Edwin Flies the Flag for Indonesia at Berlinale Film Fest

Berlin. Indonesia made its first appearance in the main competition of the Berlin Film Festival in about five decades on Wednesday with the premiere of the latest movie by Jakarta-based director Edwin.

One of the rising stars of Southeast Asian cinema, Edwin’s dreamlike “Kebun Binatang” (“Postcards From the Zoo”) is his second feature movie. It tells the story of Lana who grew up in a zoo after she was left there by her father to be raised by zookeepers.

Speaking at a press conference in Berlin, the 34-year-old Edwin admitted that he had also considered living in the zoo.

“You can find a lot of food in the zoo and can co-exist with the animals,” he said.

“Going to the zoo is a way of finding solitude in a big city like Jakarta,” said Edwin, who added that the aim of his movie “is to simply portray a feeling of longing.” Edwin’s debut movie, “Babi Buta Yang Ingin Terbang” (“Blind Pig Who Wants to Fly”), which was released in 2009, was screened at a series of film festivals around the world.

In Babi Buta, Edwin sheds light on the personal struggles facing Indonesia’s Chinese community.

Postcards to an extent follows a similar storyline to Babi Buta as it delves into human loneliness and isolation.

The film stars one of Indonesia’s leading actresses, Ladya Cheryl, who plays the girl as well as heartthrob Nicholas Saputra, who plays a magician.

Postcards is one of 18 films competing in Berlin for the festival’s top prize, the Golden Bear for best picture.

One of the last Indonesian films to find a prominent place at the Berlinale was “Laskar Pelangi” (“The Rainbow Troops”) in 2009 from filmmaker Riri Riza. The movie did not play in the main competition.

DPA

Model Indonesia Berprestasi di Asia Model Festival Awards

Empat orang model asal Indonesia baru – baru ini berhasil meraih penghargaan Asia Model Festival Awards (AMFA) 2012 yang diadakan di kota Seoul, Korea Selatan. Model – model berprestasi tersebut adalah Agni Pratistha Dion Wiyoko, Hege Martine S Wollan dan Kenny A Pratama.

AMFA merupakan festival tahunan yang diikuti 15 negara di Asia, di antaranya Korea Selatan, Jepang, Thailand, China, Mongolia, Uzbekistan, Vietnam, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Mongolia. tahun ini, AMFA diikuti oleh sekitar 60 model yang berasal dari 15 negara tersebut.

Pada ajang yang diadakan tanggal 16 – 18 Januari lalu ini, kedua model senior Indonesia, Agni Pratistha dan Dion Wiyoko berhasil mendapatkan trofi Asia Model Star Awards 2012 atas kontribusinya terhadap dunia model dan seni peran Indonesia, sementara Hege MS Wollan meraih penghargaan Best Dressed Award di kategori Asia New Face Model Awards 2012.

Keempat model Indonesia ini dipilih untuk mewakili Indonesia setelah sebelumnya melewati proses penelusuran dokumen, rekam jejak, serta rekomendasi dari praktisi dunia model dan periklanan Indonesia.

selain berhasil memenangkan beberapa penghargaan, model – model ini juga berhasil memamerkan budaya Indonesia dengan mengenakan kain tenun ikat asli Indonesia, sehingga mereka tampak mencolok diantara model negara lain yang menggenakan busana modern bernuansa Barat. tak heran kostum mereka mendapat banyak pujian dari peserta lain.

ditulis di Good News From Indonesia oleh Farah Fitriani (@farafit / farahfitrianifaruq@gmail.com)

Sutradara Indonesia Terima Penghargaan di Asian Film Awards

Sutradara Indonesia, Edwin, akan menerima penghargaan ‘Edward Yang Award for New Talent’ bulan Maret ini di Asian Film Awards. Award ini merupakan penghargaan khusus yang diadakan setiap tahunnya untuk mengenang sutradara asal Taiwan, Edward Yang, yang meninggal tahun 2007. Edwin akan menjadi orang ketiga yang memenangkan penghargaan bergengsi ini. Edward Yang Award for New Talent diberikan kepada Edwin bukanlah tanpa alasan.

film terbaru Edwin yang berjudul ‘Kebun Binatang’ (di translasikan dalam bahasa Inggris menjadi ‘Postcards from The Zoo’) diputar pertama kali di Berlin International Film Festival (Berlinale) hari rabu kemarin. film ini akan bersaing dengan 4 film lain untuk memperebutkan beberapa trofi, termasuk di antaranya trofi Golden Bear untuk kategori film terbaik. film yang bercerita mengenai seorang gadis yang dibesarkan oleh pawang jerapah ini sebenarnya bukanlah film pertama Edwin yang diakui di dunia internasional. pada tahun 2007, film pendek Edwin yang pertama yang berjudul ‘Kara’ berhasil masuk ke dalam Cannes Film Festival. dua tahun sebelumnya, ‘Anak Sebatang Pohon’ (Son of a Tree), film Edwin yang lain, juga berhasil sampai di Berlinale.

sementara itu tahun 2008, film Edwin yang berjudul ‘Babi Buta yang Ingin Terbang’ (Blind Pig Who Wants To Fly) berhasil tembus ke dalam empat puluh lima festival film Internasional. film yang mengangkat cerita tentang masalah rasial dan ketegangan sosial yang terjadi di kehidupan perkotaan berhasil meraih FIPRESCI Award di festival film internasional Rotterdam.

ditulis di Good News From Indonesia oleh Farah Fitriani (@farafit / farahfitrianifaruq@gmail.com)

Erick Setiawan, Novelis Indonesia yang Mendunia

Kita tentu mengenal nama Andrea Hirata, penulis Indonesia yang terkenal dengan karyanya Laskar Pelangi. tapi, apakah kita mengenal nama Erick Setiawan?

Erick Setiawan adalah novelis asal Indonesia yang sejak tahun 1991 pindah ke Amerika dan menetap disana. ia terkenal karena novelnya yang fenomenal, Of Bees And Mist, yang terbit tahun 2009. Berbeda dengan Andrea Hirata yang sukses lebih dulu di negara sendiri, Erick Setiawan pertama meraih kesuksesannya di Amerika.

Penulis kelahiran Jakarta tahun 1975 yang pernah menuntut ilmu di Stanford University, Amerika Serikat dalam bidang psikologi dan komputer ini adalah seorang kutubuku dan suka menulis. Sebelum Of Bees and Mist, Erick telah menulis dua novel namun dua naskahnya tersebut mendapat ratusan penolakan dari para agen sastra, sehingga ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk menerbitkan karyanya.

Penolakan tersebut untungnya tidak menyurutkan semangatnya dalam menulis. Erick lalu menulis of Bees and Mist yang diselesaikannya dalam waktu 4 tahun. berbeda dengan dua naskah novel terdahulunya, kali ini dalam waktu yang tidak terlalu lama ia memperoleh agen sastra hingga akhirnya pada tahun 2009 novelnya ini diterbitkan oleh penerbit kenamaan Simon & Schuster. Tak hanya itu saja, Of Bees and Mist mendapat sambutan yang positif dari pembaca dan kritikus sastra. Novel ini menjadi finalis QPB New Voices Award 2010 dan masuk dalam longlist penghargaan sastra bergengsi internasional IMPAC Dublin Literary Award 2011.

Of Bees and Mist sendiri merupakan kisah epik cinta, drama keluarga, dan misteri yang berlangsung selama tiga puluh tahun. Tokoh sentralnya adalah seorang wanita bernama Meridia yang memiliki ‘konflik’ dengan ibu serta mertuanya.

Walau inti dari kisah dalam novel ini adalah perseteruan antara anak dan mertua namun Erick mengemasnya dengan begitu menarik sehingga novel ini menjadi tidak membosankan. Di novel ini ada begitu banyak konflik yang dikisahkan, selain perseteruan antara Meridia dan mertuanya, dikisahkan pula konflik antara kedua orang tuanya, Revena dan Gabriel, lalu ada juga kisah kedua adik iparnya, hingga Patinna, pembantu mertuanya yang ternyata memiliki kisah rahasia antara dirinya dengan Eva.

Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah balutan misteri dan mistis yang membungkus kisah cinta dan drama dalam novel ini. Baik keluarga Meridia maupun keluarga mertuanya memiliki sisi kelam yang sedikit demi sedikit akan terungkap di sepanjang novel ini. tak heran novel setebal 416 halaman ini mendapat ulasan bagus dari banyak media di Amerika. (baca ulasannya disini)

Novel ini ditulis dalam Bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam empat bahasa yaitu Spanyol, Belanda, Cina dan tentu saja, Indonesia. novel yang dipuji oleh Washington Post ‘Drama rumah tangga yang mengagumkan’ ini telah beredar di empat benua, Amerika, Asia, Eropa dan Australia. Novel ini juga bisa dibeli secara online melalui toko buku terkenal,Barnes and Noble, dan situs jual beli internasional lain seperti Powell’s, Indiebound serta Amazon.

sumber: official website of Of Bees and Mist

ditulis di Good News From Indonesia oleh Farah Fitriani (@farafit / farahfitrianifaruq@gmail.com)

Novel Mahasiswa Bandung Go International

Aya Lancaster, mahasiswa 23 tahun Institut Teknologi Harapan Bangsa, Bandung sempat ditolak novelnya oleh penerbit lokal, namun siapa sangka ternyata novelnya ini diterbitkan di Inggris dan kawasan Eropa.

Ia menceritakan pengalamannya yang sempat dipingpong oleh penerbit lokal dan beberapa penerbit menyatakan jika ceritanya belum biasa untuk diterbitkan di Indonesia karena tokoh utamanya seorang iblis perempuan.

Saat ini novelnya itu sudah beredar di Eropa, seperti Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Jepang, dan negara tetangga Singapura, serta Amerika Serikat. Novel itu pun sudah mendapatkan resensi dari majalah Reader’s Digest.

Novel tersebut bercerita tentang sisi lain dari hubungan malaikat dan iblis. “Ceritanya cinta, persahabatan, dan peningkhianatan. Tapi kalau mau ditarik lagi, intinya Tuhan itu tidak ada yang ngalahin,” kata Aya.

Novel ini bisa dipesan amazon.com, ebay.com dan toko buku tertua di Inggris “Barnes and Noble”. Sedangkan peluncuran novel setebal 448 halaman tersebut di Indonesia akan dilakukan di Jakarta dan Bali dalam waktu dekat.

 

News source: Yahoo

Picture source: gettyimages

Jakarta to have Madame Tussaud Museum

Jakarta (ANTARA News) – Indonesians no longer need to go to London or Hong Kong to visit the Madame Tussaud Wax Museum because a branch of the famed institution will be opened in Ancol Beach City, Jakarta, in late July 2012.

“The Madame Tussaud Museum to be set up in Ancol Beach City will be the largest in the South East Asian region,” Ancol Beach City manager Lukman Azis said here Wednesday.

He said Madame Tussaud museums in several countries were usually built on land lots of 2,000 square meters but the one in Ancol Beach City would sit on 3,000 square meters of land.

In addition to wax duplicates of international figures, the museum in Jakarta would also display wax statues of famous Indonesians.

However, the number of wax statues to be displayed in the museum in Ancol Beach City was still confidential.

Ancol Beach City, built on a total area of 58,000 square meters, would also feature supermarkets, children`s play grounds, 77 culinary booths, and 42 shops.

Ancol Beach City would also offer facilities for beach activities such as beach volley , banana boats, jetskies and other recreational pastimes, an international standard auditorium that can accommodate 22,000 people for national or international indoor events, Agustinus Teddy Darmanto, president director of PT Wahana Agung Indonesia, said.
(Uu.A059/HAJM/A014)

Editor: Priyambodo RH

Simple Plan Featuring Kotak

Grup band Kotak boleh berbangga karena menjadi band yang akan berkolaborasi dengan Simple Plan di konser mereka yang akan diselenggarakan di Jakarta (17 Januari 2012) dan Surabaya (18 Januari 2012).

Kotak diajak kolaborasi dalam lagu “Jet Lag”, lagu kolaborasi Simple Plan dengan Natasha Bedingfield. Suara Tantri, vokalis Kotak, akan menggantikan suara Natasha Bedingfield.

Anda bisa melihatnya disini: Simple Plan ft. Kotak – Jetlag

Drummer Indonesia Pecahkan Rekor Dunia

Kunto Hartono, drummer asal Banyuwangi, kembali berhasil memecahkan rekor dunia (Guinness World Records) sebagai penabuh drum terlama dan mencatatkan namanya setelah mengalahkan catatan rekor drummer asal Amerika Serikat, Russ Prager.

Ia mencatat waktu menabuh drum selama 121 jam di halaman Balai Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (1/1/2012). Rekor sebelumnya yang berhasil dipecahkan hanya selama 120 jam.

Tiga hari pertama ia dapat melakukan dengan penuh semangat dan tampak segar bugar, hambatan datang ketika hari keempat, ia mulai mengalami kelelahan fisik dan sudah mulai lemas, bahkan stiknya sempat jatuh dua kali dan diperiksa secara intensif oleh tim medis yang bersiaga di lokasi.

Setiap delapan jam dilakukan 15 menit istirahat untuk medical check-up dan membolehkan ia melakukan keperluan lain untuk mendukung pemecahan rekor dunia.

Selepas resmi tercatat dan telah memecahkan rekor dunia, ia langsung dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk memulihkan kondisi kesehatannya yang melemah akibat tidak tidur dan istirahat sama sekali selama 121 jam lebih.

 

News Source: Berbagai Sumber

Pitt shows interest in ‘Laskar Pelangi’

(The Jakarta Post) : The tragic novel Laskar Pelangi (Rainbow Troops), which tells the story of poor children trying to get an education on a remote island in Indonesia, may have a happy ending.

The author, Andrea Hirata, said he received an offer from US-based publisher Farrar, Straus and Giroux to release the novel in English.

The 29-year-old also said that a film company owned by actor Brat Pitt had shown an interest in a film version. The book was made into a movie by local filmmakers Riri Riza and Mira Lesmana.

“I don’t know the deal yet, the negotiation is about US$300,000, but that will happen after the novel is translated,” Andrea told vivanews.com on Tuesday.

The writer also said a publisher from Italy wanted to release the book in Italian.

Laskar Pelangi Edisi Internasional

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pict Source: Laskar Pelangi on Facebook

Di penghujung tahun 2011 menjadi tahun yang menggembirakan bagi Andrea Hirata, novelis dari Bangka Belitong yang terkenal dengan karyanya “Laskar Pelangi” ternyata dilirik oleh penerbit terkemuka Amerika, Farrar, Strauss and Giroux (FSG). Mereka  berminat menerbitkan The Rainbow Troops, edisi internasional dari Laskar Pelangi.

FSG adalah penerbit ternama yang paling banyak menerbitkan karya para pemenang nobel sastra. Sebanyak 21 pemenang Nobel Sastra, karyanya diterbitkan FSG, antara lain TS Eliot, Pablo Neruda, Nadine Gordimer, Seamus Heaney, dan Mario Vargas Llosa yang mendapat Nobel Sastra 2010.

Selain itu, Andrea juga mengaku akan ada perusahaan dari Italia, yang berminat untuk menyadur ulang novel ini dalam bahasa Italia. Bahkan perusahaan milik Brad Pitt, Plan B mengabarkan tertarik untuk memfilmkan kembali ‘Laskar Pelangi’.

 

News Source: vivanews