Author Archives | Akhyari

15 new N-219 Planes for Papua

15 new N-219 Planes for Papua

Aircraft manufacturer PT Dirgantara Indonesia (PTDI) is to build 15 N-219 airplanes for service on so-called “pioneer” routes in Papua province, a company official said here on Thursday.

“Work to construct the N-219 planes has already started with a prototypes expected to be completed in 2014,” PTDI technology and development director Andi Alisjahbana said.

Andi said the production cost of one N-219 plane with a capacity of 19 passengers was US$4 million so that around US$60 million would be needed to build the 15 N-219 planes for Papua.

Andi said PTDI had forwarded a request to the government to obtain the needed funds from the state budget.

“The plan to produce the 15 N-219s has the full support of the government through the ministries of research and technology, industry and transportation,” he said.

He said the N-219 was a type of plane vell suited for use in pioneer regions like those in Papua and other eastern Indonesia provinces where the runways of almost all airports were less than 800 meters long.

“The runways of most airports in Papua are less than 800 meters and in some cases even only 400 meters long,” Andi said, adding N-219 type planes were urgently needed in the province. (Antara)

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in General0 Comments

Sepeda adik saya…

Sepeda adik saya…

Saya masih ingat ketika adik saya dibelikan oleh ayah sebuah sepeda. Waktu itu, kondisi keuangan belum begitu baik, sehingga karena terbentur anggaran, sepeda yang dibeli pun bukan sepeda dengan merk terkenal, dan saya yakin harganya pun murah. Tanpa saya sangka, dalam kurang dari seminggu, sepeda itu sudah mengeluarkan bunyi-bunyian yang menandakan sekrup-sekrupnya kendor. Rantaipun kadang lepas.

Saya juga masih kecil waktu itu, dan saya bisa merasakan bagaimana perasaan adik saya, dan pasti ayah saya juga merasa sangat bersalah. Namun ternyata saya salah.

Saya tidak pernah sekalipun mendengar dia mengeluh tentang sepedanya, dan saya masih ingat ketika dia pulang sekolah (kelas 3 SD), sepedanya dituntun karena rantainya putus. Bagi kebanyakan anak, mungkin kejadian tersebut akan membuatnya ngambek, marah, atau nangis. Tapi sungguh, tidak adik saya. Dan ayah saya pun dengan tekun membetulkan sepeda adik saya setiap kali ada yang tidak beres, mengganti suku cadang yang rusak satu demi satu, dan dari situlah ternyata adik saya mulai belajar untuk membetulkan sepedanya sendiri untuk kerusakan ringan.

Dalam 2 bulan pertama, saya masih ingat bahwa sepeda itu rusak hampir tiap 3 hari sekali. Tahun berlalu, ternyata sepeda itu menjadi jarang sekali rusak, selain karena sebagian suku cadangnya diganti dengan baik, juga karena ketekunan adik saya memelihara, membersihkan, dan membetulkannya. Sampai 15 tahun kemudian, sepeda yang awalnya bobrok itu masih bisa dipakai dengan baik. Dan satu hal yang perlu saya garis bawahi adalah, adik saya sekarang adalah pemilik dari 11 bengkel sepeda/sepeda motor di Jogja, pemilik toko suku cadang sepeda/sepeda motor di Jogja dan Solo.

Cerita yang seolah-olah seperti sinetron, tapi benar adanya dan ini kisah nyata.

Lalu saya membayangkan, sepeda itu adalah negara Indonesia, ayah saya adalah pemerintahnya, dan adik saya adalah rakyatnya. Mau apalagi, beginilah Indonesia warisan pendahulu kita, terima saja. Pemerintah juga mempunyai banyak keterbatasan, anggaran, kemampuan, kemauan, dan lain lain. Terima saja. Namun, rakyatnya lah yang berperan penting. Seperti adik saya itu, dia bisa saja menguliti kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan sepeda itu, sambil tanpa henti menyalahkan ayah saya. Namun, adik saya memilih memperbaiki semampunya, tanpa memaki.

*Teruntuk adik saya di Jogja

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +12 (from 12 votes)

Popularity: 2% [?]

Posted in Artikel, General, MSN2 Comments

A Private Roaring Lion

A Private Roaring Lion

Space Jet, the business aircraft charter start-up of Indonesian low-cost carrier Lion Air, will begin operations later this year with Hawker 900XP twin jets, but said it may add other types to the fleet at a later date.

Two of the nine-seat midsize aircraft will arrive in May and September, with two more to be added to the fleet at a later date, said Lion Air president Rusdi Kirana.

“There is no specific time-frame for Space Jet’s third and fourth 900XP,” Kirana said. He added that the company will only consider other types of private aircraft after all four 900XPs are in service. “Other types are possible, but it depends on what we need,” he said.

Space Jet will offer time-sharing and block charter, but Kirana believes traditional ad hoc charter will account for the bulk of the demand.

“Even though time-sharing and block charter would be less expensive [for the customer], I don’t see people being as interested in this,” he said. “The private jet service is targeted at Indonesia’s high-end, who are less concerned about price.”

Kirana anticipates demand for services across Indonesia – mirroring the 62 destinations already served by Lion. “The people who charter us will be aware of the region’s infrastructure and our ability to provide the service at just four hours notice,” said Kirana

While private jet charter is common in Indonesia, Kirana noted, the majority of aircraft in the region are privately owned. This hampers the availability of aircraft as many operators have to juggle the demands of charter customers with those of the owners, he added.

Aside from offering private jet service, Space Jet will operate scheduled services with Lion’s Boeing 737-900ER, and eventually widebody aircraft on both domestic Indonesian and regional routes.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in EcoBiz0 Comments

Booming Ekonomi Yang Perlu Ditanggapi Dengan Cepat

Booming Ekonomi Yang Perlu Ditanggapi Dengan Cepat

Penjualan mobil tahun 2011 di tanah air diyakini mendekati angka 1 juta unit, sebuah milestone baru yang ditunggu-tunggu industri otomotif Indonesia. Bukan apa-apa, penjualan mobil dari Januari – Desember 2011 saja sudah melewati penjualan mobil di Thailand, negara yang telah bertahun-tahun merajai penjualan mobil di Asean dalam hal jumlah. Tahun lalu lah untuk pertama kalinya, Indonesia melewati penjualan mobil di Thailand, dan menjadi yang terbesar di Asean. (Ini angka penjualan, bukan produksi).

Tahun ini (2012), penjualan diyakini akan melampaui 1 juta unit, karena kelihatannya Indonesia cukup kuat menahan gempuran krisis ekonomi dunia yang dimulai di Eropa.

Bagi produsen otomotif dunia, semua hal di atas tidak lain dan tidak bukan adalah good news. Mazda mulai besar-besaran menarget pertumbuhan penjualan di Indonesia, karena mereka percaya pertumbuhan kelas menengah di Indonesia sangat kuat. Chrysler mantap membenamkan modal US$1.1 milyar untuk pabrik baru. Honda bahkan merevisi kembali target penjualan motor di Indonesia lebih tinggi. Bahkan General Motors sedang mempertimbangkan Indonesia sebagai hub di Asean.

Indikasi bagus, karena pertumbuhan ekonomi benar-benar terjadi. Akan tetapi dampaknya akan juga benar-benar makin terasa, terutama di kota-kota besar. Kemacetan di Jakarta akan makin tak terbayangkan, kecuali ada gerak cepat pemerintah mengatasinya. Tentu pemerintah harus mulai memikirkan bagaiman pemerataan pendapatan tidak hanya terjadi di Pulau Jawa, namun juga seluruh propinsi di Indonesia. Kalau tidak, menurut survey sebuah lembaga di Jepang, pada 2015, jalan-jalan di Indonesia akan mencapai overcapacity setinggi 20%.

Ekonomi di luar Jawa harus dibangun, investasi dikebut, infrastruktur dikembangkan secara masif, dan yang paling penting adalah HARUS dimulai dari sekarang!

 

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Artikel, EcoBiz, MSN, Urban Development0 Comments

Sriwijaya Air with its own MRO facility

Sriwijaya Air with its own MRO facility

Indonesia’s Sriwijaya Air plans to start building its own maintenance, repair and overhaul (MRO) facility by 2014.

The facility, which the airline plans to build within two years, is expected to save Sriwijaya up to $50 million annually in maintenance costs, said its corporate planning and business development director, Jefferson Jauwena, at an interview with Flightglobal Pro in Jakarta, Indonesia.

The airline is in talks with airport operator Angkasa Pura II to secure land at Jakarta’s Soekarno-Hatta International Airport to house the facility, Jauwena added.

The hangar will be able to hold four narrowbodies and service both Embraer E-Jets and Boeing 737s.

The Jakarta-based carrier is already handling its own line maintenance, but wants to do heavy checks as well with the opening of the new facility, making it self-sufficient in maintaining its aircraft.

“There are no MRO in Indonesia that can service Embraers, so since we’ve ordered them, it only makes sense for us to service them in-house rather than send them to China, Japan or Australia,” said Jauwena.

Having its own hangar would make economic sense if the airline achieves its target of expanding its fleet to 60 aircraft by 2015, Jauwena added.

The carrier plans to perform maintenance checks for third parties at its new facility, although it is likely to continue outsourcing engine overhauls.

Sriwijaya operates a fleet of 32 737-200/300/400s and has 10 737-800s and 20 E-190s on order.

 

http://www.flightglobal.com/news/articles/indonesias-sriwijaya-to-build-mro-facility-for-heavy-checks-366499/

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in EcoBiz1 Comment

If you are in Ambon, don’t forget to visit Rumphius Library

If you are in Ambon, don’t forget to visit Rumphius Library

By Ahmad Cholis Hamzah, MSc
Ambon the capital city of Maluku Island of eastern Indonesia, was one of the first Maluku Islands to be occupied by the Portuguese. It is one of interesting places in the country as well as one the largest cities in eastern Indonesia. It was built on a hillside overlooking the bay and surrounded by blue sea. There are many interesting sites of historical and cultural interests such as old forts built by the Dutch during colonial period, the ANZAC War Cemetery where Australians, Americans and New Zealanders commemorate the Allied soldiers who died in the area during the Second World War. Ambon is also the venue for the annual yacht race between Darwin Australia and Ambon.

(Image by Kompas)

However, besides such interesting sites, visitors should not forget to visit Rumphius Library that is located in the compound of the Saint Franciscus Xaverius Parish in the Cathedral of Ambon. It is Mgr Andreas Petrus Cornelis Sol who runs the Library helped by Ambonese staffs. Mgr. Andreas Sol who is now more than 95 year old was former of Amboina Diocese for 30 years (1964-1994) and was born in Amsterdam, the Netherlands in 1915 and is still active in managing the Library. It is named after Georg Everardus Rumphius, a German naturalist who was born in Wolfersheim, Germany in 1627 and passed away in Ambon in 1702.

For book seekers of old books, Rumphius is the right place to see as it has good collection of old books especially those books about the history of Maluku and the surrounding Islands. The oldest books in the library are seven works by Francois Velentijn, two of which are title “Beschryving van Amboina (1724) “, and “Omstanding Verhaal van de Geschiednisses and also “D’Amboinsche Rariteitkamer” by Georg Everhard Rumphius and “herbarium Amboinense (1741). In it is also interesting that the library has a complete collection of “National Geographic” from 1914 to the present, and a reprint of the famous “Hikayat Tanah Hiu” (Chronicles of Hiu Land) by Imam Rijali.

Visitors that come to the library are from various backgrounds and from different countries such as Holland, the United States, Australia, German and Italy. So if we want to get acquainted with Maluku, then visit Rumphius Library. It opens from 09:00 am to 12:00 noon.

Ahmad Cholis Hamzah is an (Alumni of Airlangga University and University of London, and a lecturer of STIE PERBANAS- Banking College Surabaya).

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Uncategorized0 Comments

The Flying Sriwijaya..to China and Aussie

The Flying Sriwijaya..to China and Aussie

Indonesia’s Sriwijaya Air will expand its network and launch international services to China and Australia this year.

It is scheduled to start receiving new Boeing 737-800 aircraft this year, which will allow the airline to begin services to Guangzhou and Xiamen in China “where there is high demand for air travel” by the end of the year, said the airline’s corporate planning and business development director, Jefferson Jauwena, in an interview with Flightglobal Pro in Jakarta, Indonesia.

The airline is also eyeing services to Perth and Darwin in Australia as part of its expansion, Jauwena added.

It has 10 -800s on order, dating from a Letter of Intent signed in October 2010, and expects to receive five of them in May 2012.

Sriwijaya also ordered 20 Embraer E-190s at the Paris Air Show in June 2011 with these scheduled for delivery after 2013.

At home, the airline plans to launch services to six destinations including Jayapura, Timika and Biak, while increasing the frequency on existing popular routes.

Jauwena said the carrier is optimistic about its growth this year and aims to carry at least 10 million passengers, up from 8.5 million last year.

“We will spend 90% of the time serving domestic routes first where we know there is demand. We believe taking on the big boys on international routes will be tough, so the aim is to strengthen our position as a domestic player and then use this to support our international expansion,” Jauwena said.

The move is in line with Sriwijaya’s plans to become a full-service carrier within the next three years.

Starting this year, it will reconfigure its cabins to include eight business-class seats. All the 737-800s it receives will be similarly configured.

Sriwijaya is also working with airports across the country to set up lounges for its passengers.

The aim is to capture the premium market where there is strong demand from business travellers and government officials.

“Garuda is the only one serving the market now. We believe there is a huge potential to capture this market,” said Jauwena, adding that the airline will price its tickets lower than Garuda’s, but higher than those of low-cost carriers.

“Indonesia still has huge potential in air travel. So many areas are not being served yet, the yield is very high,” said Jauwena.

(Source : http://www.flightglobal.com/news/articles/sriwijaya-eyes-china-and-australia-routes-with-new-737-800s-366497/)

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in EcoBiz2 Comments

Motor saya itu…

Motor saya itu…

Pagi tadi saya mendengarkan sebuah obrolan di radio di kota saya (bukan Jakarta),  dan terpekur mendengarkan salah satu nara sumbernya menyebutkan bahwa saat ini motorlah penyebab utama kemacetan di kota saya. Pernyataan tersebut sedikit menyinggung ego saya, karena saya adalah pemakai roda dua juga, akan tetapi lebih sebagai perasaan gundah.

Saya ingat masa kecil saya di sebuah dusun kecil di lereng Merapi. Waktu itu, hanya Bapak saya yang mempunyai motor, Yamaha 75 Autolube (kalau tidak salah). Dengan motornya, Bapak saya pulang pergi ke kantornya yang berjarak 20-an kilometer, mengantar adik saya ke sekolah (waktu itu satu-satunya TK berada 4 kilometer-an dari rumah kami), membawa rumput dari ladang untuk sapi kami, dan membawa hasil panen kami (sayur mayur, kacang, jagung dll). Bagi kami, motor Bapak saya tidak hanya menjadi alat transportasi, namun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam keluarga kami. Suatu ketika, motor tersebut ngadat dan harus masuk bengkel selama 4 hari, dan praktis aktifitas keluarga kami melambat secara dramatis.

Itu satu motor. Bagaimana dengan jutaan motor? Diperkirakan ada sekitar 60-an juta sepeda motor di Indonesia per 2011. Di kota saja, ada jutaan orang yang memakai roda dua sebagai tulang punggung aktifitasnya. Tetangga saya mempunyai satu motor, dan dipakai untuk mengangkut bumbu-bumbu dapur, telur-telur pagi dini hari ke pasar untuk dijual, pulang untuk menjemput istrinya untuk berjualan di pasar, lalu pulang lagi mengantar 2 anaknya yang sekolah di SD dan SMP, dan menjemput istrinya dari pasar pada jam 11, lalu menjemput anak-anaknya dari sekolah jam 2 siang. Dan itu dilakukan setiap hari. Memikirkan motornya mogok, adalah sesuatu yang tidak terbayangkan bagi saya.

Bagaimanapun, kemudahan memiliki roda dua saat ini, tanpa dirasa telah membangkitkan ekonomi bagi jutaan keluarga di Indonesia. Seringkali kita menganggap bahwa motor menjadi penyebab kemacetan di jalan-jalan kota kita, tapi bukankah mobil pribadi juga, angkot juga, bis juga, penyeberang jalan juga, kerusakan jalan juga? :)

Motor saya yang warna biru, sekarang punya kebanggaan baru, “Four Wheels Move Your Body, Two Wheels Move Your Soul (and National Economy too)”.

 

 

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +3 (from 3 votes)

Popularity: 2% [?]

Posted in Artikel, EcoBiz, MSN1 Comment

Esemka Perlu Lebih

Esemka Perlu Lebih

by Ahmad Cholis Hamzah*)

Jepang memiliki sinergi yang powerful didalam negerinya dalam upayanya menguasai pasar global. Sinergi ini antara MITI –Ministry of International Trade and Industry, sebuah kementrian yang berpengaruh di Jepang, dengan Keidanren – parlemen dan dunia usaha. Secara regular ketiga sinergi ini membahas kondisi ekonomi nasional dan global dan saling memberi dukungan kuat. Misalkan, apabila ada perusahaan Jepang yang ingin berinvestasi di luar negeri, maka MITI akan all-out memperjuangakannya dengan berbagai jalur misalkan jalur diplomatic maupun pertemuan bilateral dengan negara dimana perusahaan Jepang itu akan berinvestasi. Tujuan utamanya adalah produk-produk Jepang menguasai pasar global.

Amerika Serikat, memiliki budaya kompetisi tinggi dan dikenal ingin tetap memegang supremasi global dibidang apapun. Karena itu banyak perusahaan-perusahaan besar maupun para dermawan yang bersedia mengucurkan dana unlimited pada siapapun yang melakukan penelitian, dengan tujuan agar produk Amerika apakah itu ide, teknologi, ekonomi dan sebagainya menjadi nomor satu di dunia. Kita pernah ingat ada seorang ilmuwan muda Indonesia yang di wawancarai Andy Noya dalam acaranya Kid Andy Show, ilmuwan ini kembali ke Indonesia setelah bertahun-tahun bekerja di Amerika. Dia menceritakan bahwa ketika dia mau kembali ke Indonesia, perusahaannya berusaha menahannya dengan memberikan dana penelitian yang unlimited jumlahnya. Di Amerika juga banya para philanthropis – dermawan yang bersedia mengucurkan dananya yang besar bagi orang atau institusi yang bisa membuat Amerika menjadi nomor satu di tingkat global.

Kedua cerita tentang bagaimana Jepang dan Amerika ingin produk-produknya menguasai pasar global sangat menarik kita cermati. Setuju atau tidak setuju dengan kedua negara itu dibidang politiknya, tapi ada hal-hal yang perlu kita pelajari yaitu bahwa semua jajaran di negeri itu, pemerintah, parlemen dan swasta serta para dermawannya semua bergerak bahu membahu demi keberhasilan anak bangsanya.

Kita memerlukan tindakan konkret seperti yang dilakukan oleh pihak-pihak penting di Jepang dan Amerika itu untuk memajukan karya anak bangsa yang mengagumkan. Sayangnya setiap kali ada karya anak bangsa yang perlu didukung, ada tarik menarik kepentingan politik didalamnya, upaya pencitraan dsb. Sudah tidak terbilang lagi jumlah anak bangsa yang menorehkan prestasi mereka di tingkat internasional. Namun sedikit sekali penghargaan atau upaya yang lebih mendorong mereka untuk berkiprah lebih jauh.

Kasus produk anak anak SMA Solo yang menghasilkan mobil Esemka,seharusnya menerima dorongan semangat dari berbagai pihak. Menarik pendapat Menteri Pendidikan Prof. Muhammad Nuh ketika di wawancarai wartawan, dia mengatakan bahwa Esemka harus diproduksi masal tahun depan, tidak perduli apakah itu ada yang menuduh untuk kepentingan politik atau bukan, yang penting mobil karya anak –anak Solo itu harus di produksi.

Memang ironis, ketika putra-putra bangsa ini dengan susah payah mempersembahkan karya mereka, masih ada saja komentar yang men- discourage mereka apakah soal kelaikan mobil itu, soal belum test emisi dsb. Seharusnya contoh yang dari negeri seberang di awal tulisan ini harus menjadi inspirasi semua jajaran bangsa ini misalkan BUMN, Kementrian Pendidikan, Kementrian Industri, Kementrian Luar Negeri, KADIN, para pelaku industri swasta nasional bergerak bersama sama membantu anak-anak Solo itu. Ironis kita mendengar berita bahwa sebenarnya sudah ada 300 orang atau institusi yang meng-indent mobil itu, tapi sulit dipenuhi karena SMK Solo belum bisa membuatnya secara massal. Walikota Solo bahkan menghimbau bahwa kalau bisa ada investor dalam negeri yang bisa membantu merealisasi produksi masal mobil ciptaan anak-anak itu.

Yang perlu kita sadari, bahwa anak-anak SMK Solo berserta dengan para pembimbingnya, mengucurkan keringat siang malam tanpa henti dari mulai perencanaan, pertemuan-pertemuan mereka mendiskusikan proses karya mereka, sampai hasil akhirnya dan penulis yakin mereka sampai tidak tidur karena was-was apakah rencana mereka berhasil atau tidak. Tidak kalah para orang tua mereka yang ikut berpartisipasi dengan jalan berdoa siang malam kepada Gusti Allah agar putra-putra mereka berhasil. Dan semua itu memerlukan keikhlasan kita untuk meng-apresiasi usaha mereka (meskipun mereka tidak minta). Karena kerja mereka itu sebenarnya bukan untuk kepentingan politik sesaat, tapi untuk KEPENTINGAN BANGSA agar bangsa ini memiliki MARTABAT di mata dunia; dan perlu disadari bahwa di luar Solo, di berbagai pelosok negeri ini masih banyak anak-anak bangsa – yang ketika tulisan ini dibuat sedang bersusah payah, pontang panting tak kenal lelah berusaha membuat produk-produk yang membanggakan Ibu Pertiwi. Karena itu janganlah ditari-tarik keranah politik upaya suci mereka itu.

*) Drs. Ec. Ahmad Cholis Hamzah, adalah alumni FE Unair dan University of London, sekarang dosen di STIE PERBANAS dan STIESIA Surabaya.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Artikel, MSN1 Comment

10 billion reasons for a new plant

10 billion reasons for a new plant

Japan’s Suzuki Motor Corp. said Wednesday it would build a new engine factory in Indonesia in a bid to help boost output of small cars in the fast-growing Southeast Asian market.

The car and motorcycle maker has spent 10 billion yen ($130 million) on a 1.3 million square-metre (14 million square-foot) site in an industrial park outside Jakarta for its third Indonesian factory, Dow Jones Newswires said.

The Nikkei business daily separately said Suzuki’s total investment in the project would reach 30 billion yen.

The daily also said the investment is part of the company’s efforts to boost its production capacity in Indonesia to 150,000 vehicles from the current 120,000.

Auto sales in Indonesia jumped by about 60 percent from a year earlier to around 760,000 vehicles in 2010, the Nikkei said, adding that Indonesia likely became the biggest auto market in Southeast Asia last year.

Immediate confirmation of the reports was not available as the company was closed for the extended New Year holiday.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in EcoBiz0 Comments

Photobucket
Design your own t-shirt at ooShirts.com!
Photobucket
Parlemen Muda Indonesia

GNFI’s Charity Project

GNFI Channels

@GNFI on Twitter GNFI on Facebook GNFI's Channel on YouTube

Good News by Month