Author Archives | Akhyari

Si hebat itu bernama Susi

Si hebat itu bernama Susi

Saya sudah ratusan kali naik pesawat, namun saya hanya 2 kali naik pesawat kecil berisi beberapa orang saja, yakni pesawat Cessna C208B Caravan milik Susi Air ketika terbang dari Medan ke Pulau Simeleu di Aceh, dan DHC-6 Twin Otter dari Honiara (ibukota Solomon Islands) ke Munda. Dan saya baru sekali naik helicopter, yakni Bell 429 milik Angkatan Laut Australia ketika berputar-putar di pulau-pulau kecil di atas Solomon Islands.

Namun saya hanya akan cerita mengenai Susi Air saja, dan kekaguman saya akan pemiliknya, yakni orang Sunda, asli Pangandaran, Jawa Barat bernama Susi Pudjiastuti. Ketika sedang menunggu keberangkatan saya dari Medan ke Pulau Simeleu (Aceh), saya melihat seorang wanita yang dengan gesit ikut membantu check in, mengatur luggage, dan merapikan tas yang belum ditutup sempurna. Baru kemudian saya tahu, bahwa beliaulah pemilik Susi Air, Bu Susi. Susi Air bukanlah sembarang maskapai yang didirikan untuk mendatangkan keuntungan semata.

Susi...di atas pesawat miliknya

Saya sempat berbincang dengan para calon penumpang yang lain, bahwa meski penumpang hanya 3 orang (pesawat Cessna Grand Caravan berpenumpang 10-12 orang), pesawat tetap terbang ke tujuan. Sebagian besar rute Susi Air adalah rute-rute perintis yang tidak diterbangi maskapai lain, sehingga keberadaannya adalah urat nadi bagi perekonomian rute tujuan. Susi Air juga adalah operator Cessna Grand Caravan terbesar di Asia, dan kabar terakhir menyebutkan bahwa mereka akan membeli lagi puluhan pesawat yang sama.

Piaggio Avanti (image from Wikipedia)

Susi Air juga merupakan salah satu pengguna pertama pesawat charter mutakhir Piaggio Avanti, pesawat yang baling-balingnya justru menghadap ke belakang.

Komitmen dan kesungguhan Susi Pudjiastuti yang tidak hanya mencari keuntungan, tapi juga melayani dan mengabdi pada banyak orang yang membutuhkan, patut kita puji. Bangsa ini tentu membutuhkan lebih banyak pengusaha-pengusaha yang tidak hanya bermodal besar, namun juga berhati dan berjiwa besar, seperti beliau.

Salut, Bu Susi

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +2 (from 2 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Artikel, MSN0 Comments

“Mosok ekonomi tumbuh kok gak perlu”

“Mosok ekonomi tumbuh kok gak perlu”

By Akhyari Hananto

Saya termenung ketika mendengar pidato seseorang yang dengan enteng mengatakan “Apalah artinya pertumbuhan ekonomi, tanpa pemerataan. Mending ekonomi tidak tumbuh daripada jurang sosial makin lebar”. Bagi orang awam, pernyataan tersebut sungguh pro rakyat kecil, dan cerdas. Benarkah begitu?

Sederhana menjawabnya..dan ini pelajaran waktu SMA dulu.

Pertumbuhan ekonomi dihitung dari produk domestik bruto (PDB) tahun ini, dibandingkan dengan PDB tahun lalu. Dan rumus sederhananya adalah :

PDB = Konsumsi + Investasi + Pengeluaran Pemerintah + Surplus/defisit Ekspor-Impor.

Dengan mengatakan bahwa Ekonomi tidak tumbuh tidak apa-apa, artinya =

  1. Konsumsi NOL. Penjual batik gak ada yang beli, penjual baksa gak ada yang beli, dealer motor kosong, penjual HP dan pulsa gigit jari gak ada konsumen. Penjual beras, sayur, lontong, sate, harus menunggu setahun penuh tanpa pembeli. Telpon gak dibayar, TV satelit gak dibayar, listrik gak dibayar, air gak dibayar.
  2. Investasi NOL. Tidak ada pengusaha yang membuat usaha baru, tidak ada perekrutan karyawan baru, tidak boleh menerima karyawan baru, perusahaan yang memiliki peluang besar mengembangkan usahanya terpaksa tidak boleh mengembangkan sayapnya.
  3. Pemerintah tidak boleh memberi subsidi BBM, subsidi pendidikan, gak boleh bangun infrastruktur, gaji PNS, polisi, TNI gak dibayar. Pemerintah gak boleh keluar uang.
  4. Expor NOL…Impor NOL.

Jadi, mari kita bayangkan, kira-kira kalau ekonomi gak tumbuh, apa yang akan terjadi. Dan bayangkan, apakah mungkin membuat ekonomi merata tanpa menumbuhkan ekonomi. Pemerataan membutuhkan campur tangan semua pihak, bukan hanya pemerintah, tapi juga masyarakat, pihak swasta, dll. Tidak cukup hanya mendistribusikan kekayaan saja, tapi juga menumbuhkan pengetahuan, wawasan, pendidikan, dan lain lain.

Betul. Memeratakan ekonomi, jauh lebih kompleks dibandingkan menumbuhkannya. Namun, mengharapkan pemerataan dengan menyepelekan pertumbuhan ekonomi, adalah seperti petani mengairi seluruh sawah dengan air secara merata, namun kemudian tidak mau membeli benih/bibit untuk ditanam…karena takut nggak merata.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 3.3/5 (3 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +1 (from 3 votes)

Popularity: 2% [?]

Posted in Artikel, MSN6 Comments

Alhamdulillah, Saya Lahir di Kampung

Alhamdulillah, Saya Lahir di Kampung

Alhamdulillah saya lahir di kampung…

Paling tidak selama 15 tahun, saya merasakan tinggal di wilayah pegunungan yang dingin, pohon-pohon menjulang sangat tinggi, hijau, dan asri. Kampung itu bernama Wonosalam, di wilayah utara Kabupaten Sleman di Yogyakarta. Waktu kecil saya sering bertemu dengan kucing hutan (blacan), luwak, bahkan kelinci liar. Saya pernah merasakan “nikmatnya” makan jangrik, laron, belalang, dan serangga-serangga lain. Karena jauh dari jalan besar, saya jarang sekali mendengar deru kendaraan bermotor, saya bisa berlarian di jalan tanah selebar 10-an meter, tanpa takut tertabrak kendaraan. Saya sering ikut ayah saya membajak sawah, mencangkul, menanam padi, memupuk tebu, mencari rumput untuk sapi-sapi ayah saya.

Alhamdulillah saya lahir di kampung…

Dibelakang rumah saya adalah kebun seluas 1.8 hektar, berisi beraneka macam pohon. Mangga, kedondong, jambu air, jambu monyet, pepaya, pisang, banyak lagi. Di belakang rumah juga terdapat bermacam-macam tanaman perdu yang (mungkin) langka. Di belakang rumah juga terdapat buah maja, buah yang bentuknya bulat, pahit rasanya.

Alhamdulillah saya lahir di kampung…

Mandi saya bukan di bathroom yang berkilau, dengan toilet yang modern. Kamar mandi saya terbentang panjang dari puluhan kilometer, bernama Kali Kuning. Sungai berbatu-batu, bening. Sesekali saya pergi membawa pancing yang dibuat dari bambu dan peniti. Pulangpun membawa ikan kecil dan udang sungai. Mandi di kali yang bersih dan indah, dengan gemuruh air yang menerpa bebatuan khas Gunung Merapi, masih membekas indah dalam benak saya. Kami berjalan berkelompok, cukup jauh, sekitar 3 km. Membayangkan kami berjalan di pematang sawah, sambil bercengkerama dan menggoda, membicarakan pelajaran dan guru di sekolah yang tidak kami sukai.

Alhamdulillah saya lahir di kampung…

Setiap hari saya bertemu puluhan bapak-bapak yang berangkat ke sawah, tidak pernah sekalipun kami tidak bertutur sapa dan tersenyum. Hawa dingin pagi tak menghalangi mereka bekerja, menembus kabut tebal pagi, menenteng cangkul, kadang menggirim kerbau. Pada hari minggu, biasanya sang bapak membawa serta istri dan anaknya.  Bapak saya tak ketinggalan, membawa kami sekeluarga, sekedar menikmati hawa segar di sawah, menanam kacang, atau membajak sawah.

Alhamdulillah saya lahir di kampung…

Selama 15 tahun saya di sana, tak sekalipun terdengar konflik antar tetangga. Saya masih ingat, ketika Ibu membangun kandang ayam, seluruh penduduk datang membantu, sambil membawa makanan minuman. Dalam sekejap, kandang ayam pun berdiri kokoh. Semangat inilah yang membangkitkan kenangan saya tentang betapa besar dan indahnya persatuan negeri ini.

Alhamdulillah saya lahir di kampung…

Disanalah harapan dan optimisme saya tentang masa depan negeri indah ini terbangun, dan tidak pernah bisa terkikis.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 4.7/5 (3 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +3 (from 3 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Artikel, General, MSN1 Comment

Menghidupkan Kembali Sang Merpati

Menghidupkan Kembali Sang Merpati

Saya bertemu Pak Dahlan Iskan kemarin di Surabaya. Tetap seperti dulu, tetap bersahaja, bahkan cucunya memakai setelan kaos ‘murahan’ khas pasar tradisional. Selalu menarik mengikuti sepak terjang beliau. Dan ini adalah tulisan beliau mengenai satu maskapai yang saya sayangi. Merpati.

Kadang libur itu penting. Pada hari tanpa kesibukan itulah persoalan yang rumit bisa dibicarakan secara mendasar, detail, dan habis-habisan. Misalnya, pada hari libur Sabtu lalu. Enam jam penuh bisa membicarakan rumitnya persoalan Merpati Nusantara Airline.

Tidak hanya direksi dan komisaris yang hadir, tapi juga seluruh manajer senior. Ruang rapat sampai tidak cukup sehingga pindah ke ruang tamu yang secara kilat dijadikan arena perdebatan.

Meski saya yang memimpin rapat, tidak ada hierarki di situ. Segala macam jabatan dan predikat saya minta ditanggalkan. Tidak ada menteri, tidak ada Dirut, tidak ada komisaris, dan tidak ada bawahan. Semua sejajar sebagai orang bebas. Duduknya pun tidak diatur dan tidak teratur.

Operator laptop dan proyektornya sampai duduk di lantai. Kebetulan saya juga hanya memakai kaus dan celana olahraga. Belum mandi pula. Baru selesai berolahraga bersama 30.000 karyawan dan keluarga Bank Rakyat Indonesia se-Jakarta memperingati ultah ke-116 mereka yang gegap gempita.

Pindah dari acara BRI ke acara Merpati pagi itu rasanya seperti pindah dari surga ke Marunda. Dari perusahaan yang labanya Rp 14 triliun ke perusahaan yang ruginya tidak habis-habisnya. Dari jalannya operasional saja Merpati sudah rugi besar.

Apalagi, kalau ditambah beban-beban utangnya. Tiap bulan pendapatannya hanya Rp 133 miliar. Pengeluarannya Rp 178 miliar. Pesawatnya tua-tua. Sekali dapat yang baru MA 60 pula.

Suasana kerja di Merpati pun sudah seperti perusahaan yang no hope! Maka, jelaslah bahwa persoalan Merpati tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa.

Restrukturisasi perusahaan dengan cara modern sudah dicoba sejak dua tahun lalu. Belum ada hasilnya “bahkan tanda-tandanya sekali pun. Upaya restrukturisasi ini telah menghabiskan enersi luar biasa. Lebih-lebih menghabiskan waktu dan kesempatan.

Panjangnya proses pengadaan pesawat Tiongkok MA 60 membuat peluang lama hilang begitu saja. Rute-rute kosong yang semula akan diisi MA 60 telanjur dimasuki Wing dan Susi Air yang lebih kompetitif. MA 60 yang menurut para pilot merupakan pesawat yang bagus, lebih berat lagi bebannya setelah terjadi kecelakaan di Kaimana.

Peristiwa yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kualitas pesawat itu ikut membuat Merpati ibarat petinju yang sudah sempoyongan tiba-tiba terkena pukulan berat.

Sebelum kecelakaan Kaimana, penumpang sebenarnya lebih senang naik MA 60. Pesawat ini sengaja didesain untuk negara tropis. AC-nya bisa berfungsi sejak penumpang masuk pesawat. Tidak seperti pesawat baling-baling lain yang panas udara kabinnya luar biasa dan baru berkurang setelah beberapa menit di udara.

Merpati memang sering kehilangan momentum. Bahkan, seperti sudah kehilangan momentum sejak dari lahirnya. Ketika kali pertama dipisahkan dari Garuda, pesawat-pesawatnya diambil, tapi utangnya ditinggalkan. Beban-beban lain juga menumpuk.

Semua itu enak sekali dijadikan kambing hitam oleh manajemen. Setiap manajemen yang gagal punya alasan pembenarannya. Kadang manajemen lebih sibuk mengumpulkan kambing hitam daripada bekerja keras dan melakukan efisiensi.

Benarkah tidak ada hope lagi di Merpati?

Itulah yang melalui forum pada hari libur Sabtu lalu ingin saya ketahui. Terutama sebelum saya membuat keputusan yang tragis: ditutup! Segala macam usaha sudah dilakukan.

Dua bulan lalu sebenarnya saya sudah menyederhanakan manajemen Merpati. Jabatan wakil Dirut saya hapus. Jumlah direktur saya kurangi. Ini agar manajemen lebih lincah. Juga terbebas dari beban psikologis karena wakil Dirutnya lebih senior dari sang Dirut.

Rupanya itu belum cukup. Saya harus masuk lebih ke dalam. Tiba-tiba saya ingin berdialog langsung. Dialog yang intensif dan tanpa batas. Dialog dengan jajaran yang lebih bawah.

Di masa lalu saya sering mendapat pengalaman ini: banyak ide bagus justru datang dari orang bawah yang langsung bekerja di lapangan. Bukan dari konseptor yang bekerja di belakang meja.

Memang ada rencana pemerintah dan DPR untuk membantu keuangan Merpati Rp 561 miliar. Tapi, akankah uang itu bermanfaat? Atau hanya akan terbang terhambur begitu saja ke udara? Seperti ratusan miliar uang-uang negara sebelumnya?

Tentu saya tidak ingin seperti itu. Harus ada jaminan ini: dengan suntikan tersebut Merpati bisa hidup dan berkembang. Tidak seperti suntikan-suntikan uang ratusan miliar rupiah di masa lalu. Ini juga harus menjadi uang terakhir dari negara untuk Merpati. Sudah terlalu besar negara terus menyuntik Merpati, dengan hasil yang masih begitu-begitu saja.

Karena itu, saya kemukakan terus terang di forum: daripada uang Rp 561 miliar tersebut terhambur ke udara begitu saja dan karyawan pada akhirnya kehilangan pekerjaan juga, lebih baik Merpati ditutup sekarang juga. Uang itu bisa dibelikan kebun kelapa sawit. Tiap karyawan mendapat pesangon 2 ha kebun sawit.

Orang Riau punya dalil: satu keluarga yang punya 2 ha kebun sawit, sudah bisa hidup sampai menyekolahkan anak ke ITB! Memiliki 2 ha kebun sawit lebih memberikan masa depan daripada terus menjadi karyawan Merpati.

Tentu ide ini membuat pertemuan heboh. Sekaligus peserta pertemuan tertantang untuk menolaknya. Mereka tidak rela kalau Merpati harus mati. Kebun sawit bukan bandingan untuk masa depan. Oke. Saya setuju. So what? Kalau dari operasionalnya saja sudah rugi, masih adakah alasan untuk mempertahankannya?

Maka, saya ajukan ide untuk melakukan pembahasan topik per topik. Ini untuk mengecek apakah benar masih ada harapan?

Topik pertama adalah: bagaimana membuat pendapatan Merpati lebih besar daripada pengeluarannya. Kalau tidak ada jalan yang konkret di topik ini, putusannya jelas: Merpati harus ditutup.

Asumsinya: bagaimana bisa memikul beban yang lain kalau dari operasionalnya saja sudah rugi besar. Berapa pun modal digerojokkan tidak akan ada artinya. Lebih baik untuk beli kebun sawit!

Meski logika sawit begitu jelas dan rasional, rupanya masih banyak yang takut mengubah jalan hidup. Ketika hal itu saya kemukakan, seseorang nyeletuk dari arah belakang. “Salah Pak Dahlan! Bukan kami takut menjadi petani sawit, tapi Merpati ini masih punya peluang besar,” katanya. “Asal semua orang di Merpati punya etos kerja yang hebat,” tambahnya.

Etos kerja ini begitu sering dia sebut sebagai penyebab utama kesulitan Merpati sekarang ini. Dia sangat percaya etos itulah kuncinya, sehingga sepanjang enam jam rapat itu dia selalu dipanggil dengan nama Pak Etos.

Pak Etos mungkin benar. Tapi, itu masih kurang konkret. Yang diperlukan adalah usul konkret dan realistis. Yang bisa membuat pendapatan lebih besar daripada pengeluaran. Yang bisa dilaksanakan dalam keadaan Merpati as is.

Pagi itu begitu sulit mencari ide yang membumi. Saya pun lantas teringat pada gurauan pedagang-pedagang sukses seperti ini: “Tuhan itu baik. Tapi, uanglah yang bisa membuat orang mengatakan Tuhan itu baik”.

Rupanya perlu rangsangan material untuk melahirkan ide-ide kreatif. Rupanya perlu dana untuk mendatangkan Tuhan. Maka, saya tawarkan di forum itu: peserta rapat yang mengusulkan ide terbaik akan saya beri hadiah satu mobil baru, Avanza, dari kantong saya pribadi.

Rapat pun menjadi heboh. Gelak tawa memenuhi ruangan. Ide belum muncul, tapi warna mobil sudah harus dibicarakan. Setuju: warna krem! Neraka sawit ternyata tidak menarik. Surga Avanzalah yang menggiurkan. Pantaslah kalau Jakarta macet!

Tuhan rupanya benar-benar datang. Inspirasi bermunculan. Hampir semua peserta rapat mengangkat tangan. Mereka berebut mendaftarkan ide. Angkat tangan lagi untuk ide kedua. Ide ketiga. Bahkan, ada yang sampai mendaftarkan lima ide.

Setelah terkumpul 53 ide, barulah diperdebatkan. Mana yang konkret dan mana yang terlalu umum. Mana yang menghasilkan rupiah, mana yang menghasilkan semangat. Mana yang membuat pendapatan lebih besar, mana yang membuat pengeluaran lebih kecil.

Ide-ide itu kemudian di-ranking. Dari yang terbaik sampai yang terkurang. Dari yang terbanyak menghasilkan rupiah sampai yang menghasilkan etos. Perdebatan amat seru karena masing-masing mempertahankan idenya. Terjadi diskusi yang luar biasa intensif, mengalahkan rapat kerja bagian pemasaran.

Dari ranking yang dibuat, memang sudah bisa diketahui siapa yang bakal dapat mobil. Tapi, ada yang protes. “Sebaiknya hadiah baru diberikan setelah ide itu jadi kenyataan,” teriaknya.

Rupanya, dia ingin membuktikan bahwa meski idenya kalah ranking, dalam pelaksanaannya kelak akan mengalahkan juara ranking itu. Setuju. Kita lihat dulu kenyataan di lapangan. Peluang bagi ide yang ranking-nya di bawah pun masih terbuka.

Tentu ide-ide itu masih dirahasiakan. Ini terutama karena masih akan dirumuskan dalam bentuk program kerja nyata di lapangan. Tapi, semua ide memang sangat menarik. Dari sinilah bisa diketahui bahwa Merpati seharusnya tidak akan rugi secara operasional. Kalau ini terlaksana, pemilik dana tidak akan ragu membantu. Alhamdulillah. Tuhan memberkati.

Topik berikutnya adalah MA 60. Bagaimana kinerjanya selama ini? Apakah bisa menghasilkan uang dan terutama bagaimana mengembalikan citra yang rusak akibat kecelakaan Kaimana?

Banyak juga ide gila yang muncul. Termasuk ide bahwa khusus untuk MA 60 sebaiknya dicarikan pilot bule. Seperti pesawatnya Susi Air. Orang kita lebih percaya kepada bule daripada bangsa sendiri. Ketidakpercayaan orang terhadap MA 60 bisa ditutup dengan pilot orang bule. Huh!

Saya benci dengan ide ini.

Tapi, demi Merpati saya menerimanya!

Maka, setelah enam jam berdebat, tepat pukul 16.00, rapat pun diakhiri dengan lega. Saya bisa segera pulang untuk mandi pagi! (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +2 (from 2 votes)

Popularity: 2% [?]

Posted in Artikel, MSN, Transportation1 Comment

Tanpa Optimisme, Lupakan Saja

Tanpa Optimisme, Lupakan Saja

Saya ingat cerita ayah saya ketika kecil..dan menurut beliau, tentu saja bukan kisah nyata. Tapi sampai sekarang, cerita ini menarik perhatian saya. Sebut saja Bambang dan Eko, baru lulus dari perguruan tinggi, dan mantab membangun usaha sendiri. Keduanya mempunyai bisnis yang sama, yakni berjualan baju.

Keduanya pergi ke sebuah pulau antah berantah untuk melakukan survey pasar. Di pulau tersebut, mereka menemukan bahwa semua orang tidak pakai baju. Pulang dari pulau tersebut, Bambang dan Eko menulis di jurnal hariannya.

Bambang menulis :
“Sungguh perjalanan yang sia-sia. Semua orang tidak suka pakai baju. Saya coba tawarkan satu baju gratis kepada seorang anak remaja, dicoba, dan langsung dibuang. Benar-benar pasar yang tidak potensial”

Eko menulis :
“Luar biasa. Semua orang belum punya baju. puluhan ribu orang. Pasar yang sangat potensial. Mereka memang belum punya keinginan memakai baju, tapi dalam 2-3 tahun, budaya mereka akan ku ubah. Tidak mudah, tapi bukan hal yang mustahil”.

Which one are you?

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +1 (from 1 vote)

Popularity: 1% [?]

Posted in Artikel, MSN0 Comments

100 Most Influental Youth, Women, dan Netizen 2011

100 Most Influental Youth, Women, dan Netizen 2011

Sejak Oktober 2011 lalu, komunitas Marketeers di 11 kota (Jakarta,Bandung, Surabaya, Medan, Semarang, Denpasar, Makassar, Banjarmasin, Manado, Pekanbaru, dan Palembang) bersama jaringan mitra media-nya memberikan input nama-nama mereka dari kalangan anak muda (berumur kurang dari 35 tahun), perempuan, dan netizen yang berpengaruh saat ini dan bagi masa depan Indonesia.

Berlatar belakang sebagai profesional, entrepreneur, artis, olahragawan, atau aktivis sosial, para Youth, Women, dan Netizen ini, Marketeers melakukan profiling sebagai YWN 100. Ini adalah sebuah inisiatif yang akan ingin kami lakukan secara kontinu setiap tahun dan rilis setiap edisi Januari. Membuat list seperti ini memang tidak mudah. Tanpa mengecilkan prestasi dan pengaruh nama-nama kaum Youth, Women, dan Netizen yang tidak diprofile di sini, kami merilis Marketeers YWN 100 ini untuk memberikan gambaran nyata langkah perubahan yang dilakukan oleh kaum muda, perempuan, dan pengguna Internet untuk Indonesia yang lebih “new wave.” Seratus YWN ini akan diberi penghargaan pada acara “Real WOW Party: Konser Keajaiban Indonesia” yang rencananya akan diselenggarakan di Ballroom Ritz Carlton – Pacific Place, Jakarta, pada 15 Desember 2011 pukul 19.30-22.00 WIB.

Berikut adalah daftar para penerima penghargaan Marketeers YWN 100:

Adrian Suherman, CEO Dealkeren
Affi Assegaf, Pendiri Female Daily Network
Ainun Niswati Chomsun, Penggagas Akademi Berbagi
Alanda Kariza, Penggagas Indonesia Youth Conference
Ali Bagus Antra Suantara, Pemilik Bebek Garang
Akhyari Hananto, Penggagas Good News From Indonesia (GNFI)
Amelia Tjandra, Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor
Amalia Susilowati, Euro RSCG
Andi Nata, Farm Maju Bersama
Anisah Usman, Pemilik Butik Anisah
Andy Sjarief, Pendiri dan CEO SITTI
@Anjing Gombal,Twitter Influencer
Anton Soeharyo, Pendiri TouchTen
Aria Rajasa, Pendiri Gantibaju.com
Ariyadi Yunianto, Cendani Spa
Atet Sugiharto, MediaX9
Atiek Nur Wahyuni Sulistiowati, Presiden Direktur Trans7
Azrul Ananda, Presiden Direktur Grup Jawa Pos
Bambang Pamungkas, Pemain Timnas
Billy Boen, Young On Top
Bima Said, Director & Chief Editor at GOAL.com Indonesia
Budi Setyawan (Bukik), Penggagas Indonesia Bercerita
Christiany Eugenia “Tetty” Paruntu, Bupati Minahasa Selatan
Citra Natasya, Chairwoman IYC 2011
Decky Suryata, Pendiri Salakka
Denny Santoso, Pendiri SixReps
Danny Wirianto, CEO Mindtalk
Dezwara Aulia, KerjaKreatif
Dian Siswarini, Direktur Teknologi, Content & New Services XL Axiata Tbk
Diana Rikasari, pemilik www.iwearUP.com
Dicky Sukmana, CEO Invictus
Donald Wihardja, Pendiri Indomog
Eko Nugroho, Founder Kummara/Indonesia Bermain
Ernest Prakasa, Penggerak Standup Indo
Enda Nasution, Pendiri SalingSilang
Evita Nuh, Blogger 12 tahun (Jellyjellybeans.blogspot.com)
Fahira Idris, Gema Damai
Fredriek Lumalente, d’ROA
Friderica Widyasari Dewi, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia
Frans Satrya Pekasa, Pengusaha-cum-Konsultan SEO
Gigih Imam Nugraha, Susu Jagung “Cirumbu”
Goris Mustaqim, Asgar Muda/Community Entrepreneur Award Recipient
Gustaff Hariman, Pendiri Common Room Network
Hajar Aswad, Pemilik Bandeng Massipa
Handayani, Senior Vice President Consumer Cards Group Bank Mandiri
Happy Astidiana Paramitasari, Design-TrashInas
Luthfi, Nightspade
Ifa Isfansyah, Sineas
Ivan Kurniawan, Co-founder & Direktur Lazuli Sarae
Ibu Robin Lim, Pendiri Yayasan Bumi Sehat
Iwet Ramadhan, Kabaret Kroncong
Jason Lamuda, Pendiri dan CEO Disdus
Kemal Arsjad, Produser Film
Kasandra Putranto, Psikolog
Katherina Patrisia, Direktur PT Boma Bisma Indra
Kemal Chakraditya, Pendiri Yummy Bunny
Kevin Osmond, Pendiri Bouncity
Kukuh Tutuko, Pendiri iPaymu
Kuntowi Yoga, Pendiri Simamaung
Lindrawati Widjojo, President Commissioner of PT Sucorinvest Central Gani
Muhammad Ichsan, Pemilik Burger Nasi Indonesia
Maharani Ardi, Atlet Menembak
Marzuki Mohammad a.k.a Kill the DJ, Pendiri Jogja Hip-hop Foundation
Mira Lesmana, Pendiri MiLes Production
Nadiem Makarim, Pendiri GO-JEK
Ni Luh Putu Sri Evayunni, Presiden Direktur studiMaya
Nia Dinata, Sineas
Odi Anindito, Pemilik Coffee Toffee®
Priyadi, Blogger
@poconggg Arief Muhammad, Pemilik akun @poconggg
Pena Adiadipura, Penggagas KomuniAKSI
Rahmat Hidayat, Penerbit Alexandria
Rak a Mahesa, Pengembang Aplikasi
Rahmi Salviviani, Taman Kanak-Kanak Alifakids
Rama Mamuaya, Pendiri DailySocial
Ricky Suhendar, Head of Marke ting Pocari Sweat Amerta Indah Otsuka
Reza Nurhilman, Pendiri Maicih
Ridwan Kamil, Penggagas IndonesiaBerkebun
Rio Haryanto, Pembalap GP3
Robby Adiarta, Pemilik Angkringan Modern Jogjakarta
Rukmini Paata Toheke, Ketua OPANT / Organisasi Perempuan Adat Ngata Toro
Sinta, Usaha Kripik Ibu Mery
Sanny Ghadaffi, Founder Institute
Sarah Ervinda, Pemenang Bayern Environment Project
Soimah Pancawati, Pesinden
Surya Dr, Pendiri Hompimplay
Tri Mumpuni, Pemrakarsa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro
Titus Bonai, Pemain Timnas U-23
Tex Saverio, Fashion Designer
@Terselubung, Twitter influencer
Valencia Mieke Randa, Blood For Life
Veronica Colondam, Yayasan Cinta Anak Bangsa
William Tanuwijaya, Pendiri TokoPedia
Yohan Totting, Explore Komodo
Yansen Kamto, Penggagas IDYBITE dan Kibar Kreasi
Wiwiek Dianawati Santoso, Presiden Direktur Marga Mandala Sakti
Yessy V. Yosaputra, Perenang
Zeby Febrina, Penggiat Komodo
Yuri Pratama, UrchIndonesia
Zaneta Naomi Sutrisna, Penyanyi Belia Berprestasi

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Artikel, General, MSN0 Comments

Ekonomi Jawa Timur yang “Menggila”

Ekonomi Jawa Timur yang “Menggila”


Oleh Drs Ahmad Cholis Hamzah, MSc
Dosen STIE PERBANAS Surabaya

Bank Indonesia Surabaya memprediksi bahwa perekonomian Jawa Timur di tahun 2012 akan melampaui perekonomian nasional dengan angka pertumbuhan sekitar 6,7-7% , sedangkan ekonomi nasional akan berkisar 6,3-6,7%. Di kuartal ketiga tahun ini (2011) pertumbuhan ekonomi propinsi ini sudah mencapai 7,2%, angka ini diatas pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama yaitu 6,5%. Kepala Bank Indonesia Surabaya Mohammad Ishak mengatakan bahwa untuk bisa mencapai angka pertumbuhan 7%, Jawa Timur memerlukan tambahan investasi sebesar Rp 175 sampai 190 trillion, dimana Rp 40 trillionnya bisa diperoleh dari industri perbankan nasional; sedangkan sisanya bisa diperoleh dari pihak swasta, investor baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini bisa dimungkikan karena peringkat kredit Indonesia sudah naik menjadi investment grade, sehingga dana investasi dais umber luar bisa diharapkan. Menurut data BI Surabaya, struktur ekonomi Jawa Timur banyak di dominasi sector konsumsi, dan hal ini membuat Jawa Timur mudah menjadi target pasar bagi produk-produk luar negeri, terutama dari China dan dari negara-negara tetangga ASEAN.

Kekuatan ekonomi Jawa Timur terletak dari historisnya – propinsi ini sejak jaman dulu sudah menjadi basis industri manufaktur dengan ketersediaanya infrastruktur pelabuhan dan jalan yang memadadi. Selain itu propinsi ini juga dikenal sebagai lumbung padi nasional karena menyumbang sekitar 30-35% beras untuk konsumsi beras nasional. Selain itu propinsi ini juga dikenal dengan pusat gula nasional, karena dari sekitar 51-54 pabrik gula di Indonesia, 33 nya berada di Jawa Timur, karena itu Jatim itu juga mensupply sekitar 30% kebutuhan gula nasional. Jawa Timur juga merupakan basis industri rokok nasional karena beberapa pabrik rokok terbesar di negeri ini berada di Jatim. Kekuatan ekonomi lainnya adalah ditemukan banyak sumur gas dan minyak bumi serta tambang lainnya seperti emas. Dan ini telah menarik investor terkenal luar negeri di bidang minyak dan gas melakukan explorasi di Jawa Timur.

Potensi ekonomi ditingkat bawah pun juga besar di propinsi ini, Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur pernah mencatat bahwa ada sekitar lebih dari 4 juta industry menengah dan kecil yang beroperasi di propinsi ini. Mereka ini dikenal sebagai economic players yang tangguh dan bertahan bahkan ketika ekonomi nasional dan dunia mengalami economic downturn. Mereka ini tidak hanya berkiprah di dalam negeri namun sudah banyak yang meng ekspor produknya ke luar negeri. Kalau kita ke Pulau Dewata Bali dan mengunjungi produk-produk souvenir sebagai hasil dari kegiatan ekonomi kreativ; maka kita akan jumpai bahwa para pengusaha maupun produk-produknya banyak berasal dari Jawa Timur.

Namun propinsi ini perlu waspada, karena struktur ekonominya sekarang banyak bertumpu pada sector konsumsi. Kalau tidak diimbangi dengan sector produksi maka dalam jangka panjang perekonomian Jawa Timur akan menjadi masalah. Kalau kita pelajari kolapsnya perekonomian negara maju seperti AS dan beberapa negara Eropa salah satu penyebabnya adalah struktur perekonomian mereka di dominasi oleh sector konsumsi dan di penuhi dari impor. Propinsi ini harus jeli memonitor pelaksanaan beberapa Free Trade Agreement dengan beberapa negara seperti AFTA (diantara negara-negara ASEAN) dan CAFTA (antara China dan ASEAN). Perjanjian-perjanjian itu pada dasarnya menyepakati turunnya import duty secara bertahap yang nantinya sampai menjadi 0%. Negara-negara yang terbukti lebih efesien di perekonomiannya akan mudah menang dalam berkompetisi memasukkan barang-barangnya ke pasar dunia termasuk ke pasar Indonesia/Jawa Timur. Apabila perekonomian Jawa Timur (atau propinsi-propinsi lainnya di Indonesia ini) masih ekonomi biaya tinggi – high cost economy, sulitnya perijinan -meskipun banyak daerah kabupaten kota yang berjanji untuk memperpendek jalur birokorasi, namun masih saja ditemui sulitnya mengurus ijin usaha di berapa daerah.

Propinsi-propinsi lain yang memiliki potensi ekonomi yang bagus seperti Jawa Timur juga harus belajar dari situasi dan kondisi di Jawa Timur. Pertumbuhan ekonomi nya bagus dan potensi ekonominya mengesankan, namun tetap harus waspada terhadap masih maraknya praktek ekonomi biaya tinggi. Kalau tidak di sadari maka perekonomiannya akan semua – atau yang sering disebut dengan terminology growth paradox, artinya ekonominya kelihatan bagus tapi banyak masyarakatnya masih miskin dan pengangguran. Semoga hal ini tidak terjadi.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Artikel, MSN0 Comments

Akan ada yang berbeda di TNI AL

Akan ada yang berbeda di TNI AL

Kabar cukup mengejutkan datang dari TNI Angkatan Laut. Dikabarkan bahwa kapal canggih terbaru produksi dalam negeri, X3K Trimaran (produksi PT Lundin di Banyuwangi) akan segera menjadi salah satu kapal perang di jajaran TNI Angkatan Laut.  Secara keseluruhan, TNI AL memesan 5 unit kapal jenis ini, untuk memperkuat armadanya melakukan patroli laut.

Kapal X3K adalah kapal dengan 3 hulls, berkecepatan 40 knot, dan mampu membawa peluru kendali yang bisa menjangkau 120 km. Jika proyek pengadaan ini berhasil maka ini merupakan sejarah bagi Indonesia karena telah berhasil membuat kapal perang dengan komposit serat karbon, dan ini akan dipatenkan dan diekspor ke luar negeri, begitu kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. 

Bandingkan dengan kapal boat di sebelahnya (alutsista.blogspot.com)

Masih menurutnya, ini merupakan kapal `Trimaran` pertama yang dibuat dari serat karbon. Amerika Serikat pernah membuat kapal sejenis dengan panjang 120 meter namun dari bahan alumunium atau baja. Komposit serat karbon juga telah digunakan untuk pembuatan pesawat Boeing-777 dan mobil formula 1. Ketahanannya 20 kali lebih kuat dibandingkan baja.

Masuknya kapal baru ini tentu saja menambah percaya diri saya, sebagai warga negara biasa, bahwa TNI AL bisa menjaga wilayah laut Indonesia dengan lebih baik lagi.  Bukan apa-apa, dalam waktu yang hampir bersama, TNI AL juga akan membeli 3 kapal selam jenis terbaru dari Korsel.

Bravo, TNI AL

(credit : Antara)

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +1 (from 1 vote)

Popularity: 2% [?]

Posted in Artikel, MSN1 Comment

Stealth Patrol Boat, Made in Indonesia

Stealth Patrol Boat, Made in Indonesia

TNI Commander describes the process of purchasing defense equipment was carried out in II year strategic plan 2010-2014. Meanwhile, Commander of the explanation is related to the question among members of Commission I of the House regarding the plan to the Air Force buy the Super Tucano aircraft to be placed in the squadron of 14 Madison and the Navy plans to buy fast patrol boats. “The TNI AU has proposed budget and its support for the purchase of as many as 16 units to one squadron,” he said.

Related efforts to empower strategic industry for national defense, according to the TNI chief, the institute also plans to involve or PT Dirgantara Indonesia cooperation in various matters relating to training, guarantee the availability of spare parts, the percentage of local content and technology transfer.

About the purchase of fast patrol boats, the TNI chief said that according to II-year strategic plan 2010-2014, the Navy has budgeted the purchase of Quick Ship Missile trimaran with a length of 60 meters and Fast Ship Missiles along 40 meters. “Both are products of private industry nationwide,” said Commander of the TNI.

In a meeting led by Chairman of Commission I Aziz Stamboel (FPKS), was also attended by Defense Minister Purnomo Yusgiantoro, the TNI chief of staff and Deputy Defense Minister Sjafrie Sjamsoeddin.

North Sea Boats X3K Trimaran

Dimensions :

Length (over all) : 55 meter
Beam : 16 meter
Draught : 2 meter
Main engine : 4 x C32 Caterpillar
Max speed : 40 Knots
Range : 2000 nm
Displacement : 130 tons

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 2% [?]

Posted in Military0 Comments

Riding the wave of Indonesia

Riding the wave of Indonesia

In the middle of nowhere Swedish John Lundin and his Indonesian wife Lizza is designing and producing high speed boats for patrolling and to ambush pirates with the help of some of the world’s sharpest brains in designing speedy boats. The latest project is a gigantic trimaran 60 metres long with the speed of around 150 kilometres per hour. The details are still covered as military secrets but the Swede lift as much of the curtains as he can in this feature.

John Lundin belongs to a boat building family. When he was in his mid twenties the family’s five shipyards in Sweden and Norway “Swede Ship Group” went bankrupt and Johns farther Allan Lundin got cancer.

In all that mess the young man went to Indonesia out of all places, sold two boats, and obviously more important, he met his Indonesian wife Lizza.

“The next year or two we lived together in Sweden where Lizza, took care of my father until he died. His illness hit at the same time as Sweden almost went bankrupt, and they also cancelled subsidies to shipyards. While Sweden follow the rules and lost good business other countries bended the rules and their shipyards survived at least for a while” John Lundin, 40, explains at the backseat of his minivan while we drive from Legian Beach in Bali to Banuywangi at the eastern tip of Java.

“The creditors in Sweden told me at a time that I could keep one of the shipyards, if I just signed their papers. But I would have nothing to do with that. Of course I could se the signs at the walls. My family had build more than 200 patrol boats to Sweden and others Scandinavian countries plus a similar amount of leisure boats” John Lundin says.

It was clear to him that the boat story was a little like the shirts. 80 % of the close he used while fighting for his Swedish family business was produced in Asia. It would be the same with boats. If the Swede could transfer the Swedish quality to production in Indonesia he would be the king.

“Lizza and I left for her country and landed in Jakarta. When I looked around I was surrounded by experts in the issue “Indonesia”. Almost every single westerner knew everything from day one of their arrival to this very beautiful but also very difficult place”.

Pretty quickly John was fed up with all that. He wanted to learn “Indonesia” from scratch.

“I talked with Lizza. What do people make in your village” I asked her. Rice and wood. OK I thought. That could be a perfect place to start”, John Lundin say. We are still in the minibus on our six hours trip to Banuywangi in East Java.

John and Lizza were still in their twenties when they arrived in her village Sukowidi. And Lizza had been right. They produced rice and wood. The latter was doors to peoples own houses and when it went at the best they produced some tables or chairs in “local” quality.

After only half an hour in a restaurant and 7 hours in a minivan it’s clear for me that John has something with people. His huge body, his steady look at you, his a little subdued way to talk to you but still filled with confidence and curiosity he is making wonders just be being together with people.

It was the same at that time. 13 years younger but still equipped with respect, openness, and curiosity and the desire to learn.

And learn he did together with his wife Lizza.

“As a start I only wanted to learn to work in Indonesia. Rice and wood. Clearly I wasn’t a rice farmer so the wood was left for me”, John is smiling.

The Swede who only has a bachelor in economic from Oxford started to become an expert in wooden furniture’s. Soon he was exporting to IKEA and other important buyers in Sweden. Later the Swedish shipyards that was left back home became costumers as well.

In the middle of that business with approximately 200 employed in the village, John Lundin had a problem. His furniture’s were perfect when they left Indonesia but during the travel to Sweden they were damaged by humidity and mould.

“I started to solve my own problem but ended up with a proper business, namely the “Super Dry” own three patents. It worked for me and for other branches and with two other partners I opened a factory in Banuywangi. We had more than 200 people employed but most of the costumers were in China. So we moved the production to where most of our costumers are” explains John Lundin.

IKEA, H&M and hundreds of other companies shipping goods to Europe are among the costumers. Super Dry in runner by a British partner, John has no daily involvement in Super Dry. Right now John and his Super Dry partner are involved in the Thai property business. Together they are renovating four huge townhouses in Jomtien. Later they are going to open a hotel.

The time when John Lundin and his wife Lizza was ready to nurse his dream of building boats in Indonesia got closer and closer.

And in 2003 the couple was ready to register “PT Lundin Industry Invest” with production facilities in Sokuwidi in Banuywangi that was the backbone of North Sea Boats. Professional boat builders were hired to train the workers from John’s furniture production.

“Of course I had patrol boats in my mind but we started with Swedish designed Walk-Around fibreglass sports fishing boats” says John Lundin.

Things have now gone full circle as the model has been exported by North Sea Boats back to Sweden.

“When we talked about selling boats the prizes of transport to the end user is almost as much as the prize of the boat. I was thinking a lot about that problem. The cheapest way to transport what ever is by container. You fill up a container and then the goods arrive to the costumer as cheap as possible. It seems like nobody had combined designing boats to the size of a 40 foot container before I did that”. John Lundin is laughing.

So the Swede made logic to design reality.

The X2K was born.

It’s a seaworthy high- speed suited for pleasure, fishing, diving and not the least to the military. Since then there has been produced more than 30 X2K and also important they have all been delivered in a 40 food container.

But John’s background with his Farther Allan Lundin building patrol boats to police and army in Scandinavia still played with the Swede.

“A coupled of years after we sold the first X2K we painted one grey and launched at a military exhibition in Indonesia”, says John Lundin.

Since then him, his wife Lizza and PT Lundin has gone from strength to strength.

At that time Lizza had sort of backed out of the daily business. The couple never managed to become parents but here with the new contact to the Indonesian Navy you can say that Lizza got her self a different child. Namely the production and sale of patrol boats to the military.

“The entrance to the military was a whole new ballgame. The impertinence of Lizza can never be overvalued. With out her I would never ever have been able to do what we did. Its common stuffs that friendship and business goes together in Asia. But with the military that business culture is much more developed. For us Lizza became friends with the decision makers at the navy. They never talked business, but she made the important socializing with the wife’s of the generals”, says John Lundin.

While Lizza was busy making contacts with the navy John made his design department create an almost seven wonder if we talk about patrol boats. The X2K became first X2K Fast Interceptor and then the addition X2K RIB with the combination of a fibreglass body/ hull and a inflatable part. Plus night vision, special chairs designed in Sweden and so on.

The RIB ship from PT Lundin is qualified as a patrol ship and to ambush pirates.

And the container Principe was still working with these turnkey boats.

 

“The Indonesia navy was happy with what they got. Since the first delivery we have sold more than thirty boats to different military units or police. Malaysia and Singapore came next.

Together the two neighbouring countries bought more than 40 boats. Then Brunei followed, the same did WWF Indonesia, and we are still developing on the original X2K concept”. John Lundin says.

More than three years ago John had another lunch appointment with the head of the Indonesian Navy.
The latest PT Lundin product at the market is X-38 Patrol and combat Catamaran whose design was commissioned in-part by the Swedish Search and Rescue Service. The boat reaches a speed of 40 knots or approximately 100 kilometres per hour.

“At that meeting I was asked to come up with some very special. Something worthy coming after a proven success as X2K” says John Lundin. He also underlines the difficulties talking about a military project during the creative process.

But John tries to explain as much as he can without breaching any military secrets.

John looked around for a design with lots of speed. It was obvious that it had to be a trimaran. At that time some designers in New Zealand was designing a speed ghost called EarthRace. The boat later won the around the world race. EarthRace is proven the fastets boat ever designed and build.

“Lizza and I plus seven other staff went to New Zealand were we got the attention from day one. I asked them what would happen if we more the less made EartRace three or four times bigger. The answer was that the result would be much much better. The people behind the EarthRace very ready to take part in the development of a super patrol boat witch would almost be a competitor to the much more expensive Swedish patrol boat.

Three years after The Lundins first trip to New Zealand the couple has spend more than 5. mio. US dollars in design and development. Lesser than half of that amount has been sponsored by others.

“We have signed a contract with the Indonesian Navy on delivery of one trimaran patrol boat 60 metres long made in carbon glassfiber and we have the option of three more boats. The Americans have made a trimaran 120 metres long but in aluminium. The only sort of comparable boat at the market is Kockums Visby witch is more advanced but also much much more expensive”, John Lundin insures.

To day the production facilities are ready in Banuywangi. A 63 metres long hall has just enough space to the new project. Workers already prepare wood to make the skeleton to the carbon fibre boat. The carbon fibre witch is also used for production of airplanes and Formula One cars are 20 times stronger than steel.

Upstairs at the offices some of the world’s best on design of speedy boats do the best they can to make a difference.

“WE have done almost whatever to hire the absolute best available designer an engineers at the market. We have designers with experience from The America Cp, Volvo Ocean Race and have also hired experienced designers specialising in Patrol boats from Sweden”, says John Lundin.

While his biggest project is progressing he and his staff also have there creative fingers on some of the smallest boats John has ever had his hands on. Namely a patrol boat designed for rivers.

“The need of patrol boast is huge. The new product is for rivers. You just get it into a container and away you go. When the work is

done, back in the container and off it goes to the next places”, say John Lundin.

Scandasia.com

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Military1 Comment

Photobucket
Design your own t-shirt at ooShirts.com!
Photobucket
Parlemen Muda Indonesia

GNFI’s Charity Project

GNFI Channels

@GNFI on Twitter GNFI on Facebook GNFI's Channel on YouTube

Good News by Month