Propelling World’s Best Airline
Garuda Indonesia plans to buy turboprop aircraft to serve low-density routes in eastern Indonesia.
The carrier is likely to assess either the ATR 72 or Bombardier Q400 aircraft for the requirement, Garuda president and chief executive Emirsyah Satar said at a press conference in Singapore.
“We’ll be operating them [the aircraft], but the question is which entity – will there be a separate branding or will it be part of Garuda,” he says.
Destinations that the carrier is looking at include Kalimantan, Sulawesi and Papua.
“We want to look at the market first and see that there is a demand,” he adds.
Garuda does not operate any turboprop aircraft, while its low-cost subsidiary Citilink is phasing out its Boeing 737 classics and switching to an all-Airbus A320 fleet.
Its turboprop plan will put it in direct competition with low-cost carrier Lion Air, which has a fleet of ATR aircraft that are used by its subsidiary Wings Air on secondary routes.
Menengguk Ranumnya Jawa Timur
by Ahmad Cholis Hamzah, MSc
Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang mencapai 7,22% – diatas angka pertumbuhan ekonomi nasional, telah menarik minat banyak pihak dari luar negeri untuk datang ke propinsi ini, misalnya dari Cina, AS, Swiss dan banyak lagi negara-negara manca negara itu bertandang dan bertemu dengan pihak pemerintah, swasta dan bahkan Perguruan Tinggi. Yang menarik dalam bulan akhir bulan Maret dan awal April 2012 yang lalu, datang ke Surabaya “Saudara-Saudara” dari negeri ASEAN yaitu Duta Besar Kerajaan Thailan untuk Indonesia Mr. Thanatip Upatising dan Menteri Perdagangan Internasional dan Investasi Malaysia Dato’ Seri Muhammad Mustapa untuk bertemu dengan mitra business nya di Surabaya dan mencoba meng – explore kemungkinan melakukan perdagangan dan investasi di Jawa Timur. Saya sebut sebagai “saudara” karena untuk contoh kedua negara ini memiliki banyak kaitannya dengan Indonesia.
Yang Mulia Duta Besar Thailand untuk Indonesia menjelaskan pada para dosen dan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Business Universitas Airlangga Surabaya pada tanggal 30 Maret 2012- bahwa Kerajaan Thailand ini memiliki hubungan sejarah yang sudah lama dengan Indonesia. Beliau mengatakan bahwa petinggi penting Thailand yang berkunjung ke Indonesia adalah Raja Chulalongkorn Yang Agung (atau Raja Rama V). Beliau pada satu setengah abad yang lalu melihat Borobudur sebagai tempat ibadah ummat Budha terbesar di dunia. Beliau membenarkan pendapat saya bahwa para siswa di Thailand juga belajar sejarah Sriwijaya dan Majapahit sampai sekarang. Selain itu salah satu Perdana Menteri Thailang, Jenderal Chavalit Yongchaiyuth, kalau di urut-urut memiliki nenek moyang di Jawa Tengah sekitar 400 tahun silam. Bahkan cucu dari Kiai Haji Dahlan, pendiri Pergerakan Muhammadiyah sekarang tinggal di Thailand dan menjadi ilmuwan Muslim Thailand dan ahli Halal Science di negeri itu. Yang Mulia Dubes juga menjelaskan bahwa “Masjid Indonesia” di Bangkok di bangun oleh orang Thailand keturunan Indonesia. Tak heran kalau Yang Mulia Dubes mengatakan bahwa Indonesia itu bukan saja tetangga Thailand tapi bahkan “Saudara” atau “Keluarga”.
Kalau Malaysia, tentu tidak perlu kita jelaskan panjang lebar hubungan darahnya dengan Indonesia, karena sudah lama juga kedua negeri jiran ini memiliki hubungan kekeluargaan yang kuat. Sampai-sampai di Malaysia itu ada keturunan Bugis (ada pejabat tinggi Malaysia keturunan Bugis), Jawa, Padang, Melayu, Bawean dan sebagainya. Karim Raslan salah satu penulis tersohor di Malaysia dan di dunia ini sering menulis tentang Indonesia dengan berbagai dinamikanya – sampai dia sulit membedakan kalau berbicara bahasa Indonesia dan Melayu Malaysia, misalkan antara “Bisa” dan “Boleh”. Pak Karim Raslan yang sering berkelana mengelilingi Nusantara ini tentu memperoleh pengalaman yang lebih dalam tentang persamaan kedua bangsa ini.
Atas dasar kedekatan budaya dan sejarah itu, maka para saudara kita dari negeri jiran ASEAN datang ke Surabaya dan Jawa Timur untuk memulai babak baru dalam hubungan yang lebih erat tertutama di bidang perdagangan dan investasi. Hubungan dagang yang memiliki hubungan kedekatan budaya akan lebih bermakna dibanding hubungan yang tidak memiliki pengetahuan budaya masing-masing negara.
Memang, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang mengesankan selama ini sayang kalau di lewatkan oleh kedua negeri jiran itu. Dan sayang juga kalau kedua negeri itu belum memiliki perwakilan penuh seperti Konsulat Jenderal nya di ibu kota Jawa Timur.
Alumni University of London, Universitas Airlangga dan dosen di STIE PERBANAS Surabaya.
Jamu: Why Isn’t Indonesia’s Ancient System of Herbal Healing Better Known?
In 1990, Irish journalist Susan Jane-Beers noticed an herbal-medicine clinic in the corner of a hair salon in the Indonesian capital of Jakarta, her adopted home. A victim of age-related chronic knee pain that conventional pharmaceuticals couldn’t numb, let alone heal, Jane-Beers decided to try jamu — traditional Indonesian medicine.
The results astounded her. After three days of taking only one-third of the prescribed dose of herbal pills, the pain had vanished, making her wonder if she’d found “the magic bullet of all time.”
Jane-Beers spent the next decade researching the origins, myths, tightly guarded recipes and commercial applications of herbal medicine in Java, where plants have been used for medicinal purposes since prehistory. Her 2001 opus Jamu: The Ancient Art of Herbal Healing remains the only definitive English guide on the subject. It’s also the most widely read outside Indonesia since Herbarium Amboinense, a catalog of plants completed by German botanist Georg Rumphius in 1690 — more than three centuries earlier.
A holistic therapy based on the notion that if disease comes from nature, then so must the cure, jamu uses a dazzling array of teas, tonics, pills, creams and powders to cure — or prevent — every ailment imaginable. The ingredients are by definition cheap, widely available and simple: nutmeg to treat insomnia, guava for diarrhea, lime to promote weight loss and basil to counter body odor.
Jamu has also been used to treat cancer. In her book, Jane-Beers writes of a traditional healer in the city of Jogjakarta who apparently cured what had been diagnosed as a terminal case of cervical cancer with a tea made of betel nut, Madagascar Periwinkle and mysterious benala leaves. By combining the tea with a strict soybean diet, the patient was said to have made a full recovery in 18 months.
Sound far-fetched? A 2011 study by Virginia Tech’s Department of Food Science and Technology on the soursop tree — whose leaves are used to relieve gout and arthritis in Indonesia — found evidence showing that extracts from soursop fruit inhibit the growth of human breast cancer. Vincristine, one of 70 useful alkaloids identified in Madagascar Periwinkle, radically ups the survival rate of children with leukemia, while turmeric is being looked at as a treatment for Alzheimer’s.
“Western medicine tries to destroy cancer, but at the same time it destroys elements of the body. Jamu helps the body produce its own antibodies to fight the cancer by itself,” says Bryan Hoare, manager at MesaStila, a wellness retreat in central Java that serves jamu shots with breakfast and employs a tabib, or indigenous healer, for private consultations. “Coming from the earth, jamu also makes you feel good. When you take it you experience a positive feeling.”
But if jamu is the magic bullet, why isn’t it better known in the West, where natural Asian medicines like India’s ayurvedic system and Chinese herbal healing have been growing in popularity for years?
The answer can be found on the streets of Indonesia, where jamu is consumed regularly by 49% of the population, according to the country’s Ministry of Health. Valued at $2.7 billion annually, the industry covers an incredibly wide gamut of products and regimens, including homemade tonics sold by street hawkers, slimming powders, cosmetics and jamu for babies and postnatal care. Yet the best sellers in terms of value are invariably the dodgiest: those claiming to boost sexual performance or suppress appetite.
“Indonesians may well have been amused when Viagra was released in 1998,” Jane-Beers says, noting the popularity of brands like Kuat Lekali (Strong Man), Kuku Bima (Nail of God) and Super Biul Erection Oil. “They have had their own remedies for years.”
Then there’s the association between jamu and white magic. Many indigenous healers insist on dispensing jamu on auspicious dates or in conjunction with animist spells that predate the arrival of Islam in the archipelago.
Mbah Ngatrulin, a Buddhist tabib I met in Ngadas, the highest village in Java, told me that spells are the key and that jamu may as well be “mineral water.” It’s the kind of comment that prevents many physicians across Southeast Asia from endorsing jamu lest patients take them for quacks.
According to Charles Saerang, head of the Indonesian Jamu Entrepreneurs Association, the primary impediment to a worldwide jamu craze is that locally produced jamu products don’t meet international manufacturing standards. That hasn’t stopped entrepreneurs from buying raw herbal materials in Indonesia, processing them in India and Malaysia and selling them in the U.K. — a market Indonesian-made jamu products can’t access. That’s a double whammy for Indonesia, which loses out on value added by third parties and the chance to promote the jamu brand name abroad.
It’s impossible to say when, or even if, jamu painkillers will be stocked at supermarkets and convenience stores in countries like the U.K. Yet inroads are already being made by small businesses like the Origin Spa in Melbourne. There, highly skilled practitioners apply massage techniques developed by 16th century Indonesian royalty — the founders of modern jamu— using creams and oils containing turmeric, betel leaves and crushed eggshells. There’s a minimum two-month waiting list for Origin’s five-day post-pregnancy treatment that is said to help women regain their figures quickly, improve lactation and dispel wind, dizziness and aches and pains.
“It’s surprisingly popular with the Asian mums throughout Australia,” says partner Jessica Koh. “But it’s still unfamiliar to most of the locals.”
— With reporting by Theo Manday / Ngadas
Read more: http://www.time.com/time/world/article/0,8599,2107489,00.html#ixzz1rWR9XrLy
The Sky is not the Limit
Schedule and charter airline ASI Pudjiastuti Aviation, known as Susi Air, plans to expand its fleet by adding up to 15 new planes every year with an annual investment of Rp 220 billion to Rp 330 billion ($24.2 million to $36.3 million), starting next year.
The plan outlined its goal to fly to all Indonesian islands, a huge ambition from an airline which just started with two Cessna Caravans for carrying lobsters eight years ago.
“Starting next year, we plan to add 10 to 15 planes each year, depending on demand in the market” said Susi Pudjiastuti, the president director of Susi Air. “Indonesia air travel never dies.”

The airline, which specialized in flying small planes — less than 20 seats — servicing small towns and remote areas, now operates a fleet of 47 aircraft, including two helicopters.
Susi said that the new fleet would consist of pioneering airplanes such as the Cessna Caravan and Pilatus Porter, as well as helicopters and Piaggio Avanti for chartered flights.
The airline will need to invest between Rp 220 billion to Rp 330 billion each year for the planes, she said. Currently it is financing its expansion with loans from state-owned lenders Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia and Bank Rakyat Indonesia.
“We dream to fly to all destinations in Indonesia,” Susi said.
She said Susi Air would open three new routes in Central Java, from Cilacap to Solo, Semarang and Yogyakarta, in July.
Susi Air has bases that offer scheduled flights in Sumatra, Jakarta, Kalimantan, East Nusa Tenggara and Papua. The airline has yet to serve scheduled flights in Sulawesi.
Susi said that 80 percent of the airline’s flights catered to customers in small towns, acting as a point-to-point commuter or as feeder for bigger airlines.
Susi Air also caters to cargo flights and mining workers who need lifts to remote mining sites.
Serving 35,000 to 40,000 passengers a month, Susi estimates that the airline handles about 15 percent of such routes.
Its competitors include debt-burdened state-owned Merpati Airlines, Aviastar Mandiri Airlines and Trigana Air Service. In terms of volume, Susi Air’s 200 flights a day lose out only to Indonesian heavyweights Lion Air and state-owned flag carrier Garuda Indonesia.
Its fiercest competition has come from land-based companies. Susi Air had to close a Jakarta-Bandung route last year as travel vans provided cheaper fares to the West Java capital.
Investor Daily
The Best Airline. Twice in Row ! ~
Garuda Indonesia, Indonesia’s national carrier, has been recognised as ‘Best International Airline for February 2012’ in Roy Morgan’s Customer Satisfaction Awards, an accolade the airline was recently honoured with for the month January 2012.
Bagus Y. Siregar, Senior General Manager Australia/SWP Garuda Indonesia commented: “We are honoured to receive this award for the second time this year and it encourages us to maintain the high standards we have implemented as we progress towards becoming one of Asia’s leading airlines.”

The Customer Satisfaction survey conducted by research company Roy Morgan, ranked Garuda Indonesia ahead of other leading airlines such as Singapore Airlines, Emirates and Air New Zealand with a monthly satisfaction score of 91 per cent. The recent awards recognise the success of Garuda Indonesia’s Qantum Leap program which includes the revitalisation of the airline’s existing fleet and the introduction of The Garuda Indonesia Experience, the carrier’s service concept that offers a uniquely Indonesian level of service on the ground and inflight. Garuda Indonesia will continue to invest in enhancing its service offerings in order to become a five star carrier by 2015.
For further information, please refer to the Roy Morgan release (also available online:www.newsmaker.com.au/news/15878).
Kedaulatan Negara Jangan Tergadai
Oleh: Ahmad Cholis Hamzah, MSc*)
Kita semua ingat pada penghujung Januari 2012 bahwa negara Jerman mengeluarkan proposal atas nama Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) kepada negara Yunani yang mengalami kesulitan ekonomi dalam negerinya sehingga “sovereign debt” atau surat hutang negara mereka berstatus default. Proposal yang bocor ke hampir seluruh media di Eropa waktu itu menggegerkan politik masing-masing anggota MEE. Karena proposal itu berisi kesediaan MEE (dalam hal ini Jerman dan Perancis) bersedia memberi dana talangan atau “bail out” kepada Yunani asal segala pengeluaran dan penerimaan atau budget negara Yunani sepenuhnya akan di control oleh MEE (atau kedua negara tadi).
Yunani waktu itu secara resmi mengeluarkan sikap bahwa Yunani menolak proposal tersebut karena ini menyangkut Kedaulatan Negara yang tidak bisa ditawar, tambahan pula proposal itu juga memancing rasa nasionalisme yang tinggi di negeri ini. Tapi Pemerintah Yunani berada di persimpangan jalan antara menjaga kedaulatan negerinya dan menerima bail out. Kalau tidak diterima dana talangan itu maka perekonomian Yunani akan bertambak kolap, dan demonstrasi mahasiswa, buruh, guru, dokter, para pensiunan dan sebagainya akan bertambah marak dan mengganggu kestabilan negeri itu. Kalau diterima, maka kedaulatan negaranya untuk mengatur pendapatan dan pengeluaran negaranya sepenuhnya di “atur” oleh negara lain.
Krisis Yunani dimulai pada tahun 2009, sebagai akibat dari krisis keuangan global tahun 2008 yang dimulai dengan kolapnya perekonomian AS karena “Subprime Mortgage”. Sejak lama pemerintah Yunani di jaman pemerintahan George Papandreou yang dipilih tahu 2009 di ketahui bahwa pemerintah sebelumnya meninggalkan deficit anggaran sebesar 6% dari GDP nya. Namun pada kenyataanya deficit itu adalah lebih tinggi yaitu 12.7% dari GDP.
Pengumuman resmi tentang sebenarnya angka deficit itu mengejutkan para investor yang memiliki saham-saham hutang pemerintah Yunani. Misalkan Perancis, Inggris dan Jerman memiliki lebih dari USD$ 56 milyar saham berupa surat hutang Yunani. Akhirnya pasar modal di Eropa dan di dunia mulai menurun confidence atau kepercayaan pada surat berharga atau saham pemerintah Yunani dan di anggap default atau tidak mampu membayar hutang pada para investor. Efek domino terjadi sampai sekarang, negara-negara anggota MEE satu demi satu berguguran perekonomiannya misalnya Irlandia, Spanyol, Itali dan di khawatirkan merembet ke negara anggota yang ekonomi besar seperti Jerman dan Perancis.
Pelajaran dari Yunani ini, menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang pernah berhutang pada banyak negara, dan lembaga keuangan dunia seperti IMF dan Bank Dunia. Semua kebijakan ekonomi Indonesia harus “tunduk patuh” pada negara yang memberi hutang. “No Free Lunch” begitu kalimat yang umum kita dengar yang bermakna tidak ada sesuatu yang gratis atau Cuma-Cuma itu.
Hutang luar negeri Indonesia dulu pernah mencapai sekitar USD 145 milyar dan Indonesia masih untung tidak seperti Yunani, karena bisa membayar hutang itu dengan baik. Sekarang hutang luar negeri Indonesia naik menjadi sekitar USD 180 milyar. Saya sering menulis angka hutang ini dihadapan para mahasiswa saya, misalkan 180 milyar itu angka ’0′-nya sembilan yaitu: 180.000.000.000, dan ini belum US dolar, saya katakan pada mahasiswa kalau kita patok 1 US dolar sama dengan Rp 10.000 (supaya gampang perkaliannya), maka angka hutang itu terlihat: Rp. 1.800.000.000.000.000!. Lalu saya suruh mahasiswa membacanya. Sebagian besar komat-kamit tidak bisa menyebutkannya.
Memang Presiden SBY pernah menjelaskan didepan para wartawan bahwa meskipun hutang luar negeri kita itu naik, akan tetapi rasionya terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) menurun. Beliau menjelaskan benar bahwa hutang luar negeri kita menjadi Rp 1.816 trilliun tahun 2011, tapi PDB kita Rp 7.222 trilliun. Jadi rasio hutang terhadap PDB kecil. Dibanding sebelumnya rasio hutang kita hampir mencapai 50% dari PDB.
Akan tetapi, meskipun angka hutang luar negeri yang meningkat itu masih dianggap “Aman”., ada baiknya bangsa ini tidak terperangkap dengan mindset seperti itu, karena apapun namanya hutang itu maka persoalan Kedaulatan Negera harus juga diperhitungkan. Dan lagi pula tidak ada negara manapun di dunia ini yang kaya karena hutang.
*) Alumni University of London, dan Universitas Airlangga dan sekarang dosen di STIE PERBANAS Surabaya.
Film kita…wajah kita
Pemerintah dalam hal ini melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan bersinergi untuk terus merealisasikan potensi perfilman di Indonesia. Dua kementerian tersebut akan bekerja sama dengan insan perfilman nasional untuk membawa perfilman Indonesia menjadi industri mandiri, mampu menciptakan nilai tambah secara ekonomi tetapi tetap dapat menjaga nilai-nilai sosial dan budaya Indonesia, serta menjaga kelestarian lingkungan Indonesia.
Industri film di Indonesia menghadapi sejumlah permasalahan yang cukup kompleks. Beberapa hal tersebut adalah kurangnya jumlah bioskop, belum adanya tata edar, belum adanya aturan pertunjukan film, serta belum adanya sistem informasi jumlah penonton film. Industri perfilman nasional juga masih membutuhkan banyak sumber daya perfilman yang berkualitas, diantaranya seperti penulis skenario, sutradara, pemain film, dan pelaku film lainnya.
Beberapa program untuk memajukan perfilman di Indonesia akan terus dilakukan. Di antaranya adalah upaya perbaikan fasilitas serta pemberdayaan dan peningkatan kualitas film Indonesia. Akan diadakan juga bioskop keliling di daerah yang memiliki jumlah bioskop terbatas. Selama ini kurangnya jumlah bioskop berkorelasi langsung dengan jumlah penonton film. Pemerintah juga berencana memberikan subsidi untuk membantu produksi film pilihan nasional, terutama film yang diproduksi sineas pemula yang masih belum memiliki investor tetapi memiliki kualitas yang baik.
Pemerintah ke depan juga akan membentuk Badan Perfilman Indonesia (BPI) untuk mengatur dunia perfilman di Indonesia dengan melibatkan pemangku kepentingan bidang perfilman. Saat ini tengah diadakan kajian, diskusi dan Focus Group Discussion untuk persiapan pembentukannya dengan melibatkan seluruh stakeholders perfilman.
Proses persiapan pembentukan BPI diharapkan rampung pada Agustus mendatang yang ditandai dengan penyelenggaraan Munas Perfilman. Badan Perfilman Indonesia diharapkan mendukung film sebagai salah satu industri strategis dengan melakukan promosi dan apresiasi film, penelitian dan pengembangan berbagai aspek film, serta pengembangan kapasitas manajemen produksi film.
Produksi film Indonesia terus meningkat dan menunjukan reaksi pasar yang positif. Sekira sepertiga film yang ditayangkan saat ini adalah film lokal. Dari jumlah film Indonesia yang diproduksi ada 88 film tahun 2011 dan 77 film pada di 2010. Akan tetapi, berdasarkan data Kemenparekraf jumlah film Indonesia yang dihasilkan setiap tahunnya sejak tahun 2008-2011 cenderung menurun dimana tercatat pada 2011 adalah 82 judul, sedangkan tahun 2008 sempat mencapai 87 judul.
Sementara itu, terjadi peningkatan jumlah penonton dimana tahun 2010 jumlah keseluruhan penonton film nasional mencapai 46 juta, meningkat menjadi 62 juta penonton di tahun 2011. Akan tetapi, jumlah tersebut masih jauh dari maksimal mengingat jangkauan penonton film Indonesia relatif rendah dengan frekuensi menonton perkapita hanyalah 0,24. Lebih rendah jika dibandingkan dengan Jepang yang mencapai 1,49 atau India yang sebanyak 2,72.
Saat ini jumlah penonton film Indonesia rekor tertinggi masih diraih film “Laskar Pelangi” dengan jumlah penonton 4,1 juta dan film “Ayat-Ayat Cinta” sebanyak 3,6 juta penonton. Yang membanggakan, baru-baru ini sebuah film Indonesia berjudul“The Raid” diputar serentak di beberapa negara, yaitu: Kanada, Inggris, Australia, Perancis, Jerman, Jepang dan Turki. “The Raid” secara tidak langsung memperkenalkan bela diri asli Indonesia yaitu pencak silat kepada masyarakat internasional. Film tersebut dibeli dan ditayangkan oleh Sony Pictures Worldwide Acquisition.
Temukan sumber informasi sejenis di laman.
Apa Kabarmu, RIM?
Terus terang saja, untuk urusan kamera, saya sudah lama terlalu suka dan fanatik pada satu merk, yakni KODAK. Kamera ini istimewa, bukan karena teknologinya yang aneh-aneh, tapi..karena justru karena dia adalah kamera biasa, dan tidak memusingkan pemakainya. Tentu kualitasnya juga sangat teruji, apalagi Kodak adalah salah satu ikon Amerika yang disegani dan mempunyai akar sejarah yang membanggakan, selain Harley Davidson, Levi’s, Ford, McDonald, dan lain-lain.
Tentu cukup membuat kaget ketika akhirnya Eastman Kodak (produsen Kodak) harus menyerah pada zaman dan dinyatakan bangkrut, setelah beberapa lama ‘terkubur’ oleh popularitas Canon atau Nikon, atau pemain-pemain elektronik besar seperti Sony, Samsung, atau bahkan LG. Belum lagi serbuan telepon seluler yang dilengkapi kamera. Tentu menggerus pasar Kodak yang sebenarnya telah lama makin mengecil. Ada yang mengatakan, Kodak terlalu lama percaya diri pada nama besarnya, sehingga dia menginvestasikan sedikit untuk pengembangan teknologi pada produknya, namun apa mau dikata, Kodak sudah selesai.
![]()
Saya kemudian mulai berpikir, zaman akan selalu memakan korban. Di list berikut ini, kita akan melihat banyak perusahaan-perusahaan dunia yang tutup satu persatu. Siapa yang menyusul?
Kita memang bisa melihat di media, betapa banyak perusahaan-perusahaan dunia yang mulai goyah dan dengkulnya mulai gemetaran. Yahoo! adalah salah satunya, dan murni karena kalah bersaing dengan Google atau bahkan Microsoft. Lalu raksasa kamera dari Jepang, Olympus juga sedang tidak beruntung dengan berbagai skandal fraud multibillion dollar yang membuat resah. Dan di sini, perlu saya sebutkan satu lagi, yakni RIM, sang pembuat Blackberry. Ini membuat banyak orang resah, apalagi die-hard fans-nya Blackberry, salah satunya saya (paling tidak saya pernah menjadi BB fans).
Ketika banyak orang masih bergembira ria dengan Nokia dan Sony Ericsson, saya sudah ber-blackberry sejak 2007. Saya pernah memiliki HP berbagai merek, mulai dari LG, Samsung, Phillips, Nokia, Sony Ericsson, namun tak pernah sekalipun saya merasa “berhutang budi” sebesar kepada Blackberry. Saya masih ingat ketika bos besar menyuruh saya membuat dan mengirim report secepatnya, padahal waktu itu saya masih naik perahu di atas sungai Bengawan Solo, karena seluruh jalan tergenang banjir. Saya tak pernah terlupa, report dan foto2 terkirim dalam 1 jam, dan dalam 24 jam, bantuan mengalir dari Inggris ke Lamongan dan sekitarnya, tempat terparah terkena banjir. In one word, Blackberry is GREAT!
Namun apa mau dikata, ada beberapa hal yang membuat orang mulai meninggalkan Blackberry. Tentu beberapa kali gangguan di AS dan tempat lain, sangat berpengaruh pada customer behaviour. Selain itu, kita mengenal Blackberry bagus untuk email dan SMS, bagaimana dengan feature yang lain? Hmm…mungkin kalah sama iPhone atau gadget2 Android.
Di Indonesia, Blackberry tetap besar, dan berkembang, thanks to Blackberry Messenger yang keren. Namun, customer di Indonesia tentu takkan lupa “perlakuan semena-mena” Blackberry pada pengguna BB di Indonesia. Yakni ketika RIM justru memilih Malaysia dan Singapura sebagai tempatnya berinvestasi, dan bukan di Indonesia, tempatnya ‘bergantung’. Mungkin RIM tidak menyadari, bahwa customer di Indonesia pun tahu bahwa pengguna BB di Malaysia dan Singapura tidak sampai 1/10 pengguna BB di Indonesia, apalagi tingkat pertumbuhan pengguna BB di Indonesia termasuk yang paling tinggi di dunia. RIM telah (dengan sengaja) ‘menyakiti’ perasaan sebagian rakyat Indonesia, dengan berbuat seperti itu.
Mungkin banyak juga yang tidak peduli, namun percayalah…banyak kok yang peduli. Dan yang perlu dicatat, Blackberry boleh tetap tumbuh dan besar di Indonesia, namun RIM harus juga melihat dan mempertimbangkan setiap aspek dalam menjaga produknya tetap “aman” di pasaran, termasuk di dalamnya adalah elemen paling penting , yakni ..jangan pernah bermain-main dengan nasionalisme.
Blackberry sudah mulai kehilangan cengkeramannya di AS dan Canada, mungkin juga di tempat lain. Namun Blackberry masih tumbuh dan menguat di Indonesia. This is RIM’s last resort. Dan ada baiknya, RIM “menjaga” Indonesia sekuat tenaganya. Masih terbuka lebar pintu investasi riil buat RIM.
Welcome..
Lahir dari Perut Bangsa
Oleh: Ahmad Cholis Hamzah, MSc
Baru-baru ini Presiden SBY mengundang beberapa rektor Perguruan Tinggi dan Dahlah Iskan Menteri BUMN. Presiden SBY mengatakan bahwa dia setuju dengan gagasan Dahlan Iskan agar Indonesia membuat mobil listrik di kemudian hari, karena mobil macam ini menghemat energy dan tidak merusak lingkungan. Para rektor yang diundang seperti ITB, ITS dan UGM juga merespon gagasan itu, karena kalau benar gagasan itu menjadi kenyataan, maka itu merupakan salah satu solusi untuk menghindari dari ketergantungan akan BBM yang semakin tahun semakin tidak menentu harganya, dan juga menjadi bahan komoditas politik menjelang Pemilihan Umum. Beberapa Menteri dan para rektor itu sepakat untuk merealisasi gagasan ini pada tahun 2014.
Gagasan seperti itu sebenarnya merupakan tantangan bagi putra – putri bangsa Indonesia yang kreatif dan yang telah membuktikan diri mereka bahwa mereka bisa melakukannya. Terbukti dalam kunjungannya ke kampus ITS baru-baru ini Menteri Dahlan Iskan menyaksikan sendiri para mahasiswa Teknik Mesin ITS mampu membuat mobil listrik, hemat BBM “Sapu Angin”. Dan ada beberapa lagi karya para mahasiswa ITS ini yang di tunjukkan kehadapan Menteri Dahlan Iskan.
Kalau kita memiliki ideologi kebangsaan yang kuat, maka seharusnya berita seperti ini harus mendapatkan porsi yang besar di halaman depan setiap Koran di Indonesia dan menjadi perbincangan interaktif yang serius di TV-TV nasional kita yang melebihi berita-berita “politik dagang sapi” di parlemen nasional, atau berita-berita laporan aktris Meriem Belina yang melaporkan tindakan kekerasan pengacara kondang, atau berita –berita apakah PKS itu akan dikeluarkan dari Koalisi Gabungan atau tidak. Berita-berita tentang hasil karya anak bangsa memang seharusnya menjadi salah satu prioritas untuk memotivasi para tunas bangsa ini untuk berkarya lebih baik dan mampu berbicara dalam kompetisi global yang keras seperti saat ini.
Negara-negara berkembang yang dulu tidak diperhitungkan dunia seperti China, India dan Brazil, sekarang mulai “menggegerkan” dunia karena kemajuan ekonominya dan karena kepiwaian putra-putra bangsanya yang menghasilkan produk buatan sendiri. India terkenal dengan hasil karya sepeda motor, mobil, bus, alat-alat mesin lainnya, dana anak-anak muda juga dikenal sebagai orang kaya baru akibat kepintaran mereka di bidang Information Technology, dan mereka ini banyak berada di Sylicon Valley di AS. Brazil juga demikian, negeri ini berhasil membuat pesawat terbang yang mutunya tidak kalah dengan negara-negara maju. China sekarang juga dengan jerih payah para ahlinya berhasil membuat negeri ini ranking nomor dua negara yang memiliki devisa negara lebih dari USD 2 trilliun. Ketiga negeri ini sekarang masuk di kelompok penyeimbang global yang bernama BRICS yang terdiri dari Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan. Keberhasilan mereka membuat negara-negara mereka sekarang diperhitung dunia tidak lain salah satunya adalah karena negara-negara ini memberi apresisasi yang tinggi terhadap karya putra-putrinya.
Indonesia, tentu seharusnya tidak kalah dengan negara-negara yang kita sebut diatas, karena Indonesia memiliki kekayaaan yang berlimpah- sampai-sampai orang Timur Tengah berpendapat bahwa kalau Surga itu pecah ke dunia, maka pecahan Surga itu ya Indonesia ini. Selain itu negeri ini memiliki posisi yang strategis, kualitas sumber daya manusia yang bagus dan memiliki para mahasiswa yang brilian otaknya. Sayangnya kehebatan mereka tidak di ketahui publik karena bukan merupakan berita yang meng- “entertain” seperti berita gossip kehidupan para actor dan aktris serta politisi. Sayangnya karena kita tidak memiliki ideology yang kuat berbangsa dan bernegara ini, maka anak-anak pintar kita tidak mendapatkan apresiasi yang besar. Jangan disalahkan kalau nanti ada banyak anak-anak pintar kita yang di “bajak” luar negeri karena di iming-imingi dengan bayaran tinggi dan dana penelitian yang “unlimited” !
Negeri yang kaya akan karya anak bangsa ini harus memiliki Industri baja yang tangguh seperti negara India, Brazil dan China diatas. Industri baja yang penting untuk mendukung karya anak bangsa ini harus dipertahankan dan tidak harus dijual-apapun alasannya.
Alumni University of London, Universitas Airlangga Surabaya dan dosen STIE PERBANAS Surabaya.
Kemana kalimat itu?
Saya selalu gagal memahami ketika melihat demonstrasi yg akhir-akhir ini terjadi terkait BBM selalu berakhir dengan anarki. Ada mobil, gedung, yang dibakar, atau polisi dan mahasiswa yang terluka, ada peserta demo yang membawa bom molotov, pintu tol dirobohkan, pintu DPR dirobohkan, dan lain lain. Bukan apa-apa, tindakan pemaksaan kehendak bisa dilakukan oleh siapa saja, dan dalam hal ini, para demonstran pun telah (walaupun tak mereka sadari) melakukan hal serupa. Suatu hal yang jelas-jelas keluar dari koridor “membela rakyat”.
Saya tidak akan membahas apakah benar mereka murni membela rakyat atau tidak, pun tidak juga membahas apakah sebelum demo mereka membekali diri dengan pengetahuan akurat dan memadai tentang apa yang mereka demo-kan atau tidak. Saya diluar itu. Pun di luar apakah saya setuju BBM naik atau tidak. Kata orang jawa, “wis ono sing ngurus”.
Saya kedatangan kakak saya dari Jogja sabtu lalu, meski cuma mampir sekejap, kedatangannya membawa pikiran saya jauuuuh kembali ke masa kecil kami, dimana kami selalu belajar bersama, hampir tiap malam. Kalau saya suka pelajaran sejarah dan geografi, kakak saya ini dulunya hobi banget membaca buku PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Tidak tahu kenapa, ada satu hal yang selalu dia ingin hafalkan, yakni “mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan”. Kalau ingat itu, kami berdua selalu tertawa, kenapa dulunya dia suka kalimat itu.
Kedatangannya yang singkat kemaren menjadi cukup istimewa, mengingat kota tempat saya tinggal sekarang, Surabaya, saat itu sedang dikepung demo anti kenaikan BBM. Dan kalimat kesukaan dia tersebut, menjadi hal yang luar biasa sulit dicari sekarang ini, ketika pemaksaan kehendak menjadi jalan pintas.
Kemana perginya “kalimat” itu?











