwart of the international arts scene, with his trademark figures drawn from an amalgam of sources: the wayang, pop culture and children’s toys.
Heri’s installations are ribald and in your face. There are Dono-sauruses as well as the piece de resistance, a set of small figures of the artists Rembrandt, Affandi and others — defecating. It is quintessential Heri Dono.
Stifling my laughter, I set off to Cemeti Art House (the cool epicenter of Yogya’s serious art) to peruse an exhibition by another Jendela artist, Handiwirman. Sadly, I missed the exhibition, but some of his work was still on display there. Handiwirman has a very unusual eye. He turns foam, wire and hair into art. There’s weird skin-colored resin in trays and strange blob-like objects suspended from the ceiling. It looks and feels revolting — rather like the American Matthew Barney’s installations. And yet despite the initial distaste, there’s something oddly compelling and tactile about his work. In fact, you are tempted to pick up the displays and play with them.
Walking through the empty gallery, downcast because I missed the show, I fortunately bumped into a rising Bandung-based artist, Wirayoga. He was preparing for his upcoming show — basically an installation built around the idea of a faux exhibition in a temporary white-box space.
Having retreated from Cemeti, I realized I was exhausted and famished. In Yogya, I tend to forget about food, which isn’t the city’s strong point, with only nasi gudeg prominently sold. Yogya isn’t about the physical or the tangible. Taking off from the airport and looking back over the flat expanse to the south of Mount Merapi, one of Southeast Asia’s biggest concentrations of artists, I reflect that Yogya is a city of the mind. It is a city laced with ideas and dreams, talent and hard work. This is a city where the boundaries of what’s acceptable are constantly being challenged, where nothing is as it seems.
Karim Raslan is a columnist who divides his time between Malaysia and Indonesia.
Yogya, Jogja, Or However You Like It!
When grief’s overwhelming, I rise from misery by recalling your smile, I am touched. Amid this anguish, I expect of a shelter, and I always want to return to you, Jogjakarta…
Above is part of the lyrics of the song titled ”Return to You, Jogja” sung by a famous Indonesian singer, Katon Bagaskara. Many say that if you visited the Special Region of Yogyakarta (DIY in Indonesian) once, it is believed that you would want to return to the city. Don’t believe it? Then there’s only one way to find out. Go there!
Yogyakarta offers many tourist attractions, from natural scenery, art and tradition, the nation’s struggle legacies, to culinary. It is famous for its good schools and universities, and the quality of human resources. It is also famous for beautiful handicrafts and souvenirs, furniture, and other art-based products. For me, I love Yogyakarta because of the friendly people; wherever you go you’ll find people smiling to each other, sometimes they smile to even someone they don’t know.
I have a friend, a Malaysian, she comes to Jogjakarta again and again, visiting the same spots, same people, and yesterday she said that she will come again. Wanna know why? Ask her yourself.
Here is a nice website to guide your experience in Jogja, YogYES.
And here are pics of some nice spots in the city, taken from YogYES.



