<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Good News From Indonesia &#187; Feature</title>
	<atom:link href="http://goodnewsfromindonesia.org/category/feature/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://goodnewsfromindonesia.org</link>
	<description>Beyond Headlines</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 01:11:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Tetaplah Optimis Indonesia!!!</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/tetaplah-optimis-indonesia-2/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/tetaplah-optimis-indonesia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2012 18:17:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mrusydan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[MSN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=12189</guid>
		<description><![CDATA[“Orang yang optimis selalu melihat segala kesempatan dalam kesulitan, sementara orang yang pesimis selalu melihat kesulitan di segala kesempatan” –Unknown Indonesia, dengan segala kabar miringnya, dengan segala kasus korupsi yang]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2012/03/glass.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-12190" src="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2012/03/glass-282x300.png" alt="" width="282" height="300" /></a></p>
<p><em>“Orang yang optimis selalu melihat segala kesempatan dalam kesulitan, sementara orang yang pesimis selalu melihat kesulitan di segala kesempatan” –<strong>Unknown</strong></em><strong></strong></p>
<p>Indonesia, dengan segala kabar miringnya, dengan segala kasus korupsi yang menimpanya, dengan segala bencana alam yang kerap kali datang seharusnya tidak bisa mematikan api semangat anak muda Indonesia. Kenapa?</p>
<p>Tidak jarang sebenarnya kita mendengar suara pesimis dari orang Indonesia, yang diutarakan dan seolah jenuh dengan semua pemberitaan yang buruk tentang negeri ini tapi harusnya kita bisa melihat selalu ada kesempatan bagi Indonesia untuk menuju perubahan yang lebih baik. Tapi semua hanya bisa dimulai ketika masyarakat dari bangsa ini yakin dan percaya bahwa Indonesia pasti bisa menjadi lebih baik.</p>
<p>Semangat optimisme yang akan menyalakan api semangat anak muda untuk merubah negeri ini. Jika semangat itu sudah hilang dari anak mudanya sendiri, lantas bagaimana negeri ini kedepannya?</p>
<p>Banyak sekali memang dari kita (orang Indonesia) yang kerap kali mengeluh dan menyatakan bahwa negara ini sudah masuk kategori <em>“failed state”</em> atau negara gagal. Bagi saya tidak! Negara ini justru akan jadi negara gagal jika masyarakat atau pemudanya tidak ada lagi semangat, optimisme dan cinta akan Indonesia. Bisa dipastikan, negara ini akan hancur dengan sendirinya.</p>
<p>Karena dengan cara pandang yang optimis, melihat segala kesempatan dalam kesulitan, yang akan menggerakan kita untuk berbuat lebih baik bagi Indonesia. Saya teringat cuplikan dari film “the iron lady” yang menceritakan tentang perjuangan Margareth Thatcher yang saat itu masih muda dan naive yang ingin membawa Inggris menjadi lebih baik.</p>
<p>“if you want to change your country, lead it.”</p>
<p>Itulah kalimat yang paling mengena dalam film itu dan bagi saya berlaku bagi Indonesia sekarang ini. Jika kalian, yang merasa pesimis dengan negeri ini dan muak dengan semua pemberitaan yang ada, rubahlah! Jika tidak ada cara lain untuk merubahnya kecuali dengan memimpin negeri ini, pimpinlah!</p>
<p>Saya teringat cerita teman saya yang berkesempatan menghadiri HNMUN (harvard national model of united nations) 2012 Februari lalu, ia berkesempatan bertemu dengan ibu Sri Mulyani yang sekarang menjadi kandidat terkuat presiden world bank. Ia menyatakan optimismenya jika melihat anak muda Indonesia yang sekarang. “ibu seneng liat anak muda Indonesia sekarang, ibu yakin <em>banget</em> kalau ngeliat anak muda ini suatu hari Indonesia bisa jauh lebih baik” tutur ibu Sri.</p>
<p>Mungkin kita bisa sedikit belajar dari gambar diatas, bagaimana seorang pesimis dan seorang optimis mempunyai cara pandang yang jelas berbeda dalam hidup. orang yang pesimis cenderung mengatakan bahwa gelas itu setengah kosong daripada setengah berisi.</p>
<p>Ada juga cerita tentang dokter yang menangani seorang pasien yang koma dan berpendapat bahwa si pasien &#8220;setengah mati&#8221; sementara seorang optimis berpendapat ia &#8220;setengah hidup&#8221;. bagi seorang optimis, selalu ada harapan ditengah kesusahan, pasti ada jalan. Hal ini juga berlaku bagi Indonesia, kita melihat negara ini &#8220;setengah mati&#8221; menghadapi korupsi dan seribu masalah lainnya, tapi bagaimana dengan yang &#8220;setengah hidup&#8221; itu? jangan lupakan harapan yang ada itu! apakah kita akan membiarkannya mati juga?</p>
<p>Harapan itu akan selalu ada.</p>
<p>Jadi, jangan pernah biarkan api optimisme itu padam kawan. Biarkan api itu tetap membara, membakar semangat untuk berjuang dan merubah Indonesia. Negara ini belum dan tidak gagal, jangan biarkan negara ini gagal dengan matinya semangat dari orang Indonesia untuk merubah Indonesia.</p>
<p>Stay optimistic, Indonesia could be better if you really want to. Change it.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/tetaplah-optimis-indonesia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nge-branding Indonesia</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/nge-branding-indonesia/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/nge-branding-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2012 06:25:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akhyari Hananto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[MSN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=12114</guid>
		<description><![CDATA[by Akhyari Hananto Apa yang terlintas di benak kita kita nama New Zealand disebut? Mungkin jawabannya bisa beragam, akan tetapi mungkin tidak jauh-jauh dari alam yang indah, padang rumput yang]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2012/03/1000_trnsFeatured.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-12138" title="1000_trnsFeatured" src="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2012/03/1000_trnsFeatured-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>by Akhyari Hananto</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang terlintas di benak kita kita nama New Zealand disebut? Mungkin jawabannya bisa beragam, akan tetapi mungkin tidak jauh-jauh dari alam yang indah, padang rumput yang penuh sapi dan biri-biri gemuk, air terjun, olahraga extreme, dan lain2. Maka ketika slogan New Zealand adalah &#8220;100% New Zealand&#8221;, semua orang akan kemudian yakin,&#8230;ah&#8230;ini adalah produk New Zealand, dijamin menyehatkan. Hal semacam itu lah.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Lalu bagaimana dengan Jerman? Saya pribadi langsung terlintas mesin mesin yang hebat dan canggih, mobil-mobil yang mewah dan kencang, serta teknologi mutakhir yang dijamin kualitasnya. Kita tidak perlu pikir panjang jika suatu produk adalah Made in Germany.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetangga-tetangga kita juga mati-matian membangun branding. Australia termasuk yang paling sukses. Ketika nama Australia disebut, orang biasanya akan terlintas sebuah petualangan dan penjelajahan, rumah-rumah besar dengan halaman yang luas, great barrier reefs, mobil-mobil &#8216;outback&#8217;, celana pendek petualang, dan semacam itu. Singapura, tentu saja sudah sangat berhasil.</p>
<p style="text-align: justify;">India, Bangladesh, Pakistan, Srilanka, Filipina, mungkin termasuk yang gagal (atau bahkan mereka tidak pernah mencoba) membangun nation branding. Hampir semua orang mengasosiasikan India, Bangladesh, dengan kereta api tua yang penuh sesak, jorok, dengan orang-orang yang berpakaian lusuh..jalan-jalan yang semrawut, kabel-kabel listrik yang terjuntai tak teratur, orang-orang yang tidak tersenyum, dll. Srilanka hampir sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Filipina, negeri yang sebenarnya &#8220;pernah&#8221; (sangat) maju pada 1960-an, akan diasosiasikan dengan sampah yang menggunung di Manila, atau pemberontakan berdarah di selatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan Indonesia?</p>
<p style="text-align: justify;">Marilah kita berpikir bersama, dengan beberapa petunjuk dibawah ini *):</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Apakah negara kita diasosiasikan dengan makanan yang tidak enak, terkenal, dan standar hidup yang tinggi?</li>
<li>Apakah orang lain sering bisa dengan cepat menunjukkan letak negara kita di dalam peta?</li>
<li>Apakah negara kita tidak terkait dengan negative stereotype dan prasangka buruk?</li>
<li>Apakah orang-orang dari negara kita disukai?</li>
<li>Apakah orang lain tidak mengenali bendera negara kita?</li>
<li>Apakah produk-produk dari negara kita dipersepsikan sebagai top class dan berkualitas baik?</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Nah, yang bisa menjawab kita sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" src="http://cache1.asset-cache.net/xr/108313380.jpg?v=1&amp;c=IWSAsset&amp;k=3&amp;d=45A59E392C339D42F69ABB6B9E072FCAA4D8BA309EFB7124EF50B69BE32AEA9600123AA3B5A18ED0" alt="" width="340" height="340" /></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika saya mintai pendapat, seorang teman saya dari Thailand juga bingung memberikan branding buat Indonesia. Karena begitu besar dan beragamnya Indonesia, maka sulit mencari satu branding yang paling pas. Saya rasa yang paling pas adalah bahwa ketika orang menyebut Indonesia, yang terlintas adalah pulau-pulau dengan pantai pasir putih, produk perkebunan dan pertanian yang berkualitas tinggi, dan disukai, orang-orang yang selalu tersenyum, pohon-pohon kelapa, makanan-makanan tradisional yang selain menggoda juga &#8216;ngangenin&#8221;, kebun-kebun rindang, pedesaan dan pematang sawah yang hijau.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu, kita perlu sepakat bahwa nge-branding seperti apapun takkan berguna bila politik dan keamanan tak terjaga, pemerintah yang tidak sigap, media sering mengolok-olok negeri sendiri, dan kita&#8230;yes you and me, tak mahir nge-branding ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Cara mengukurnya, untuk saat ini, mudah. Google &#8216;Singapore&#8221; di image, dan Google &#8220;Indonesia&#8221; di image. Rasakan bedanya..</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa kita perbaiki dari sekarang?</p>
<p style="text-align: justify;">*Lianti Rahardjo &#8211; Binus</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/nge-branding-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Animasi Kelas Dunia dari Batam</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/animasi-kelas-dunia-dari-batam/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/animasi-kelas-dunia-dari-batam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2012 17:26:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Fitriani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Front]]></category>
		<category><![CDATA[MSN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=12086</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia memang menyimpan banyak kisah inspiratif yang tak banyak diketahui orang. kisah kali ini datang dari Batam, tepatnya di studio animasi milik PT KINEMA SYSTRANS MULTIMEDIA. perusahaan yang lebih dikenal]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia memang menyimpan banyak kisah inspiratif yang tak banyak diketahui orang. kisah kali ini datang dari Batam, tepatnya di studio animasi milik PT KINEMA SYSTRANS MULTIMEDIA. perusahaan yang lebih dikenal dengan nama merek &#8216;INFINITE FRAMEWORKS&#8217; ini merupakan studio animasi yang cukup populer di mancanegara karena telah memproduksi serial kartun seperti The Garfield Show, Lucky Luke, Leonard / Dr. Contraptus, dan Franklin &amp; Friends.</p>
<p>Infinite Frameworks merupakan buah usaha gigih seorang warga Indonesia, Mike Wiluan. sekitar tahun 2005, lelaki ini menangkap perkembangan tren animasi di Asia Tenggara cukup pesat. Tak mau kehilangan kesempatan, Mike yang memiliki latar belakang sutradara lepas dan produser film di Inggris kemudian mengambil alih studio post produksi Singapura dan mendirikan studio sendiri di Batam. studio inilah yang kini dikenal dengan Infinite Frameworks.</p>
<p>Mike memilih Indonesia untuk mengembangkan studionya karena keberadaan sumber daya manusia yang melimpah di tanah air. benar saja, hingga sekarang, Mike berhasil mempekerjakan banyak animator Indonesia untuk membuat berbagai karya animasi yang terkenal di dunia. sebut saja Sing To The Dawn atau Meraih Mimpi, dan Tatsumi, film animasi berlatarbelakang kehidupan Jepang yang telah diputar dalam festival film Cannes dan meraih box office di Singapura.</p>
<p>sumber: Intisari Extra</p>
<p><em>ditulis ulang di Good News from Indonesia oleh Farah Fitriani (farahfitrianifaruq@gmail.com / @farafit)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/animasi-kelas-dunia-dari-batam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Erick Setiawan, Novelis Indonesia yang Mendunia</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/erick-setiawan-novelis-indonesia-yang-mendunia/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/erick-setiawan-novelis-indonesia-yang-mendunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 06:28:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Fitriani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Front]]></category>
		<category><![CDATA[MSN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=11770</guid>
		<description><![CDATA[Kita tentu mengenal nama Andrea Hirata, penulis Indonesia yang terkenal dengan karyanya Laskar Pelangi. tapi, apakah kita mengenal nama Erick Setiawan? Erick Setiawan adalah novelis asal Indonesia yang sejak tahun]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita tentu mengenal nama Andrea Hirata, penulis Indonesia yang terkenal dengan karyanya Laskar Pelangi. tapi, apakah kita mengenal nama Erick Setiawan?</p>
<p>Erick Setiawan adalah novelis asal Indonesia yang sejak tahun 1991 pindah ke Amerika dan menetap disana. ia terkenal karena novelnya yang fenomenal, Of Bees And Mist, yang terbit tahun 2009. Berbeda dengan Andrea Hirata yang sukses lebih dulu di negara sendiri, Erick Setiawan pertama meraih kesuksesannya di Amerika.</p>
<p>Penulis kelahiran Jakarta tahun 1975 yang pernah menuntut ilmu di Stanford University, Amerika Serikat dalam bidang psikologi dan komputer ini adalah seorang kutubuku dan suka menulis. Sebelum Of Bees and Mist, Erick telah menulis dua novel namun dua naskahnya tersebut mendapat ratusan penolakan dari para agen sastra, sehingga ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk menerbitkan karyanya.</p>
<p>Penolakan tersebut untungnya tidak menyurutkan semangatnya dalam menulis. Erick lalu menulis of Bees and Mist yang diselesaikannya dalam waktu 4 tahun. berbeda dengan dua naskah novel terdahulunya, kali ini dalam waktu yang tidak terlalu lama ia memperoleh agen sastra hingga akhirnya pada tahun 2009 novelnya ini diterbitkan oleh penerbit kenamaan Simon &amp; Schuster. Tak hanya itu saja, Of Bees and Mist mendapat sambutan yang positif dari pembaca dan kritikus sastra. Novel ini menjadi finalis QPB New Voices Award 2010 dan masuk dalam longlist penghargaan sastra bergengsi internasional IMPAC Dublin Literary Award 2011.</p>
<p><a href="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2012/02/ericksetiawan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-11772" title="ericksetiawan" src="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2012/02/ericksetiawan.jpg" alt="" width="184" height="270" /></a></p>
<p>Of Bees and Mist sendiri merupakan kisah epik cinta, drama keluarga, dan misteri yang berlangsung selama tiga puluh tahun. Tokoh sentralnya adalah seorang wanita bernama Meridia yang memiliki &#8216;konflik&#8217; dengan ibu serta mertuanya.</p>
<p>Walau inti dari kisah dalam novel ini adalah perseteruan antara anak dan mertua namun Erick mengemasnya dengan begitu menarik sehingga novel ini menjadi tidak membosankan. Di novel ini ada begitu banyak konflik yang dikisahkan, selain perseteruan antara Meridia dan mertuanya, dikisahkan pula konflik antara kedua orang tuanya, Revena dan Gabriel, lalu ada juga kisah kedua adik iparnya, hingga Patinna, pembantu mertuanya yang ternyata memiliki kisah rahasia antara dirinya dengan Eva.</p>
<p>Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah balutan misteri dan mistis yang membungkus kisah cinta dan drama dalam novel ini. Baik keluarga Meridia maupun keluarga mertuanya memiliki sisi kelam yang sedikit demi sedikit akan terungkap di sepanjang novel ini. tak heran novel setebal 416 halaman ini mendapat ulasan bagus dari banyak media di Amerika. (baca ulasannya <a href="http://www.ofbeesandmist.com/">disini</a>)</p>
<p>Novel ini ditulis dalam Bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam empat bahasa yaitu Spanyol, Belanda, Cina dan tentu saja, Indonesia. novel yang dipuji oleh <a href="http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2009/08/21/AR2009082101172.html">Washington Post &#8216;Drama rumah tangga yang mengagumkan&#8217;</a> ini telah beredar di empat benua, Amerika, Asia, Eropa dan Australia. Novel ini juga bisa dibeli secara online melalui toko buku terkenal,<a href="http://www.barnesandnoble.com/w/of-bees-and-mist-erick-setiawan/1100260556?cm_mmc=borders-_-sku-_-na-_-na&amp;ean=9781416596257">Barnes and Noble</a>, dan situs jual beli internasional lain seperti <a href="http://www.powells.com/biblio/62-9781416596257-0">Powell&#8217;s</a>, <a href="http://www.indiebound.org/book/9781416596257">Indiebound </a>serta <a href="http://www.amazon.com/Bees-Mist-Novel-Erick-Setiawan/dp/1416596259">Amazon</a>.</p>
<p>sumber: official website of <a href="http://www.ofbeesandmist.com/">Of Bees and Mist</a></p>
<p><em>ditulis di Good News From Indonesia oleh Farah Fitriani (@farafit / farahfitrianifaruq@gmail.com)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/erick-setiawan-novelis-indonesia-yang-mendunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi dari Surabaya</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/inspirasi-dari-surabaya/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/inspirasi-dari-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 02:18:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akhyari Hananto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=11640</guid>
		<description><![CDATA[Mengintegrasikan Konsep “CSR” Sejak Awal Membangun Usaha Istilah Corporate Social Responsibility (CSR) biasanya diasosiasikan dengan perusahaan-perusahaan besar deengan multi million dollar aset. Tapi Titik Winarti punya konsepnya sendiri dalam memaknai]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mengintegrasikan Konsep “CSR” Sejak Awal Membangun Usaha</p>
<p style="text-align: justify;">Istilah Corporate Social Responsibility (CSR) biasanya diasosiasikan dengan perusahaan-perusahaan besar deengan multi million dollar aset. Tapi Titik Winarti punya konsepnya sendiri dalam memaknai konsep Corporate Social Responsibility dalam menjalankan bisnisnya. Konsep inilah yang akhirnya membawa Titik untuk berpidato di depan Sidang Umum PBB dalam International Year of Microcredit di depan ratusan intelektual dan diplomat yang mewakili berbagai negara di tahun 2005.</p>
<p style="text-align: justify;">Dimulai dari keinginan mengisi waktu luang dengan kegiatan yang produktif tanpa harus kehilangan waktu dalam mendidik anak-anaknya, bisnis kerajinan tangan produksi Titik Winarti dengan label “Tiara Handicraft” kini telah menjamah berbagai negara. Titik Winarti pun laris diundang ke berbagai forum untuk berbagi pengalaman tentang bisnisnya yang sejak awal sarat dengan muatan Corporate Social Responsibility didasari dengan keinginan berbagi dan membantu sesama.</p>
		
					<table class="image-caption align-center">
						<tr>
							<td>
								<div>
									<a href="" target="blank"><img src="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/themes/kernel-theme/timthumb.php?src=&amp;w=342&amp;h=227&amp;zc=1&amp;q=100" alt=""/></a>
									<p></p>
								</div>
							</td>
						</tr>
					</table>
<p style="text-align: justify;">Awalnya usaha Titik dibangun dengan modal mesin jahit bekas dari mertuanya tanpa karyawan. Dari 8 hanya memiliki 8 karyawan di akhir tahun 1990-an, kini usaha Titik berkembang pesat dengan 43 karyawan. Yang istimewa, dari 43 karyawan tersebut, hanya 5 di antara mereka yang bukan penyandang cacat. “Saya tidak pernah secara sengaja merekrut penyandang cacat,” kata Titik Winarti dalam sebuah perbincangan di kediamannya di kawasan Sidosermo, Surabaya. Sejak awal membangun usaha ini, saya tidak pernah menetapkan kriteria apapun. Tidak harus bisa menjahit, tidak harus berijasah, asal punya kemauan belajar dan mau bekerja keras, saya mau menerima,” kata Titik. Dari situlah, dari memiliki satu pekerja yang penyandang cacat, dengan metode gethok tular akhirnya banyak penyandang cacat yang datang untuk bekerja di Tiara Handicraft. Uniknya, para karyawan ini juga dianggap sebagai bagian dari keluarga Titik Winarti, karena mereka makan dan tidur bersama keluarga Titik.</p>
		
					<table class="image-caption align-center">
						<tr>
							<td>
								<div>
									<a href="" target="blank"><img src="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/themes/kernel-theme/timthumb.php?src=&amp;w=342&amp;h=227&amp;zc=1&amp;q=100" alt=""/></a>
									<p></p>
								</div>
							</td>
						</tr>
					</table>
<p style="text-align: justify;">Usaha Titik yang dilandasi semangat membantu sesama inilah yang membuatnya memenangkan kompetisi UKM yang digelar oleh Universitas Indonesia di tahun 2004. “Ketika memberikan presentasi di depan tim juri di Jakarta, saya mempresentasikan tentang usaha saya yang justru tidak menggunakan prinsip manajemen modern atau teori bisnis apapun.. Sebagai contoh, ada produk yang memerlukan 1 orang tenaga kerja yang normal, tetapi karena dikerjakan oleh penyandang cacat, maka dibutuhkan 2 orang untuk menyelesaikan produk tersebut. Dalam kacamata bisnis, saya dirugikan karena ongkos produksi menjadi lebih besar. Tetapi saya memiliki argumen sederhana bahwa dalam teori manajemen modern, ada satu hal yang terlupakan yaitu konsep “rejeki”. Allah sudah menjanjikan bahwa setiap hambanya memiliki rejekinya sendiri. Dengan menggunakan tenaga kerja dua orang, maka ada dua jalan rejeki yang terbuka sementara dengan satu tenaga kerja, hanya satu pintu rejeki yang dibuka Allah. Alhamdulillah, konsep “nyeleneh” yang berdasar prinsip lillahi ta’ala ini justru membawa saya menjadi wakil Indonesia untuk hadir di sidang PBB di New York tahun 2005,” kata Titik</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba di New York, Titik sama sekali tak berpikir bahwa ia harus menyampaikan pidato. “Ketika ditanya konsep pidato saya, saya langsung kaget karena saya tak menyiapkan pidato apapun,” kenang Titik. Akhirnya hanya bermodal Bismillah, Titik menyampaikan pidatonya tanpa konsep. “Mungkin karena penerjemah saya dari UI sangat pandai dalam menyampaikan isi pidato saya jatah waktu 10 menit yang diberikan menjadi molor, bahkan tak sedikit peserta sidang yang menangis ketika saya menyampaikan bahwa penyandang cacat sering tak kebagian tempat di dunia kerja,” kata Titik sambil tertawa. Di akhir pidato, para hadirin pun berdiri memberikan standing-ovation. Istri Sekjen PBB Kofi Anan pun menyampaikan apresiasinya. Ternyata konsep yang sering disebut sebagai Corporate Social Responsibility bisa dimulai sejak awal bisnis didirikan, tidak hanya ketika sukses atau sekedar untuk menggugurkan kewajiban.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepulang dari menghadiri sidang PBB, usaha Titik pun makin dikenal. Tahun 2007, dia diundang oleh pemerintah A.S. untuk ke Amerika dan belajar tentang usaha kecil menengah serta kewirausahaan di A.S.Hasilnya, dia membangun jaringan bisnis untuk memasok produk ke pengusaha A.S. yang menjalankan bisnis “batik tambal” di Amerika. Tak lama berselang, ia pun juga berkesempatan mengikuti pameran usaha di Australia dan produknya tak pernah absen di berbagai pameran kerajinan tingkat nasional maupun internasional.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagi saya, pencapaian tertinggi bagi seorang wanita adalah ketika ia bermanfaat bagi keluarganya, terutama bisa menjadi pendamping anak-anaknya tumbuh dewasa,” kata Titik sambil menggendong si bungsu yang masih berusia 4 tahun. Dengan menjalankan bisnis tersebut, kata Titik, ia tak kehilangan waktu sedetik pun untuk mendampingi keempat anaknya tumbuh dewasa. “Dan yang terpenting tak hanya keluarga yang mendapatkan manfaat dari usaha saya, tapi juga para karyawan yang sudah menjadi bagian keluarga saya,” kata Titik menutup perbincangan di suatu pagi di kediaman sekaligus tempat produksinya di kawasan Perumahan Sidosermo Surabaya. Sementara itu, di ruang kerjanya beberapa mahasiswa sudah menunggu giliran untuk “berguru” dari Titik dalam rangka penulisan tugas akhir kuliah tentang kewirausahaan. Ya, Titik Winarti, adalah sumber inspirasi bagi banyak orang. Tak terkecuali saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Esti Durahsanti</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/inspirasi-dari-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sunday Profile: Meeghan Henry, Miss Teen Asia USA</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/sunday-profile-meeghan-henry-miss-teen-asia-usa/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/sunday-profile-meeghan-henry-miss-teen-asia-usa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 01:46:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cindy Frishanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Front]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=11515</guid>
		<description><![CDATA[Teenager Meeghan Henry seems like a young woman in a hurry. A university student and accomplished singer, the Indonesian-born 17-year-old is also the current Miss Teen Asia USA. California-based Meeghan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2012/01/Miss-Teen-Asia-USA.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-11518" title="Miss Teen Asia USA" src="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2012/01/Miss-Teen-Asia-USA.jpg" alt="" width="315" height="208" /></a></p>
<p>Teenager Meeghan Henry seems like a young woman in a hurry. A university student and accomplished singer, the Indonesian-born 17-year-old is also the current Miss Teen Asia USA. California-based Meeghan balances the work that comes with the title, an ambitious music career and her work load at the University of La Verne in California, where she is studying broadcast TV.</p>
<p>As an aspiring pop star, Meeghan has also released a full-length album titled “When I’m 18,” which includes 12 original tracks, mostly written by Meeghan.</p>
<p>As Miss Teen Asia USA, Meeghan said she is using the platform to push positive messages to young people about ending bullying, and staying away from alcohol and drugs. She is also promoting Indonesia to the world.</p>
<p>The Jakarta Globe interviewed Meeghan by email to find out more about her experience as Miss Teen Asia USA 2011, her Indonesian roots and her quest for stardom.</p>
<p><strong>Tell us about your duties as Miss Teen Asia USA? </strong></p>
<p>Once the crown was put on my head, the rest was up to me. Nothing is going to happen if I don’t take action. I can’t just wait for an opportunity to come along. I have to go find the opportunities myself. This reign only lasts for one year and it’s a once in a lifetime experience, so I’m willing to do whatever I need to do.</p>
<p>I travel a lot and I also get to visit different organizations and charities and spread my platform message. It’s such a fulfilling thing.</p>
<p>My platform focuses on the younger generation, and it’s all about living above the influence [of drugs]. I want to spread the message that you don’t have to succumb to society’s pressures to live a successful life.</p>
<p><strong>As Miss Teen Asia USA, what can you contribute to Indonesia? </strong></p>
<p>I think my job as Miss Teen Asia USA and as a native-born Indonesian is to promote my home country along with other Asian countries. Not a lot of people know about Indonesia, although we are the fourth most populous country in the entire world, the third largest democracy and we have more than 17,000 islands.</p>
<p>People usually know Indonesia, maybe, for the tsunami we had a few years back and possibly Bali, but those aren’t the only things the country offers. There are so many islands, there are so many different traditions and cultures and they’re all beautiful. I think if people find that, they would embrace the Indonesian culture. My job is to bring Indonesia to people’s attention.</p>
<p><strong>How have you promoted Indonesia as Miss Teen Asia USA? </strong></p>
<p>I actually just did the 123rd Annual Rose Parade! It was so much fun! I got to ride on the ‘Wonderful Indonesia’ float, which won the President’s Trophy, and I got to ride on it with Raul Rodriguez, who designed the float. The float was actually his 500th float, too, so it was a big deal.</p>
<p><strong>Why did you decide to enter Miss Teen Asia USA? </strong></p>
<p>I’ve always thought that it would be a good thing to dip my fingers into as many different things as possible while I’m still young to get some experiences under my belt, and pageants were always something I loved to watch. The girls were huge role models to me, so I thought to myself, ‘I want to be like them one day.’ Why not start now?</p>
<p>So I entered the pageant, and it was an amazing experience. I learned so many things, from etiquette skills to keeping my poise to self confidence. I also learned about other Asian cultures along with my own, and I gained lots of friends, two of which I consider among my best friends now.</p>
<p><strong>What do you enjoy about being Miss Teen Asia USA? </strong></p>
<p>I love everything about being Miss Teen Asia USA. Of course, I love going to red carpet events and all the perks that come with the title, but I also love meeting kids and hearing them tell me that they want to be like me when they grow up. It’s the best feeling in the world because I always thought the same thing about people like Miss America and Miss Universe. Now, I’m one of them, and I’m glad I can help make an impact with my title as well.</p>
<p><strong>What were some of the biggest challenge of the competition? </strong></p>
<p>For me, the biggest challenge was accepting myself. I was always comparing myself to other girls to see how I compared to them in the competition when I should’ve been focusing on myself. It was really hard not to let myself think about that kind of stuff because it was a competition, but towards the end, I realized that I was beautiful no matter what.</p>
<p><strong>You are also an aspiring singer. What do you like about singing? </strong></p>
<p>Singing is my form of expression. It’s even better when I sing songs that I wrote myself because I completely relate to the song. When I sing, I’m completely vulnerable, and it’s hard to feel that way. But when you have people who tell you that you’re a great singer or have people who just like the music you make, it makes it all worthwhile.</p>
<p><strong>What was your inspiration for the song ‘When I’m 18’? </strong></p>
<p>When I wrote ‘When I’m 18,’ I was in a dream state. I was just super happy that day and I was thinking about the future, and that’s how I came up with the song.</p>
<p><strong>Where have you performed? </strong></p>
<p>I’ve performed my songs at so many places. I was on a school tour last year so I performed at a ton of schools in Southern California, but I’ve also been called on to perform at places such as the Asian American Expo. I sang at the Saban Theatre in Beverly Hills for my CD release and Colby O’Donis also sang with me. I’ve sung at the House of Blues and Whisky A Go Go, among many other places.<br />
<strong><br />
You live in California, what do you miss most about Indonesia?</strong></p>
<p>I miss the food. I love ayam goreng kalasan , mie goreng and sate ayam. However, I visit Indonesia a lot. Probably every other year, if not every year.</p>
<p><strong>What are some of your hobbies? </strong></p>
<p>I love movie editing. I also like photography. In fact, I’m taking a photography class at school right now, and it’s really fun.</p>
<p><strong>What are your plans for the future? Any upcoming projects? </strong></p>
<p>I’m just focusing on my school, singing and being Miss Teen Asia USA. Between all of that, I have to find time for myself and hanging out with friends and being a regular teenager, but I do have a lot of goals for myself in the future. I’m hoping my music career will progress and I want to be a United Nations Goodwill Ambassador.</p>
<p>But I’m living life one day at a time.</p>
<p>Source: The Jakarta Globe</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/sunday-profile-meeghan-henry-miss-teen-asia-usa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesian Brings Tintin to Life</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/indonesian-brings-tintin-to-life/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/indonesian-brings-tintin-to-life/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 07:26:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cindy Frishanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=11144</guid>
		<description><![CDATA[It takes whole teams of people to create the subtle details of animated characters in movies. The redness of cheeks, the hairs on necks and the expressiveness of eyes are]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2011/12/Rini-Sugianto.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-11145" title="Rini Sugianto" src="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2011/12/Rini-Sugianto.jpg" alt="" width="315" height="208" /></a></p>
<p>It takes whole teams of people to create the subtle details of animated  characters in movies. The redness of cheeks, the hairs on necks and the  expressiveness of eyes are all the result of armies of digital laborers  whose collaborative efforts create movie magic but whose names are  buried deep in the credits. The animators are often the unsung heroes.</p>
<p>But  it’s a labor of love, and for Rini Sugianto, going into animation was  probably one of the best decisions she could have made. Now she has made  a career out of her passion, which earned her a job animating for  Steven Spielberg’s film “The Adventures of Tintin: Secret of the  Unicorn.”</p>
<p>“I always consider myself lucky because I am  able to work on something that I love,” Rini said. “Animation is a tough  industry, but if you are passionate about it then it is a great, fun  job.”</p>
<p>Having grown up with the classic Belgian comic book  “Tintin,” the 31-year-old jumped at the chance to work on the feature  film even though it meant she would have to move across the Pacific  Ocean to Wellington, New Zealand. That’s where Weta Digital, “Tintin”  producer Peter Jackson’s animation company, was located.</p>
<p>“I was  working in Los Angeles when a friend of mine asked me if I wanted to  apply to Weta,” Rini said. “So, I applied, and to my surprise, I  actually got a call back. After two weeks of talking back and forth, I  finally decided that it was time to pack up and move to New Zealand.”</p>
<p>Jackson  co-founded Weta in the 1990s, and the company supplied the special  effects for the “Lord of the Rings” trilogy and “King Kong.”</p>
<p>For  Tintin, Rini worked as a character animator. “I had to animate all the  characters that are in the shots,” she said. “In Tintin, I worked on 70  shots, so I think that covers all the characters in the movie.”</p>
<p>As one of 80 animators from around the world, Rini’s work on “Tintin” lasted a little over a year. Rini was one of four Indonesians  working at the company. “One of the things I like about Weta is that  the people are very diverse,” Rini said. “And I worked with almost  everyone in the company from different departments because it was a  collaborative project.”</p>
<p>To some extent, that  collaboration included the director. Each week during production, Rini  saw the director review with Spielberg via a copy of the video  conference.</p>
<p>“Unfortunately I could only see him on screen,” Rini  said. “Only the visual effects supervisors got to interact with  Spielberg directly. But working for him definitely made me nervous, and  the pressure was there. You always wanted to do a good job and hear him  say, ‘Great animation! It’s approved!’</p>
<p>“I love working for him  because he definitely knows what he wants and how he wants it. His notes  were always clear. He’s a great director.”</p>
<p>One of Rini’s  biggest challenges was animating the characters that Georges Prosper  Remi, best known as Herg, the writer and artist of the “Tintin” series,  had famously created.</p>
<p>“The comic is very close to a lot of  people, so I had to take that into consideration,” she said. “The images  of the characters were there, and I couldn’t go too far from it. But  the animators were allowed to be creative as long as they were approved  by the decision makers.”</p>
<p>Members of the production team had the  chance to watch the finished project together at Embassy Theater in  Wellington last month.</p>
<p>“It was great, the vibe was awesome and  seeing my name on the big screen was super exciting too,” Rini said.  “It’s been a great experience coming to New Zealand and working at Weta.  I’m also a very outdoors-y person, so I knew I would love the country’s  nature. All the stories about the country’s beauty are true.”</p>
<p>Rini  grew up in Teluk Betung, Lampung, and her childhood revolved around  sports. She was a swimmer throughout elementary and middle school. Her  introduction to art came in the form of comics.</p>
<p>“My brother and I  didn’t grow up around the arts, but we certainly loved comic books, and  there was an abundance of them at our house,” Rini said.</p>
<p>The  animator graduated from Parahyangan University in Bandung with a degree  in architecture. She worked at a firm in Jakarta that produced 3-D  presentations for clients; that was her first taste of the world of  computer graphics. Eventually, Rini’s interest took her to the Academy  of Arts in San Francisco.</p>
<p>“When I was at school, I realized  there were many aspects of 3-D, so I decided to focus on animation after  I took my first class on Maya 3-D animation software,” Rini said. “At  the end of the semester, I asked my teacher which area he thought I was  most successful in. He suggested that I focus on animation. I’m glad I  followed his advice.”</p>
<p>When Rini started studying digital  animation in the United States, she felt she was behind her classmates.  Most of them already had experience in the field and a solid background  in the craft. That made Rini feel like she needed to work harder to  catch up with her peers.</p>
<p>“I think the main difference between  the animation industry in Indonesia and the United States is in the  foundation of it,” Rini said. “A lot of schools in the States try to  give students a solid foundation, so when they start doing their own  project, they already have a good base.</p>
<p>“In Indonesia many animators seem to be missing the basics. You can’t learn to run before learning how to walk. But I do think Indonesian animation has the potential to be a good industry. Other Asian countries can do it. Why can’t we?”</p>
<p>Rini  looks forward to doing more movies with Weta. She is currently working  on “The Avengers,” which will be released next year.</p>
<p>“‘Tintin’ was definitely a stepping stone for my career, it’s my first movie job and I’m hoping to do more,” Rini said.</p>
<p>Taken from: The Jakarta Globe</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/indonesian-brings-tintin-to-life/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesian Snaps Up Top National Geographic Photography Award</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/indonesian-snaps-up-top-national-geographic-photography-award/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/indonesian-snaps-up-top-national-geographic-photography-award/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 07:22:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cindy Frishanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=11141</guid>
		<description><![CDATA[Indonesian photographer Shikhei Goh has won the prestigious 2011 National Geographic Photography Contest with a spectacular image of a dragonfly in the rain in Riau. According to reports, Goh will]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2011/12/NatGeo-photo.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-11142" title="NatGeo photo" src="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2011/12/NatGeo-photo.jpg" alt="" width="315" height="208" /></a></p>
<p id="bodytext">Indonesian photographer Shikhei Goh has won the prestigious 2011 National Geographic Photography Contest with a spectacular image of a dragonfly in the rain in Riau.</p>
<p>According to reports, Goh will receive $10,000 and have his winning image published in the international edition of National Geographic magazine.</p>
<p>Goh, who won the grand prize as well as nature categories, beat out more than 20,000 other photographs submitted by amateur and professional photographers from more than 130 countries.</p>
<p>In  a photo caption credited to Goh, the Indonesian wrote that he was out  taking photographs of insects, “as I normally did during macro photo  hunting.”</p>
<p>“I wasn’t actually aware of this dragonfly since I was  occupied with other objects. When I was about to take a picture of it,  it suddenly rained, but the lighting was just superb. I decided to take  the shot regardless of the rain. The result caused me to be overjoyed,  and I hope it pleases viewers.”</p>
<p>Tim Laman, one of three National  Geographic magazine photographers who judged the contest, described the  photograph to nationalgeographic.com as a “very striking  macrophotography image that rose to the top of the nature category for  me because of its originality, beautiful light, rare action in a  close-up image, as well as its technical perfection.”</p>
<p>Taken from: The Jakarta Globe</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/indonesian-snaps-up-top-national-geographic-photography-award/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yes, They Can: Indonesian Women Awarded for Community Contributions</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/yes-they-can-indonesian-women-awarded-for-community-contributions/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/yes-they-can-indonesian-women-awarded-for-community-contributions/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 07:15:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cindy Frishanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=11138</guid>
		<description><![CDATA[Traditionally, the only roles available to women in Indonesia were “masak, macak dan manak” (cooking, dressing up and bearing children). But today, this is far from the truth. With better]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Traditionally, the only roles available to women in Indonesia were  “masak, macak dan manak” (cooking, dressing up and bearing children).  But today, this is far from the truth.</p>
<p>With better education and  increased opportunities, Indonesian women are taking more active roles.  They are now leaders, motivators and key decision-makers in their  families, businesses and society.</p>
<p>On Dec. 8, Tupperware  Indonesia honored 52 exceptional women who have made differences in  their communities with the “Tupperware She Can!” awards.</p>
<p>“Despite  their gentle physiques, women have a very strong power and influence,”  said Nining Pernama, managing director of Tupperware Indonesia. “And as  we looked around, we found those who use their skills and knowledge to  educate, enlighten and empower other people around them.”</p>
<p>The 52  winners received trophies, certificates and prize money totaling Rp  832.5 million ($92,000) for their life-changing social works.</p>
<p>“I’ve  often heard that the greatest power of Indonesia is its natural  resources,” said Rick Goings, chairman and chief executive of Tupperware  Brands. “I can tell you that in the many times I’ve been here and  through the many people that I’ve gotten to know, the greatest power in  Indonesia is its women.</p>
<p>“The ‘She Can!’ women are not only symbols but are also role models for many young women in Indonesia for the future.”</p>
<p>According to the 2010 census, there are nearly 240 million Indonesians, about half of whom are women.</p>
<p>“With  that many women in the population, women are an asset and hold a lot of  potential for this country,” said Sri Danti Anwar, deputy minister for  women’s empowerment and child protection. “These women inspire their  peers to work as equals to men, to be the best they can be and to  empower other people around them.’’</p>
<p>Each winner has an amazing story, and here we highlight three of these strong and inspirational women.</p>
<p><strong>Asmarani Rosalba, Jakarta </strong></p>
<p>Under  the pen name “Asma Nadia,” this 39-year-old has written more than 40  fiction and non-fiction books, as well as short stories and song lyrics.</p>
<p>Two of her best-selling novels, “Emak Ingin Naik Haji” (“Mom  Wants to Go on a Hajj Pilgrimage,” 2009) and “ Rumah Tanpa Jendela”  (“House Without Windows,” 2011) have been made into movies. A third  adaptation, “Ummi Aminah,” will be in theaters in January.</p>
<p>“I’ve  never thought I’d be who I am now,” she said. “Our family was poor and I  was raised in a small, dilapidated house near the railway. But I have a  wonderful mother who has always encouraged me to dream big.”</p>
<p>Her  mother, Maria Eri Susianti, stayed by Asmarani’s side when she was  diagnosed with severe heart and lung problems in her teens. At the same  time, doctors discovered five tumors on her neck.</p>
<p>“I spent so  many days in the hospital when I was young,” she said. Yet it was during  those dark days that her appetite for reading grew. Her mother brought a  lot of books to accompany her in the hospital.</p>
<p>Today, Asmarani  is the chief executive of her own company, Asma Nadia Publishing House,  and chairwoman of her foundation, Yayasan Asma Nadia.</p>
<p>Through  Yayasan Asma Nadia, she has set up 37 libraries in Java, Kalimantan and  Papua, as well as two libraries in Hong Kong for Indonesian migrant  workers.</p>
<p>“This event has inspired me to do more,” she said. “I  met [social advocate and fellow award winner] Roostien Ilyas recently  and we are planning to create libraries in juvenile detention halls  around Jakarta.”</p>
<p><strong>Ainy Fauziyah, Bekasi </strong></p>
<p>“Everyone’s born a glorious winner,” motivational coach Ainy Fauziyah said. “But it’s up to them to achieve their dreams.”</p>
<p>Born in Bangil, a small town in East Java, in 1969, Ainy had to work hard to achieve her own dreams of “making it big.”</p>
<p>“Our  family wasn’t rich,” she said. “My father’s a farmer and my mother’s a  seamstress. Yet, when I was a child, I saw them working very hard for  their children without complaining. I guess it inspired me to work hard  to try to make them proud.”</p>
<p>Ainy had a good career as the  assistant to the planning manager at a state-owned public housing  business in Jakarta, but she decided to leave it all behind when a  friend asked her to help rebuild Aceh after it was hit by the December  2004 tsunami.</p>
<p>“No one understood my decision back then. Only my husband stood by me. He truly understands my heart for the people.”</p>
<p>In May 2005, Ainy joined a nonprofit international organization in Aceh.</p>
<p>“I was the only woman and the only Indonesian among the shelter coordinators in the organization,” she said.</p>
<p>She rebuilt hundreds of homes in Lhokseumawe, in northwestern Aceh.</p>
<p>“It’s easy to build homes, but it’s really difficult to rebuild the people’s lives after the disaster,’’ she said.</p>
<p>Yet Ainy saw that trial as an opportunity.</p>
<p>Rebuilding  requires a lot of manpower. While Acehnese men helped with the  construction of houses, Ainy encouraged the local women to help paint  them.</p>
<p>“We gave them a little training and they did a wonderful  job,” she said. “They were also very proud of themselves because they  could earn a salary for themselves and their family during the difficult  time.”</p>
<p>Her painting team grew from 35 to 500 women within a couple of years.</p>
<p>“It’s  touching to watch them gain confidence with their new skills,” she  said. “Some of them could even put their children through school with  their earnings.”</p>
<p>Her program was considered an exemplary success, and Ainy was invited to speak at international conferences.</p>
<p>Today,  she is back in Jakarta. She manages her own company, Ainy Coaching,  offering motivational and leadership programs in Indonesia and abroad.</p>
<p>But  once a week, you can find her at Rumah Dhuafa Indonesia (Home for  Indonesian Orphans) in Bekasi, giving motivational lectures to less  fortunate kids.</p>
<p>“I want to build their hopes and confidence for  the future,” Ainy said. “If I can overcome difficulties and achieve my  dreams, they can do it also.”</p>
<p><strong>Nuraeni, Makassar </strong></p>
<p>Nuraeni  was a housewife and mother of three young children in Paotere,  Makassar, when her husband, a fisherman, died from a motorbike accident  in 2004.</p>
<p>With no work experience, she scrambled to make a living. She opened a small warung at her house but could not earn enough.</p>
<p>Her life changed in 2006, when she went to a workshop organized by an NGO, which taught her a process to preserve fresh fish.</p>
<p>Nuraeni, 42, then collected leftover fish from the markets to make abon ikan tuna (preserved shredded tuna).</p>
<p>Her  tasty products became popular in Makassar, but Nuraeni did not stop at  that. She started looking around and saw the dire poverty experienced by  many fishermen’s families in her village.</p>
<p>“Many have become  ensnared by punggawas [moneylenders] just to make ends meet,” she said.  “The moneylenders then take 50 to 60 percent of their daily catch as  payment for their debts. The fishermen barely had enough to provide for  their families and had to borrow more.’’</p>
<p>To help break this  vicious cycle, Nuraeni founded the Fatimah Az-Zahra cooperative in 2007.  Fishermen’s wives learn to make abon ikan tuna and preserved boneless  ikan bandeng (milkfish) to sell in the markets. With the additional  income, the women can help their husbands repay their debt.</p>
<p>But not everyone is impressed with Nuraeni’s efforts.</p>
<p>“I’ve received countless death threats from moneylenders,” Nuraeni said.</p>
<p>They have also started rumors among the fishermen’s families that Nuraeni was just using them to get rich herself.</p>
<p>“But  I explained everything and invited them to take a look at my  [financial] books,’’ she said. “I’ve got nothing to hide and nothing to  be afraid of.”</p>
<p>The Fatimah Az-Zahra cooperative now includes more than 200 women.</p>
<p>“I’m happy to be part of a positive change among my people,” she said.</p>
<p>Taken from: The Jakarta Globe</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/yes-they-can-indonesian-women-awarded-for-community-contributions/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajarlah dari Indonesia</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/belajarlah-dari-indonesia/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/belajarlah-dari-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 13:45:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mrusydan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[MSN]]></category>
		<category><![CDATA[Politics & Law]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=11109</guid>
		<description><![CDATA[Jumat siang itu saya sedang membaca kolom di sebuah koran dengan judul yang menyinggung tentang pluralisme di Indonesia, ternyata kolom itu merupakan hasil tulisan dari seorang warga Amerika Serikat yang]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2011/12/77385034.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-11110" src="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2011/12/77385034-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Jumat siang itu saya sedang membaca kolom di sebuah koran dengan judul yang menyinggung tentang pluralisme di Indonesia, ternyata kolom itu merupakan hasil tulisan dari seorang warga Amerika Serikat yang tinggal di Michigan. Sepanjang tulisan itu saya perhatikan sepertinya ia mengagumi Indonesia yang bisa bersatu dengan segala keragaman yang ada. Saya setuju dengan tulisannya yang kurang lebih menyatakan jika Indonesia sudah lebih bisa memahami dan menjalani pluralisme terlebih dahulu, bahkan jauh dari sebelum kemerdekaan.</p>
<p>Saya jadi teringat ketika saat itu Amerika sempat beberapa kali mengatakan indonesia harus lebih demokratis, indonesia harus lebih bisa menghargai hak asasi manusia dan masih banyak lagi. Menurut saya, Indonesia sudah tidak perlu lagi diajari masalah pluralisme dan demokrasi. Indonesia sudah jauh lebih demokratis dari negara yang disebut sebagai pelopor demokrasi, Amerika Serikat. mengapa?</p>
<p>Amerika serikat baru membolehkan wanita untuk mengikuti pemilu pada tahun 1920, setelah sebelumnya wanita tidak boleh mengikuti pemilu. Sedangkan indonesia tidak pernah ada masalah wanita yang terdiskriminasi tidak bisa mengkuti pemilu, bahkan wanita bisa berpartisipasi sejak pemilu pertama di Indonesia. Bahkan warga Afro-Amerika pun baru bisa mendapat kesetaraan setelah beberapa tahun kematian Martin Luther King yang berarti lama setelah Indonesia merdeka.</p>
<p>Selain itu, Indonesia sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia dapat menerima Megawati Soekarnoputri sebagai presiden wanita pertama di Indonesia, sedangkan Barrack Obama, merupakan presiden kulit hitam pertama bagi Amerika. Indonesia tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa menjalankan semua prinsip demokrasi itu. Selain itu Jerman pun memilih belajar dari Indonesia tentang pluralitas dan agama, mengingat masyarakat Jerman yang semakin beragam dengan warga pendatang dari Turki.</p>
<p>Bahkan selain itu, prinsip demokrasi dan pluralis pun sudah terpampang jelas melalui lambang garuda Indonesia. Lambang bintang menggambarkan ketuhanan, bermacam-macam agama tapi tetap satu Indonesia. Lambang pohon beringin sebagai persatuan Indonesia. Lambang banteng sebagai lambang demokrasi, lambang dari sila keempat. Padi dan Kapas sebagai lambang keadilan bagi seluruh rakyat indonesia. Sedangkan rantai melambangkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Semua itu terikat dalam satu “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti “meskipun berbeda tetap satu jua.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/belajarlah-dari-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Reformer who Walks the Talk</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/a-reformer-who-walks-the-talk/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/a-reformer-who-walks-the-talk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 08:53:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akhyari Hananto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=10942</guid>
		<description><![CDATA[In late October, when President Susilo Bambang Yudhoyono announced a long-awaited Cabinet reshuffle, many analysts derided the move as reflecting little more than a desire to shore up political support]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">In late October, when President Susilo Bambang Yudhoyono announced a long-awaited Cabinet reshuffle, many analysts derided the move as reflecting little more than a desire to shore up political support in Parliament rather than a serious attempt to initiate real change. They had a point. Many party hacks, including some who had been implicated in graft cases, were retained in the new line-up.</p>
<p style="text-align: justify;">Since then, however, some observers have been pointing to Cabinet changes that could lead to important reforms. One of the most notable was the announcement that Dahlan Iskan, the former CEO of the Jawa Pos newspaper group, would be the new Minister of State Enterprise.</p>
<p style="text-align: justify;">Indonesia&#8217;s state enterprises have long had a poor reputation. Badly managed and often seen as cash cows for corrupt politicians, most have successfully resisted reform efforts for years. Dahlan replaces Mustafa Abubakar, who had been widely criticized over irregularities in the initial public offering of state-owned Krakatau Steel last year.</p>
<p style="text-align: justify;">Having introduced wide-ranging reforms within state-electricity company Perusahaan Listrik Negara (PLN) since his appointment as president-director of the utility in 2009, Dahlan is widely known for his managerial ability. But this is not his only strength. The 60-year-old is already quite wealthy and does not appear to have any political ambitions. As a result, he is unlikely to be unduly influenced by corrupt politicians or businessmen. He also enjoys the potential support of one of the largest newspaper groups in the country when facing resistance to his reform efforts.</p>
<p style="text-align: justify;">Dahlan&#8217;s deep understanding of the newspaper business has made him very media savvy. Reports say he wept when the media asked for his reaction to his ministerial appointment: &#8220;I told the president that I am saddened to leave the PLN because my friends there are working hard.&#8221; Such comments are not the sort of thing normally expected from newly appointed Indonesian Cabinet ministers.</p>
<p style="text-align: justify;">Observers noted that after the swearing-in ceremony Dahlan drove himself and his wife to his new office rather than employ the services of a chauffeur. The newly installed vice-minister and his wife sat in the back seat.</p>
<p style="text-align: justify;">Such unassuming behavior also characterized Dahlan&#8217;s actions when he was in charge of the PLN. Unlike other ministers and senior government officials, Dahlan walked to the PLN office at Jakarta&#8217;s block M every day. The habitual 30 minute stroll, together with his preference for sneakers rather than black leather shoes (even when attending meetings at the presidential palace), set him apart from other national figures.</p>
<p style="text-align: justify;">Agung Wicaksono, a researcher in state-owned enterprises at the Institute of Technology at Bandung, notes that such images appeal to Indonesians fed up with the ostentatious lifestyles of the nation&#8217;s current crop of politicians. &#8220;Dahlan walks the talk,&#8221; he told me in Jakarta last week.</p>
<p style="text-align: justify;">Dahlan&#8217;s public statements since becoming Minister of State Enterprises suggest he will focus on streamlining his ministry&#8217;s bureaucracy. One target involves reducing the number of meetings and reports delivered to his office by 50 percent by the end of the year: &#8220;What I want to do first is reduce ministerial intervention on state enterprises to give more freedom and authority to the CEOs to carry out corporate actions.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">There is also a determination to cut through the bureaucratic inertia and political haggling. The long-delayed establishment of a holding company for state-owned plantation firms, for example, is to be completed by the end of this year.</p>
<p style="text-align: justify;">Even so, Dahlan may not have everything his way. Unlike in the PLN, where he had wide-ranging authority, he must now cooperate with other ministers to achieve his goals. Asset sales and initial public offerings on the stock market, for example, require the assent of the Finance Ministry. Dealing with the state railways and oil-giant Pertamina also requires the cooperation of the Transport and Energy Ministries respectively.</p>
<p style="text-align: justify;">Indeed, conflict with other government institutions could become an important obstacle if not carefully handled. Sources say that during his time at the PLN, Dahlan sometimes made quick decisions designed to achieve the goals of his own institution that did not always take into account the perspectives of other government agencies.</p>
<p style="text-align: justify;">But ruffling a few feathers within Indonesia&#8217;s moribund bureaucracy is not necessarily a bad thing. As Agung notes, many Indonesians may even support him &#8216;if the targets are vested interests or insensible regulations&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Under President Yudhoyono, Indonesia has become known for its macroeconomic stability, fiscal discipline and strong GDP growth. Long-term development, however, also depends on the extent to which the country is run by capable ministers who can deliver on promised reforms, improve bureaucratic efficiency and stamp out corruption.</p>
<p style="text-align: justify;">For those who wish Indonesia well, Dahlan offers the hope of better things to come.</p>
<p style="text-align: justify;">Reprinted courtesy of Straits Times Indonesia. To subscribe to Straits Times Indonesia and/or the Jakarta Globe call 021 2553 5055.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/a-reformer-who-walks-the-talk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Train will perform &#8220;Hey, soul sister&#8221; in Jakarta</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/train-will-perform-hey-soul-sister-in-jakarta/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/train-will-perform-hey-soul-sister-in-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 00:37:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arroisi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=10486</guid>
		<description><![CDATA[Train, pop rock band from San Francisco, United States, promised to bring joy when they held a concert in Jakarta on December 5, 2011. &#8220;We will come in the next]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2011/11/139577_514238_Train_9347743_medium.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-10487" src="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2011/11/139577_514238_Train_9347743_medium.jpg" alt="" width="600" height="449" /></a></p>
<p>Train, pop rock band from San Francisco, United States, promised to bring joy when they held a concert in Jakarta on December 5, 2011.</p>
<p>&#8220;We will come in the next few weeks to perform in Jakarta. You will feel a lot of fun and excitement,&#8221; says Train vocalist, Patrick Monahan, when talking with the International Kompas.com through direct channels, in the U.S.</p>
<p>Not just bringing pleasure, Monahan, who represents Jimmy Stafford (guitar and vocals) and Scott Underwood (drums), also gives a little glimpse of the songs on his appearance later in Jakarta.</p>
<p>&#8220;We are excited at all for our performance. We can not wait to sing &#8216;Hey, Soul Sister&#8217;,&#8221; said Monahan.</p>
<p>For Train, his appearance in Jakarta later on will be the first. Even so, he already knew a lot about Jakarta from other bands from the U.S., Boyslikegirls, who had a gig in Jakarta on 25 January 2010.</p>
<p>&#8220;Yes we&#8217;re really excited, this will be our inaugural tour in Indonesia. We know much about Jakarta from our friends at Boyslikegirls. They say &#8216;Come to Jakarta, feel pleasure,&#8217;&#8221; Monahan story.</p>
<p>Take from Kompas Entertainment.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/train-will-perform-hey-soul-sister-in-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bravo, IAST Beat AC Milan Academy for a Intesa Sanpaolo Cup 2011 Champion</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/bravo-ac-milan-academy-beaten-by-iast/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/bravo-ac-milan-academy-beaten-by-iast/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2011 08:13:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arroisi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Sport]]></category>
		<category><![CDATA[IAST]]></category>
		<category><![CDATA[Intesa Sanpaolo Cup 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=10394</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia All-Star Team (IAST) aged 13-15 years to prove they are really worth for winning the  Intesa Sanpaolo Cup 2011, after the successful exhibition match 3-2 win over AC Milan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia All-Star Team (IAST) aged 13-15 years to prove they are really worth for winning the  Intesa Sanpaolo Cup 2011, after the successful exhibition match 3-2 win over AC Milan Academy.</p>
<p>The match kick-off at 17:30 local time, Monday, at the Centro Sportivo Pozzo took place with a fast tempo and exciting from the beginning whistle sounded.<br />
Both teams competed with the format of 2 x 40 minutes, in contrast with Intesa Sanpaolo Cup game that plays 25 minutes per round.</p>
<p><a href="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2011/11/w.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-10395" src="http://goodnewsfromindonesia.org/wp-content/uploads/2011/11/w.jpg" alt="" width="570" height="355" /></a></p>
<p>AC Milan Academy consists of players aged 14-15 years, and on average have a higher stature than the children of Indonesia. The victory achieved by this second generation of IAST  become a better performance than last year. Last year, the first generation that won the Cup in 2010 Intesa Sanpaolo should recognize the benefits of Milan Academy to score five goals without reply.</p>
<p>This victory was greeted by the players and spectators. There is a possibility the children of this second generation IAST called by President Susilo Bambang Yudhoyono to the State Palace.</p>
<p>According to plan, tomorrow afternoon IAST will play football in front of the cathedral in downtown Milan, the Duomo, before traveling to Malpensa Airport at 14:30. The group will transit in Dubai with Emirates plane before arriving at Soekarno-Hatta Airport on Wednesday afternoon.</p>
<p>News source: <strong>Goal.com</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/bravo-ac-milan-academy-beaten-by-iast/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mad Traveling on 365Indonesia</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/mad-traveling-on-365indonesia/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/mad-traveling-on-365indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 16:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ian</dc:creator>
				<category><![CDATA[365Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=10154</guid>
		<description><![CDATA[Hi everybody, we&#8217;d like to welcome you to our newest virtual adventure in Indonesia on 365Indonesia! Our very own dedicated-traveler team member will explore all kinds of different places in]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hi everybody, we&#8217;d like to welcome you to our newest virtual adventure in Indonesia on <strong>365Indonesia</strong>!</p>
<p>Our very own dedicated-traveler team member will explore all kinds of different places in Indonesia thru out the year. That&#8217;s right, for 365 days non-stop! That&#8217;s why we call it <strong>Mad Traveling on 365Indonesia</strong>, because beside he&#8217;s nick name is <a href="http://twitter.com/#!/madalkatiri" target="_blank"><strong>Mad</strong></a>, this travel plan is unbelievably crazy.</p>
<p>But no worries, he&#8217;ll do everything happily and wholeheartedly for your pleasure, so you know that this country offers much more beyond your already famous Jakarta-Bali-Lombok. And we know how challenging it can be to actually visit those exciting places one by one. Therefore, we&#8217;ll take you there virtually.</p>
<p>And pssst&#8230; once you know that we have those beautiful places in this part of the earth, planning your next vacation should be quite easier, choosing it from this list. Or, actually it would be a fun dilemma of which one to choose ^_*</p>
<p>So, stay connected and ready to roll!</p>
<p>By the way, did we mention that we&#8217;ll give away merchandises with fun games?</p>
<p>Here&#8217;s our adventure so far&#8230;</p>
<p><a title="Permanent Link to 365Indonesia Day 1 – Derawan Islands" rel="bookmark" href="../2011/10/29/365indonesia-day-1-derawan-islands/">365Indonesia Day 1 – Derawan Islands</a>, East Kalimantan</p>
<p><a title="Permanent Link to 365Indonesia Day 2 – Sipiso Piso Fall" rel="bookmark" href="../2011/10/30/365indonesia-day-2-sipiso-piso-fall/">365Indonesia Day 2 – Sipiso Piso Fall</a>, North Sumatra</p>
<p><a title="Permanent Link to 365Indonesia Day 3 – The Crystal Clear Water of Tanjung Bira’s Kambing Island" rel="bookmark" href="../2011/10/31/365indonesia-day-3-the-crystal-clear-water-of-tanjung-biras-kambing-island/">365Indonesia Day 3 – The Crystal Clear Water of Tanjung Bira’s Kambing Island</a>, South Sulawesi</p>
<p><a title="Permanent Link to 365Indonesia Day 4 – Plebon Ceremony in Ubud, Bali" rel="bookmark" href="../2011/11/01/365indonesia-day-5-plebon-ceremony-in-ubud-bali/">365Indonesia Day 4 – Plebon Ceremony in Ubud, Bali</a></p>
<p><a title="Permanent Link to 365Indonesia Day 5 – Butterfly Fish in the Water of Kiluan Bay, Lampung" rel="bookmark" href="../2011/11/01/365indonesia-day-5-butterfly-fish-in-the-water-of-kiluan-bay-lampung/">365Indonesia Day 5 – Butterfly Fish in the Water of Kiluan Bay, Lampung</a></p>
<p><a title="Permanent Link to 365Indonesia Day 6 – The Hidden Beauty of Bloam Bay, Lombok" rel="bookmark" href="../2011/11/03/365indonesia-day-6-the-hidden-beauty-of-bloam-bay-lombok/">365Indonesia Day 6 – The Hidden Beauty of Bloam Bay, Lombok</a>, West Nusa Tenggara</p>
<p><a title="Permalink to  365Indonesia Day 8 – Sabesi Island, Lampung" rel="bookmark" href="../2011/11/04/365indonesia-day-8-sabesi-island-lampung/">365Indonesia Day 7 – Cemara Besar Island, Karimun Java, Central Java<br />
</a></p>
<p><a title="Permalink to  365Indonesia Day 8 – Sabesi Island, Lampung" rel="bookmark" href="../2011/11/04/365indonesia-day-8-sabesi-island-lampung/">365Indonesia Day 8 – Sabesi Island, Lampung</a></p>
<p><a title="Permanent Link to 365Indonesia Day 9 – Sunset in Tulamben, Bali" rel="bookmark" href="../2011/11/05/365indonesia-day-9-sunset-in-tulamben-bali/">365Indonesia Day 9 – Sunset in Tulamben, Bali</a></p>
<p><a title="Permalink to  365Indonesia Day 10 – Ngurbloat Beach, Maluku" rel="bookmark" href="../2011/11/07/365indonesia-day-10-ngurbloat-beach-maluku/">365Indonesia Day 10 – Ngurbloat Beach, Maluku</a></p>
<p><a title="Permalink to  365Indonesia Day 11 – An Evening at Borobudur, Jogja" rel="bookmark" href="../2011/11/08/365indonesia-day-11-an-evening-at-borobudur-jogja/">365Indonesia Day 11 – An Evening at Borobudur, Jogja</a></p>
<p><a title="Permanent Link to 365Indonesia Day 12 – Kiluan Island, Lampung" rel="bookmark" href="../2011/11/08/365indonesia-day-12-kiluan-island-lampung/">365Indonesia Day 12 – Kiluan Island, Lampung</a></p>
<p><a title="Permanent Link to 365Indonesia Day 13 – Bathing Elephant in Tangkahan, North Sumatra" rel="bookmark" href="../2011/11/10/365indonesia-day-13-bathing-elephant-in-tangkahan-north-sumatra/">365Indonesia Day 13 – Bathing Elephant in Tangkahan, North Sumatra</a></p>
<p><a title="Permanent Link to 365Indonesia Day 14 – Enjoying the Quiet Beach in Palambak Island" rel="bookmark" href="../2011/11/14/365indonesia-day-14-enjoying-the-quiet-beach-in-palambak-island/">365Indonesia Day 14 – Enjoying the Quiet Beach in Palambak Island</a></p>
<p><a title="Permanent Link to 365Indonesia Day 15 – The Silence of the Uninhabited Pombo Island, Maluku" rel="bookmark" href="../2011/11/15/365indonesia-day-16-the-silence-of-the-uninhabited-pombo-island/">365Indonesia Day 15 – The Silence of the Uninhabited Pombo Island, Maluku</a></p>
<p><a title="Permalink to  365Indonesia Day 16 – The Shy Nemo of Derawan Islands, East Kalimantan" rel="bookmark" href="../2011/11/17/365indonesia-day-16-the-shy-%e2%80%99nemo-derawan%e2%80%99-derawan-east-kalimantan/">365Indonesia Day 16 – The Shy Nemo of Derawan Islands, East Kalimantan</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/mad-traveling-on-365indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Air, Penting Nggak, Sih?</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/air-penting-ngga-sih/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/air-penting-ngga-sih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 02:25:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Fitriani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[MSN]]></category>
		<category><![CDATA[Nature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=10120</guid>
		<description><![CDATA[Tanpa kita sadari, air merupakan elemen utama kehidupan yang telah memberikan manfaat tidak ternilai bagi kelangsungan hidup umat manusia. Air adalah salah satu sumberdaya yang mendukung keberlangsungan hidup manusia dan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanpa kita sadari, air merupakan elemen utama kehidupan yang telah memberikan manfaat tidak ternilai bagi kelangsungan hidup umat manusia. Air adalah salah satu sumberdaya yang mendukung keberlangsungan hidup manusia dan juga mahluk hidup lainnya. Air merupakan kebutuhan pokok sehari-hari, sehingga harus dilestarikan sebagai bentuk rasa syukur manusia terhadap anugerah Tuhan. Cuma sayangnya kita seperti tidak sadar bahwa air itu penting banget, mungkin karena di rumahnya sering kebanjiran, jadi berpikir, &#8220;Ngapain sih kita melestarikan air, toh gak dilestarikan aja udah tumpah-tumpah?&#8221;</p>
<p>Coba deh kita sedikit mempelajari pentingnya air buat kehidupan kita. Kalo kita jalan-jalan ke negara tetangga nih, kita bakal tahu kalau air itu diirit-irit banget, sampe-sampe toiletnya saja tidak memakai semprotan air, cuma tisu! Belum lagi mereka menadah air hujan agar bisa dipakai untuk menyiram tanaman, mennyiram toilet, dan keperluan lain di luar sumber air minum.</p>
<p>Berdasarkan ilustrasi diatas, maka kita harusnya mensyukuri bahwa Indonesia diberkahi curah hujan yang cukup tinggi, terlepas dari perubahan iklim global yang kadang-kadang membuat kita bingung kapan hujan kapan panas, <em>*gila</em>!</p>
<p>Sumber daya air harus dikelola secara secara terpadu, utuh dan berkelanjutan agar kelestariannya tetap terjaga. Namun demikian untuk mewujudkan hal tersebut juga ada permasalahan dan tantangan seperti stres air. Nah lho, bukan cuma kita aja kan yang bisa stres? Konsep stres air menurut World Business Council for Sustainable Development adalah situasi di mana tidak cukup air untuk semua kebutuhan, baik itu untuk pertanian, industri, atau yang lainnya. Permintaan air telah melebihi suplai di beberapa bagian di dunia seiring dengan populasi dunia terus meningkat, yang mengakibatkan peningkatan permintaan terhadap air bersih. Perhatian terhadap kepentingan global dalam mempertahankan air untuk pelayanan ekosistem telah bermunculan, terutama sejak dunia telah kehilangan lebih dari setengah lahan basah bersama dengan nilai pelayanan ekosistemnya. Ekosistem air tawar yang tinggi biodiversitasnya saat ini terus berkurang lebih cepat dibandingkan dengan ekosistem laut ataupun darat.</p>
<p>Pada dasarnya, pembangunan bidang sumber daya air dilakukan sebagai sebuah upaya untuk memberikan akses terhadap air kepada seluruh masyarakat secara adil. Selain itu, pengendalian daya rusak air juga merupakan tujuan pembangunan bidang sumber daya air agar kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera dapat tercipta. Hal tersebut sesuai dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pasal 33 ayat (3) yang menyebutkan “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.</p>
<p>Sebagai payung hukum pelaksanaan pembangunan di bidang sumber daya air, telah diterbitkan Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air sebagai pengganti Undang-Undang No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan yang telah mencerminkan perwujudan pelaksanaan reformasi kebijakan di bidang sumber daya air. Melalui perubahan tersebut diharapkan peraturan perundangan terkait dengan sumber daya air dapat sejalan dengan tuntutan perkembangan keadaan sumber daya air dan perubahan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Tidak seperti Undang-Undang No. 11 Tahun 1974 yang lebih condong ke aspek pendayagunaan sumber daya air, Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air telah mengatur beberapa aspek pokok pengelolaan sumber daya air seperti konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air dan sistem informasi sumber daya air. Konservasi sumber daya air ditujukan untuk menjaga keberadaan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air sedangkan pendayagunaan sumber daya air ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil.</p>
<p>Selain itu pengendalian daya rusak air ditujukan untuk melindungi keamanan masyarakat dari dampak bahaya bencana banjir sementara pengelolaan sistem informasi sumber daya air dilakukan untuk mendukung pengelolaan sumber daya air itu sendiri.</p>
<p>Selain itu juga telah diterbitkan empat Peraturan Pemerintah (PP) dari sepuluh PP turunan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air sebagai dasar hukum/pedoman yang lebih teknis/rinci dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya air, yaitu; (i) PP No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum; (ii) PP No. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi; (iii) PP No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air; (iv) PP No. 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah; dan (v) PP No. 37 Tahun 2010 tentang Bendungan. Beberapa peraturan perundangan yang telah disahkan sebagai pedoman operasional dalam pelaksanaan koordinasi/pengelolaan sumber daya air, yaitu: (i) Perpres No. 12 Tahun 2008 tentang Dewan Sumber Daya Air; (ii) Keppres No. 6 Tahun 2009 tentang Pembentukan Dewan Sumber Daya Air; (iii) Perpres No. 33 Tahun 2011 tentang Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air; dan (iv) Kepmen PU No. 390/KPTS/M/2007 tentang Penentuan Status Daerah Irigasi serta 4 (empat) Permen PU lainnya.</p>
<p>Dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), sistem perencanaan pembangunan dan pengelolaan anggaran negara juga ikut mengalami perubahan. Namun demikian, dalam pelaksanaan pembangunan nasional, perencanaan menjadi sangat penting untuk saling berkaitan dengan penganggaran karena harus disusun dengan memperhatikan ketersediaan sumber daya yang terbatas. Dengan demikian anggaran yang dimanfaatkan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan skala prioritas pembangunan, kebijakan, program, dan kegiatan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat.</p>
<p>Pada tahun 2010 pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010 &#8211; 2014 dengan salah satu kebijakan pembangunan yang ditempuh adalah pembangunan infrastruktur nasional yang memiliki daya dukung dan daya gerak terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkeadilan dan mengutamakan kepentingan masyarakat umum di seluruh bagian negara kepulauan Republik Indonesia dengan mendorong partisipasi masyarakat. Di bidang sumber daya air, salah satu yang menjadi kebijakan adalah pengendalian dan pengurangan dampak banjir dan tanah longsor secara struktural dan non struktural, terutama pada wilayah berpenduduk padat, wilayah strategis dan pusat-pusat perekonomian. Kebijakan ini sangat strategis karena mendukung berkurangnya tingkat resiko dan periode genangan banjir pada wilayah berpenduduk padat, wilayah strategis dan pusat-pusat perekonomian. Untuk memastikan visi misi Presiden yang dituangkan dalam Prioritas Nasional RPJMN 2010-2014 terpenuhi, maka Pemerintah juga menerbitkan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional.<br />
Tapi kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah untuk melestarikan air. Perlu peran serta aktif dari kita semua agar air tidak  berlebih yang bikin rumah kita banjir, juga tidak kurang yang membuat kita akhirnya gak bisa mandi, juga kualitas air yang tetap terjaga supaya kita tidak selalu beli air mineral.</p>
<p>Lalu bagaimana sih cara kita bisa melestarikan air? Tidak sulit sih sebenarnya; setidaknya dimulai aja dari hal-hal kecil dari kita bangun tidur sampai tidur lagi. Misalnya jangan mandi di <em>bathub</em>, pakai saja yang siraman, dan jangan lama-lama, maksimal 4 menit untuk mandi. Ada lho alat semacam jam weker buat ngingetin kita kalo mandinya kelamaan, dan standarnya 4 menit itu. Kalo di jalan jangan buang sampah di parit atau melemparkan pembalut atau semacamnya itu di sungai. Kalau ada tetangga yang buang sampah sembarangan tolong diingatkan, jangan ditiru! Bayangin aja kalau sampai menyumbat kanal air dan akhirnya banjir, sayur-sayuran dan kotoran yang kita buang malah balik lagi ke rumah kita secara berjamaah, kan repot juga. Dan kalo nanti kita sudah kaya, jangan membangun rumah atau villa di daerah resapan air atau di daerah hulu, karena selain membuat daya serap air berkurang yang berakibat air turun aja ke daerah hilir, juga bisa menimbulkan longsor.</p>
<p>Nah, kalau sudah mulai sadar, yuk kita belajar lagi bagaimana mengelola dan melestarikan air sebagai sumber kehidupan anak cucu kita nantinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditulis untuk Good News From Indonesia oleh <strong>Dimas Kurnia Aditiawan</strong></p>
<p>Sumber foto: <strong>flickr.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/air-penting-ngga-sih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Walking&#8221; Sharks Among 50 New Species Found in Indonesia Reefs</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/walking-sharks-among-50-new-species-found-in-indonesia-reefs/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/walking-sharks-among-50-new-species-found-in-indonesia-reefs/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 04:34:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bassiddiq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Nature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=10093</guid>
		<description><![CDATA[The article below was extracted and edited from National Geographic News. It was first published on 16 Sep 2006. Enjoy reading! More than 50 new species have been discovered off]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The article below was extracted and edited from National Geographic News. It was first published on 16 Sep 2006. Enjoy reading!</p>
<p>More than 50 new species have been discovered off the coast of Indonesia, including small, slender-bodied sharks that &#8220;walk&#8221; with their fins along coral reefs, researchers announced. In addition to the two types of walking epaulette sharks, the researchers discovered 22 species of other fish, 20 species of hard corals, and 8 kinds of shrimp all believed new to science. The new species were found during two recent expeditions to the Bird&#8217;s Head Seascape, a distinctive peninsula on the northwestern end of Indonesia&#8217;s Papua province that is already renowned for its marine biodiversity.</p>
<p>&#8220;It&#8217;s an incredible place in both the number of species and the abundance of marine wildlife,&#8221; said Roger McManus, senior director for global marine conservation at the Washington, D.C.-based nonprofit Conservation International, which led the expeditions. The Missouri-size region is home to more than 1,200 types of reef fishes and nearly 600 species of hard corals. Whales, sea turtles, crocodiles, giant clams, manta rays, and dugongs also ply the peninsula&#8217;s waters.</p>
<p>&#8220;We knew this was an area important for marine diversity,&#8221; said Sebastian Troeng, director of regional marine programs for Conservation International. &#8220;We hadn&#8217;t expected that over 50 new species would be found in those two surveys. It is quite amazing.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: left;"><strong>New Species</strong></p>
<p>The two new shark species are particularly exciting, Troeng says. The sharks are about 3 to 4 feet (1 to 1.2 meters) long and walk along the shallow reef flats on their fins, preying on shrimp, crabs, snails, and small fish. &#8220;If they get spooked they can swim away, but the thing that stands out is their walking over the bottom,&#8221; Troeng said.</p>
<p>Biologists studying these sharks suggest they could serve as models for the first animals that moved from marine environments onto land, he adds. McManus is fascinated by the mantis shrimp, which look and behave like praying mantises, insects whose arms flick out to catch their prey. Scientists have clocked the shrimps&#8217; arms moving at 23 miles (37 kilometers) a second as they snare small fish and other reef critters. The speed and force has broken aquarium glass.</p>
<p>&#8220;That&#8217;s a lot of power, by the way,&#8221; McManus said. &#8220;These guys are the terrorists of the coral reef &#8230; They are really powerful, dangerous animals.&#8221; Among the new fish species are several types of &#8220;flasher&#8221; wrasses, named for the brilliant pink, yellow, blue, and green colors males display to entice females to mate.</p>
<p>All the new species were discovered in less than six weeks, which McManus says is a remarkable feat. That many are sizable creatures like fish is even more impressive. &#8220;Fish are not unknown groups,&#8221; he said. &#8220;To find so many really says something about the uniqueness of this place.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Isolated Trove</strong></p>
<p>Low human population density and surrounding deep and cold waters keep the peninsula isolated and protected, which likely helps explain the rich biodiversity, McManus says. However, the region faces an increasing threat from the use of dynamite and cyanide to catch fish, as well as from pollution from nearby mining and logging operations. McManus says the region&#8217;s local government recently approached Conservation International for help in developing a program to protect the region&#8217;s rich marine diversity. &#8220;This is a wonderful resource for the people of the region and far into the future, if taken care of, will continue to generate resources for them,&#8221; he said.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/walking-sharks-among-50-new-species-found-in-indonesia-reefs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jogja Hip Hop Foundation dalam Iklan Intel Visibly Smart</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/jogja-hip-hop-foundation-dalam-iklan-intel-visibly-smart/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/jogja-hip-hop-foundation-dalam-iklan-intel-visibly-smart/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2011 00:39:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adjohannes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Art & Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[MSN]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Intel]]></category>
		<category><![CDATA[Intel Inside]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja Hip Hop]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja Hip Hop Foundation]]></category>
		<category><![CDATA[music video]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=10054</guid>
		<description><![CDATA[Jogja Hip Hop Foundation (JHF) adalah salah satu grup hip hop populer yang berasal dari Yogyakarta. Salah satu ciri khas JHF adalah lirik-lirik berbahasa Jawa. Grup yang satu ini juga]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><strong>Jogja Hip Hop Foundation </strong>(<a href="http://twitter.com/JHFcrew" target="_blank">JHF</a>) adalah salah satu grup hip hop populer yang berasal dari Yogyakarta. Salah satu ciri khas </span><a href="http://twitter.com/JHFcrew" target="_blank">JHF</a><span> adalah lirik-lirik berbahasa Jawa. Grup yang satu ini juga selalu mengenakan kemeja batik di setiap konsernya. Di bulan Mei lalu </span><a href="http://twitter.com/JHFcrew" target="_blank">JHF</a><span> berhasil menampilkan hip hop Jawa di New York, kota sakral bagi para pecinta hip hop. </span><a href="http://twitter.com/JHFcrew" target="_blank">JHF</a><span> pun mulai dikenal publik tanah air karena berani berbeda dengan mengkolaborasikan budaya tradisional Jawa dengan musik modern.</span></p>
<p><img class="posterous_plugin_object posterous_plugin_object_image" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-17/rbuAnykynmrmndotfigdwGbgmqCtHcHvuuDCukCiJCoyjuumniDlwJHgxtFg/Photo-NY-2-resize.jpg.thumb100.jpg?content_part=pid___0" alt="" width="100" height="100" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>JHF Crew di Time Square, New York</em></p>
<p>Kabar terbaru dari <a href="http://twitter.com/JHFcrew" target="_blank">JHF</a> adalah kerjasama mereka dengan Intel Indonesia dalam iklan terbaru Intel Indonesia dengan tagline <em>Visibly Smart</em>. Versi lengkap iklannya sudah bisa disaksikan di YouTube sejak tanggal 14 Oktober. Video berdurasi hampir 6 menit itu menceritakan <a href="http://twitter.com/JHFcrew" target="_blank">JHF</a> secara singkat hingga saat ini. Marzuki Muhammad alias <a href="http://twitter.com/killthedj" target="_blank">Kill The DJ</a> mengatakan di blognya :</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Kami sangat berbangga atas kerjasama mutualis dengan Intel Inside ini, dimana telah menempatkan kami tetap sebagai diri kami sendiri dengan segala kemandirian dan idealisme yang kami percaya dan telah kami bangun selama ini. Sebuah apresiasi atas dedikasi yang membanggakan.</em></p></blockquote>
<p style="text-align: center;"><em> </em></p>
<p><span>Dalam video tersebut </span><a href="http://twitter.com/killthedj" target="_blank">Kill The DJ</a><span> menuturkan sumber-sumber inspirasi </span><a href="http://twitter.com/JHFcrew" target="_blank">JHF</a><span> yang begitu beragam, mulai dari kehidupan sehari-hari di Jogja, puisi-puisi tradisional Jawa hingga pementasan wayang kulit. </span><a href="http://twitter.com/killthedj" target="_blank">Kill The DJ</a><span> juga menceritakan bahwa </span><a href="http://twitter.com/JHFcrew" target="_blank">JHF</a><span> selalu mendokumentasikan perjalanan dan pementasan yang mereka lakukan, karena </span><a href="http://twitter.com/JHFcrew" target="_blank">JHF</a><span> yakin itu akan menjadi sesuatu yang bermanfaat di masa depan. </span><a href="http://twitter.com/killthedj" target="_blank">Kill The DJ</a><span> merasa bahwa kemudahan akses pada sosial media di era digital ini bermanfaat bagi musisi untuk mengenalkan karya-karyanya pada masyarakat tanpa tekanan dari pihak luar seperti pihak label misalnya. </span></p>
<p><span>Semoga dengan adanya video ini bisa lebih mengenalkan dan melestarikan budaya Indonesia kepada masyarakat luas terutama generasi muda agar Indonesia menjadi Indonesia yang sebenarnya di masa depan, seperti diungkapkan </span><a href="http://twitter.com/killthedj" target="_blank">Kill The DJ</a><span>:</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong>&#8220;Ketika generasi mudanya bangga dan memahami dan mau belajar kembali kepada akarnya, itulah Indonesia yang sebenarnya, Indonesia ke depan&#8221;</strong></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: left;">Salut untuk kreatifitas dan prestasi kawan-kawan <a href="http://twitter.com/JHFcrew" target="_blank">JHF</a>, semoga sukses terus! Apalagi sudah ada tawaran untuk tur di Amerika Serikat tahun depan. Membanggakan Indonesia dan tentu saja Jogja. <img src='http://goodnewsfromindonesia.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">- &#8211; -</p>
<p>Ditulis untuk Good News From Indonesia oleh <strong>Alfonsius Johannes</strong></p>
<p>Sumber:</p>
<p><strong><a href="http://www.youtube.com/watch?v=bR66rXGnegU&amp;feature=youtu.be" target="_blank">Video</a></strong><br />
<strong><a href="http://killtheblog.com/2011/10/17/intel-visibly-smart-jogja-hip-hop-foundation/" target="_blank">Blog Kill The DJ</a></strong><br />
<strong><a href="http://www.hiphopdiningrat.com/2011/05/mantra-mantra-jawa-di-new-york-sebuah-catatan-perjalanan/" target="_blank">Hiphopdiningrat</a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/jogja-hip-hop-foundation-dalam-iklan-intel-visibly-smart/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Evita Nuh, Blogger Cilik dari Indonesia yang Mempengaruhi Dunia</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/evita-nuh-blogger-cilik-dari-indonesia-yang-mempengaruhi-dunia/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/evita-nuh-blogger-cilik-dari-indonesia-yang-mempengaruhi-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 05:21:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Fitriani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[MSN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=10018</guid>
		<description><![CDATA[Bagi para penikmat fashion blog, pasti sudah tak asing dengan nama Evita Nuh. Yap, gadis cilik asli Indonesia yang tahun ini genap berusia 12 tahun telah memulai fashion blogging (http://www.jellyjellybeans.blogspot.com)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi para penikmat fashion blog, pasti sudah tak asing dengan nama Evita Nuh. Yap, gadis cilik asli Indonesia yang tahun ini genap berusia 12 tahun telah memulai fashion blogging (http://www.jellyjellybeans.blogspot.com) semenjak 3 tahun lalu. Dengan sense of fashion-nya yang keren dan kemampuan bahasa Inggrisnya yang sangat bagus membuat blognya sangat menarik untuk dibaca dan dijadikan referensi bagi para penikmat fashion baik dari dalam maupun luar negeri.</p>
<p>Pemilik brand clothing Little Nuh ini bahkan telah beberapa kali melakukan interview dengan beberapa majalah fashion dalam maupun luar negeri. Agustus kemarin, ada satu halaman di majalah Italia, Grazia, yang khusus memuat Evita Nuh. Bahkan, menurut  http://www.babble.com, Evita termasuk 1 dari 10 blogger muda paling berpengaruh di dunia. Keren sekali bukan? Jadi, kata siapa anak Indonesia tak bisa berkarya?</p>
<p>Courtesy of photo: <strong>jellyjellybeans.blogspot.com</strong><br />
Source: <strong><a href="http://www.babble.com/kid/kids-activities/website-best-kid-blogger-young/?page=8" target="_blank">www.babble.com</a></strong></p>
<p>Ditulis untuk Good News From Indonesia oleh <strong>Ratna Suwendiyanti.<br />
</strong>Editor: <strong>Farah Fitriani</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/evita-nuh-blogger-cilik-dari-indonesia-yang-mempengaruhi-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenali Negeri, Cintai Negeri</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/kenali-negeri-cintai-negeri/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/kenali-negeri-cintai-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 03:33:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mrusydan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[MSN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=9809</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu salah satu televisi swasta sedang menyiarkan perbincangan dengan Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata terkait dengan Hari Pariwisata Sedunia yang jatuh pada 27 September lalu. Bapak menteri yang]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang itu salah satu televisi swasta sedang menyiarkan perbincangan dengan Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata terkait dengan Hari Pariwisata Sedunia yang jatuh pada 27 September lalu.</p>
<p>Bapak menteri yang dengan lugas dan santai menyatakan jika Indonesia yang terkenal dan sangat mempunyai potensi dalam bidang budaya dan kepariwisataanya itu, sangat ingin memperkenalkan Indonesia kepada dunia Internasional tapi yang terpenting sasaran utamanya adalah warga Indonesia sendiri, karena sebenarnya “Masih banyak sekali warga Indonesia yang lebih sering berpariwisata ke negeri tentangga seperti Singapura dan Malaysia, padahal dengan pariwisata dalam negeri kita bisa memperkaya negeri kita sendiri.” sambung Jero Wacik.</p>
<p>Bagaimana berpariwisata itu bisa memperkaya negeri sendiri?</p>
<p><img class="alignnone" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/news/Rajaasmatnews.jpg" alt="" width="600" height="398" /></p>
<p>“siklus ekonomi kepariwisataan itu unik! Uang yang diberikan atau dibelanjakan oleh para turis domestik atau pun luar akan langsung sampai kepada tangan rakyat kita sendiri, tanpa harus melalui para pejabat daerah seperti bupati, lurah, camat dll. Dijamin minim korupsi!” ujar pak menteri, “uang yang kita belanjakan untuk membeli oleh-oleh atau souvenir akan secara tidak langsung memperkaya warga Indonesia sendiri, hal itu yang sering luput dari warga Indonesia yang justru banyak lebih memilih berbelanja di Singapura” lanjut Jero Wacik.</p>
<p>Indonesia memiliki potensi yang sangat tinggi di bidang kebudayaan dan pariwisata, mulai dari objeknya yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, kebudayaannya yang tentunya sangat beragam, orang-orangnya yang terkenal ramah dan murah senyum, ongkosnya yang lebih murah, kulinernya yang beraneka ragam dan kaya akan rasa dan masih banyak lagi.</p>
<p>Oleh karena itu perlunya orang Indonesia untuk lebih bisa “mengenal” negerinya sendiri yang dengan sendirinya akan timbul kecintaan pada Indonesia. Pak Menteri pun berujar sedang gencar mempromosikan Raja Ampat dan Lombok dan daerah lainnya, jadi orang luar tidak hanya tahu wisata Indonesia yang identik dengan Bali saja.</p>
<p>Jadi, kenali negerimu dan cintai negerimu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Written for Good News From Indonesia by <strong>Muhammad Q Rusydan </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/kenali-negeri-cintai-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wirausaha Muda Indonesia Sukses Padupadankan Bisnis dan Lingkungan</title>
		<link>http://goodnewsfromindonesia.org/wirausaha-muda-indonesia-sukses-padupadankan-bisnis-dan-lingkungan/</link>
		<comments>http://goodnewsfromindonesia.org/wirausaha-muda-indonesia-sukses-padupadankan-bisnis-dan-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 18:54:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Fitriani</dc:creator>
				<category><![CDATA[MSN]]></category>
		<category><![CDATA[Nature]]></category>
		<category><![CDATA[Special Interview]]></category>
		<category><![CDATA[Marco Devian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goodnewsfromindonesia.org/?p=9565</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;&#8216;Follow your passion, and be the best at it.&#8221; Menjadi moto hidup yang patut diteladani dari seorang pribadi muda, kreatif dan inspiratif. Marco Devian (22), pemuda asal Kota Bandung, Jawa]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;&#8216;Follow your passion, and be the best at it.&#8221; Menjadi moto hidup yang patut diteladani dari seorang pribadi muda, kreatif dan inspiratif. Marco Devian (22), pemuda asal Kota Bandung, Jawa Barat ini memiliki segudang prestasi.</p>
<p>Marco, begitu sapaan akrabnya, menempuh pendidikan formal di Wesley College dan kemudian melanjutkan studinya di Curtin University Australia. Business Managament and Marketing serta Sport Science (Double degree) menjadi pilihan yg tepat untuknya. Hal tersebut tentu bukan tanpa alasan. Bisnis garmen (@majagarment) yang kini ditekuni, menjadi bukti keseriusannya  dalam dunia bisnis walau usia relatif terbilang muda.</p>
<p>Mungkin Anda masih ingat dengan sebuah ajang pemilihan Green Ambassador yang sempat menjadi trending topic di situs jejaring sosial twitter. Nama Marco Devian mulai akrab setelah gelar 2nd Runner up dan Best Social Media Influencer berhasil disandangnya dalam ajang bergengsi tersebut. Kemampuan dan pengetahuan seputar lingkungan ia pelajari secara autodidak dengan melakukan green campaign selama 11 di negeri kangguru, Australia .</p>
<p>Kesadaran akan <em>green lifestyle </em>sudah melekat dalam dirinya, hingga bisnis @majagarment yang kini ia rintis pun menerapkan <em>green business practice.</em> Konsep Green Business merupakan upaya penerapan efesiensi dan efektivitas bisnis dengan nilai-nilai bermuatan lingkungan. Hal tersebut meliputi office layout, distribusi, dan juga upaya daur ulang produk (Maja Green). Lebih jauh Marco menuturkan, konsep <em>green business practice </em>juga berarti berbisnis dengan jujur dan memberi kualitas terbaik pada seluruh stakeholders.</p>
<p>Prestasi di bidang olahraga pernah pula ia raih di tingkat internasional, diantaranya Juara 1 Blue Gum Tennis Championship, Best and Fairest Player 2008 Wesley College, dan Juara 3 Melville Tennis Championship 2006.</p>
<p>Pria yang tumbuh sebagai atlet dan dididik dengan pola pikir seorang entrepreneur ini juga berprestasi dalam hal akademik, terbukti dengan keberhasilannya meraih Highest Score for Economic Subject saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi Australia. (VQ)</p>
<p>Written for Good News From Indonesia by <strong>Vicky Dwisaputra</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goodnewsfromindonesia.org/wirausaha-muda-indonesia-sukses-padupadankan-bisnis-dan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

