Author Archives | Akhyari

Growing ‘Creatively’

Growing ‘Creatively’

Indonesia is digging into thousands of years of rich, creative culture and history to push itself forward faster into the 21st century. And it’s not looking at basket weaving, batik or busloads of mass-market tourists. “It’s about ideas and new ones,” says Mari Pangestu, in charge of Indonesia’s new Ministry for Tourism and Creative Economy, set up just three months ago.

Pangestu told CNBC that creative economy includes everything from restaurants, fashion, music, theatre, industrial design, publishing, spa, and arts and crafts. According to her this kind of activity already accounts for about 7 percent of Indonesia’s economy.

She wants to boost that share by more than half, to over 11 percent of GDP, over the next decade or so. That would be worth what agriculture is now to Indonesia’s still largely oil and commodity based economy.

Pangestu plans to do it by creating an ecosystem that supports start-ups. “We want to tap what is inherently a creative culture for ideas, commercialize them, and scale them up,” says Pangestu, who was Trade Minister before this new portfolio, which she juggles together with tourism.

She points to the success South Korea has had in digital entertainment and pop culture, both of which have become huge exports.

In Indonesia, she sees clusters of creative economic activity already brewing in places like Bandung, and Bali, and wants to create the same kind of buzz in other Indonesian cities. Indonesia watchers say it helps that Pangestu is also looking after small and medium sized companies, until President Susilo Bambang Yudhoyono appoints a new minister for that portfolio.

“We’re not reinventing the wheel,” says one of Indonesia’s most well known economists. “But what we will have to do is balance the role of government as a catalyst for creative enterprises, and entrepreneurial risk-taking and drive.”

Pangestu is lobbying with her country’s central bank, Bank Indonesia, as well as with leading commercial banks in the archipelago to get them to support her ideas. She admits it won’t be easy, but says she’s trying to convince them through potential banking riches at the “bottom of the pyramid” – the poorest socio-economic group. At the same time, Pangestu is also sounding out potential venture capitalists, in Indonesia, as well as abroad

“(For) Agriculture, you need land. Industry, you need to build factories. With the creative economy, it’s about the people, and maintaining what you already have there, your very rich culture, heritage and tradition, how do you preserve it, and at the same time grow it?” says Pangestu.

If creative start-ups boom, they could also give the country’s image a big boost internationally. And, while the tourism part of her portfolio involves policy-making to pull more travelers into Indonesia (predominantly mass-market tour groups or volume business), she wants creative economic activity to bring higher margins. “We need to layer on a premium for specifically Indonesian ideas and value-additions,” she says.

She had a series of meetings recently with senior Chinese officials, who told her that China was also planning to throw its weight behind creative economic activity. But she is not worried because China has been able to dominate industrial activity globally by producing goods cheaper than anybody else. Indonesia, she says, is aiming for the higher end of the market.

Pangestu is confident that Indonesia will be able to grow in this area because “Indonesia has a long and deep history of creative activity. Creativity is in our DNA.”

© 2012 CNBC.com

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in EcoBiz0 Comments

“Lalu, alasan kita apa ya?”

“Lalu, alasan kita apa ya?”

“So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And you finally see the truth
That a hero lies in you”

Saya mendapatkan SMS dari seorang teman yang membuat saya mengelus dada “Makin hari, Indonesia makin tidak punya masa depan cerah”. Sore harinya saya mendengarkan ceramah ustadz muda di masjid belakang rumah saya, karena pake speaker, saya dengarkan dari rumah. Beliau berceramah pendek saja, dan ada kalimat yang membekas baik di sanubari saya. Dia bilang begini:”Ketika kita menghadapi kesulitan yang berat, mau kita sabar atau berkeluh kesah, kesulitan tetap menimpa kita. Yang membedakan adalah reward yang kita dapatkan. Bersabarlah, dan kita mendapatkan hikmah. Berkeluh kesahlah..dan kita tidak mendapatkan apa-apa”.

Bagi kaum muslim, kata sabar adalah kata yang ‘sakral’, yang bermakna luas. Namun lebih dari itu, bersabar mendatangkan pahala dan pertolongan dari Tuhan. Teman saya yang mengirim SMS tentu punya alasan kenapa dia menjadi pesimis tentang masa depan Indonesia, mungkin juga dia tidak well-informed tentang pertumbuhan-pertumbuhan di berbagai bidang dan pencapaian-pencapaian anak bangsa yang luar biasa. Tapi itu hal teknis, dan wajar saja dia tidak well-informed, karena tak banyak (kalau bukan ‘tak ada’) media massa yang memberitakan berita yang membangun optimisme anak bangsa. Namun satu hal, dia kurang sabar dan kuat. 

Phuoc, teman saya seorang Vietnam sering menceritakan bagaimana orang-orang tua di Vietnam mendidik anak-anaknya menjadi sabar dan kuat. Mereka selalu menceritakan betapa pendahulu-pendahulu mereka hidup jauh lebih susah, namun mereka sanggup menghadapi dan keluar sebagai “pemenang”. “We kicked out France, we kicked out US, we defeated China, we remove Khmer Rouge. No problem is bigger than those”. Begitu mereka selalu bilang.

Indonesia tentu saja punya warna-warna sejarah yang sehebat Vietnam, dan pendahulu-pendahulu kita dulu di jaman penjajahan tentu punya lebih banyak alasan untuk menjadi pesimis. Tapi mereka memilih sabar, dan optimis. Dan kita…akhirnya merdeka juga. Lalu sekarang, dengan segala kemudahan teknologi, informasi, dan semuanya, apa alasan kita untuk pesimis? 

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +4 (from 4 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Artikel, MSN0 Comments

Malaysia yang Tidak Arogan

Malaysia yang Tidak Arogan

Oleh Ahmad Cholis Hamzah, MSc

Membaca buku kumpulan tulisan Liew Chin Tong anggota parlemen muda Penang Malaysia yang berjudul: “Speaking for the REFORMASI GENERATION” saya ingat kondisi Indonesia semasa Orde Baru dulu. Pak Chin Tong – begitu saya menyebutnya menulis tentang hiruk pikuk politik di negeri Jiran dengan segala dinamikanya persis yang pernah kita alami di Indonesia pada masa lalu. Misalnya dia menulisL “we were a generation growing up without knowing any other Prime Minister except Dr Mahathir “. Di negeri kita dulu anak-anak muda generasi tahun 66 sampai 90 an – selama 36 tahun mengalami seperti yang dialami politisi muda Malaysia ini yakni tumbuh sebagai generasi yang hanya tahu presidennya cuma satu yaitu Suharto-selain itu tidak ada.

Liew Chin Tong

Pak Chin Tong juga menulis “In the kampung, the headman is also UMNO branch chairman. His wife is typically the branch wanita chief and occasionally, his son the youth chief…In typical Kampung, the village head cum UMNO branch chairman would know everyone by name; his wife may even know the names of the villagers’ cats”. Saya membacanya kalimat –kalimat itu sambil tertawa karena ingat persis jaman Orde Baru dulu dimana semua kepala desa, bupati walikota dan gubernur berasal dari satu partai yang berkuasa, seperti juga yang ditulis Pak Tong, disini juga kepala desa adalah ketua partai berkuasa, istrinya ketua perkumpulan wanita partai itu dan anaknya ketua organisasi pemuda partai itu. Kalau Pak Tong menulis – bahwa kepala kampung itu mengetahui nama-nama orang dibawah kekuasaannya bahkan istrinya bisa tahu nama-nama kucing penduduk, maka di Indonesia dulu kita ingat bahwa pohon-pohon di alun-alun dan diseluruh kota pun di cat dengan warna bendera partai politik yang berkuasa.

Syukur Alhamduilllah, kita di Indonesia sudah meninggalkan kondisi seperti itu sementara teman-teman kita di negeri jiran masih mengalaminya. Dinamika politik di negeri itu sangat mirip dengan yang terjadi di Indonesia dimana lawan-lawan politiknya di singkirkan dan dipenjara seperti yang dialami Datuk Anwar Ibrahim. Kita bersyukur bahwa se-jahat2nya polisi kita dalam era keterbukaan ini tidak pernah memukul babak belur seorang pimpinan nomor dua di negeri yang dipenjara. Sementara Datuk Anwar Ibrahim beberapa tahun yang lalu pernah di pukuli bertubi-tubi oleh kepala polisi sampai kedua matanya merah biru. Kita bersyukur bahwa era diktatorisme di negeri ini sudah berlalu dan kita bisa bernafas lega untuk menatap Indonesia yang lebih maju kedepannya.

Saya sendiri bertemu dengan Pak Chin Tong bersama penulis Malyasia terkenal Karim Raslan (seorang pecinta Indonesia) bulan 20 Desember 2011 yang lalu. Saya dan Akhyar Hananto (penggagas goodnewsfromindonesia ini) berdiskusi dengan dia tentang Pesantren, tentang NU dan Muhammadiyah, tentang politik Indonesia, tentang media dan ekonomi Indonesia dan Jawa Timur. Saya kenalkan dia dengan kolega saya Pak Aribowo Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga yang juga pengamat politik. Saya perhatikan Pak Chin Tong ini adalah anggota DPRD Penang yang sangat aktif dan mau belajar banyak dari pengalaman Indonesia. Dia sangat menyimak betul penjelasan Pak Aribowo tentang voting behavior di Indonesia, tentang swing voters, tentang pilkada, tentang partai politik dsb.

Pak Chin Tong ini adalah anggota parlemen dari DAP – Democratic Action Party. Partainya itu berkoalisi dengan PAS – partai Islam di Malaysia dan PKR – Partai Keadilan Rakyat yang didirikan Datuk Anwar Ibrahim. Ketiga partai ini berupaya memenangkan Pemilu raya di Malaysia dengan menggeser UMNO partai yang berkuasa saat ini. Pak Chin Tong ini sangat mengagumi Datuk Anwar Ibrahim dengan sering mendengarkan pidato politiknya dimana-mana. Ketiga partai koalisi ini bermaksud mengusung Datuk Anwar Ibrahim menjadi Perdana Menteri Malaysia. Dan Pak Chin Tong mengakui bahwa dia banyak belajar dari Reformasi yang terjadi di Indonesia yang sampai menumbangkan Suharto.

Anwar Ibrahim

Dalam wawancaranya dengan wartawan Jawa Pos setelah di bebaskan dari tuduhan kasus sodomi, Datuk Anwar Ibrahim berjanji bahwa kalau dia menjadi Perdana Menteri Malaysia dia akan menampilkan Malaysia yang tidak arogan terhadap Indonesia sebagai negeri jiran yang terdekat. Bagi kita siapapun yang akan memimpin Malaysia, maka sikap arogan tidak boleh dikedepankan terhadap negara yang serumpun ini. Kalau tidak, meskipun sama-sama memiliki akar budaya dan bahasa yang sama, akan tetap menjadi tetangga yang asing.

Semoga, Pak Chin Tong kawan baru saya ini mendapat pelajaran yang menarik dari negeri kita dengan mengambil mana-mana yang baik untuk demokrasi yang akan terjadi di Malaysia.

Penulis adalah alumni of University of London dan Universitas Airlangga Surabaya, sekarang dosen di STIE PERBANAS Surabaya.

Foto dari website Liew Chin Tong dan Anwar Ibrahim.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +2 (from 2 votes)

Popularity: 2% [?]

Posted in Artikel, International, MSN0 Comments

Satu Pesawat dengan Para patriot

Satu Pesawat dengan Para patriot

By Akhyari Hananto

Pagi ini saya mendapatkan kabar bahwa Batavia Air akan memulai penerbangan perdana Manado – Guazhou. Sebuah langkah berani, karena bagaimanapun langkah ini tentu saja ingin memanfaatkan market di Guagzhou yang terus meningkat, dan membawanya ke Manado. Sementara Manado sendiri bukanlah sebuah destinasi utama di dunia penerbangan di Indonesia, masih jauh di bawah Makassar sekalipun. Batavia tentu menyadari itu, dan itulah sebabnya, bagi saya ini adalah langkah berani dan patut diapresiasi.

Saya masih ingat ketika FireFly (maskapai Malaysia) terbang ke Banda Aceh dari Kuala Lumpur. Saya sempat bertemu dengan salah satu petinggi FireFly ketika di Banda Aceh, dan saya tanyakan kenapa berani terbang ke Aceh yang belum punya nilai ekonomis tinggi waktu itu. Beliau menjawab, “Kami harus berani memulai. Tanpa keberanian itu, industri penerbangan hanya berjalan di tempat”.

Jawaban yang bagus. Keberanian.

Tentu saja itu belum cukup. Maskapai harus membangun reputasi. Saya pernah naik Delta Airlines dari Atlanta, Georgia ke Tokyo. Beberapa penumpang becanda sambil menyampaikan kepada para pramugari bahwa beberapa fasilitas di Delta Airlines kurang begitu bagus kualitasnya. Dengan santai sang pramugari menjawab bahwa memang Delta tidak bisa dibandingkan dengan Singapore Airlines yang punya fasilitas nomor satu di setiap detailnya. Reputasi Singapore Airlines memang sehebat reputasi Singapura. Bersih, excellent, efisien, kelas satu! Reputasinya jauh menembus batas wilayah negaranya yang kecil.

Apakah maskapai-maskapai nasional bisa sehebat Singapore Airlines? Tentu saja bisa. Bahkan, Garuda Indonesia hanya setingkat dibawahnya (maju terus Garuda).

Ada satu hal lagi yang akan make difference.

Satu hari teman saya akan pergi ke Amsterdam. Dia mengetahui bahwa Garuda sudah terbang lagi ke Amsterdam, namun dia lebih memilih memakai Emirates dengan berbagai alasan (terutama prestis). Dia menganggap bahwa Emirates lebih ini dan itu dibanding Garuda Indonesia. Meski harga relatif sama. Tentu sah saja seperti itu, akan tetapi di saat maskapai nasional sedang bersungguh-sungguh membangun image dan reputasi, namun apabila tidak didukung oleh stakeholder utama di dalam negeri (penumpang Indonesia yang bangga menggunakan maskapai nasional), tentu akan sulit bagi mereka.

Fajar era Open Sky sudah mulai menyeruak, dengan menghadirkan maskapai-maskapai dari seluruh Asia Tenggara dengan kualitas yang hampir berimbang. Dan percaya atau tidak, Indonesia adalah pasar industri penerbangan yang paling menggiurkan. Kalau bukan kita yang menggunakan maskapai-maskapai nasional, rasanya berat mengharapkan orang luar bangga menggunakannya.

Dari sini jelas, kita harus bagaimana mulai sekarang, kan?

 

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Artikel, MSN, Transportation1 Comment

Negeri di Awan di Belantara Sulawesi

Negeri di Awan di Belantara Sulawesi

“Ke Poso? Memang sudah aman?”, “Poso, daerah konflik itu?” Itulah sebagian komentar yang saya terima dari beberapa teman ketika mengetahui saya sedang bersiap-siap menuju Kabupaten Poso di Sulawesi Tengah. Mereka, yang masih saja berpikir bahwa Poso identik dengan konflik, saya jamin, pasti belum pernah menginjakkan kaki di sana. “Negeri di Awan” rasanya frase itu lah yang paling tepat menggambarkan keindahan Lembah Besoa di Lore Tengah, Kabupaten Poso.

Kabut putih tipis yang menggantung menutup sebagian bukit yang mengelilingi desa Doda, udara segar zero pollution, savanna hijau membentang luas dengan ratusan sapi merumput bak lingkaran-lingkaran keputihan dari kejauhan, sungai yang mengalir bening, masyarakat yang selalu tersenyum nan ramah, what else can you ask for? Ya, Doda, bagi saya adalah sebuah negeri di awan, mengutip kalimat puitis Katon Bagaskara “dimana kedamaian, menjadi istananya” Sepanjang perjalanan dari Palu menuju Poso, mata kami dimanjakan dengan hamparan gunung dan lembah yang hijau, kelokan sungai dengan airnya yang sangat bening, sesekali menjumpai savanna hijau bak permadani yang menutup sebagian lereng bukit.

Di perjalanan pertama ke Lore tahun 2009 saya sempat tersesat beberapa kali ke daerah transmigran di pedalaman, tetapi justru saya mensyukuri ketersesatan itu karena saya bisa menikmati indahnya pemandangan di pedalaman Sulawesi. saya sempat menitikkan air mata ketika menikmati keindahan pemandangan yang menghampar di depan mata. Setelah 8 jam perjalanan akhirnya kami tiba di Penginapan Berkat di desa Doda. Penginapan ini memiliki 6 kamar sederhana, dengan tarif sekitar 90,000 per malam, termasuk sarapan pagi.

Setelah beristirahat sejenak, sekitar jam 6 sore kami menuju Balai Desa setempat untuk menghadiri pertemuan warga. Udara malam itu sangat dingin, dan penerangan pun sangat terbatas , tetapi kami bisa melihat antusiasme warga yang berbondong-bondong menuju balai desa, dengan pakaian adat setempat. Para perempuan mengenakan pakaian adat yang berwarna merah menyala dengan hiasan-hiasan berwarna keemasan. Sebagian di antara mereka menggunakan baju adat yang terbuat dari kulit kayu, sementara bagi Bapak-bapak, kulit kayu ini digunakan sebagai topi adat.

Acara dialog dibuka dengan persembahan musik tradisional bambu yang sangat indah. Jika selama ini kita mengenal bambu sebagai seruling, di sini kita bisa menemukan berbagai jenis alat musik dengan suara yang berbeda-beda yang terbuat dari bahan bambu. Lebih dari 50% penduduk di Doda beragama nasrani, Islam adalah kelompok minoritas. Tapi saya bisa merasakan, tak ada ketegangan sama sekali seperti yang selama ini kita dengar di media. Masyarakat hidup berdampingan dengan damai. Meski acara dibuka dengan doa nasrani, tetapi keberadaan kelompok non-nasrani juga disebut dalam doa tersebut. Sapaan ‘Assalaamualaikum’ pun juga disampaikan beriringan dengan sapaan ‘Shalom;. Menurut penerjemah saya, nyanyian yang ditampilkan oleh kelompok paduan suara ibu-ibu di acara pembukaan, adalah tentang cerita bahwa masyarakat di Doda berasal dari nenek moyang yang sama, sehingga kita harus rukun dan menjaga persatuan. Isn’t that sweet?

Hampir setiap anak bisa memainkan alat musik bambu tradisional tersebut. Sekolah – sekolah (hanya ada SD dan SMP sejauh ini), setiap peringatan 17 Agustus, mengikuti lomba kesenian tradisional tersebut, dan mereka berlatih keras untuk memperoleh kemenangan. Itulah ajang yang menjadi kebanggan anak-anak desa setempat.

Ah, saya jadi malu, 17 Agustus bagi saya berlalu begitu saja sekedar sebagai hari libur. Sementara, nun jauh di sini anak-anak bangsa, yang kadang terabaikan oleh para pembesar di negeri ini – tanpa perlu gembar-gembor soal patriotisme – punya cara mereka sendiri untuk mencintai tanah air. Esoknya, ketika kabut pagi masih menggantung tipis di perbukitan yang mengelilingi desa Doda, rombongan berangkat menuju Situs Pokekea. Di situs Pokekea terdapat berbagai jenis megalith, tetapi didominasi tong batu (stone vots) atau oleh masyarakat setempat disebut sebagai kalamba. Kalamba berbentuk silinder, yang bagian dalamnya dilubangi menyerupai bentuk tong besar dengan ukuran tinggi bervariasi antara 1,5 meter sampai 2,7 meter, dan memiliki diameter antara 1 meter hingga 1,8 meter. Sangat menakjubkan melihat batu-batu sebesar itu, dengan ukiran masing-masing, secara acak, ditemukan di padang rumput di Besoa. Melihat kondisi geografis, jelas batu tersebut bukan berasal dari daerah tersebut.

Pertanyaannya, bagaimana bisa batu-batu tersebut sampai di Lembah Besoa? Para ahli sejarah pun masih berusaha menguak misteri ini. Diperkirakan batu-batu ini berusia atara 3000 – 1300 SM. Dan Pokekea hanyalah satu dari 300 situs yang diperkirakan tersebar di Lembah Besoa, Napu, Bada di Kabupaten Poso. Juru pelihara setempat, Pak Alfon dan Aminada yang mendampingi saya bercerita bahwa beberapa benda baru ditemukan lagi setelah mereka membersihkan rumput-rumput tinggi di kawasan tersebut. Dan bukan tidak mungkin jika dilakukan penggalian-penggalian lebih lanjut, ratusan bahkan ribuan patung, kalamba, atau benda purbakala lain akan ditemukan. Dan keindahannya memang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Bahkan foto pun tak bisa mewakili keluasan dan kedalaman serta keindahan pemandangan di sana.

Di padang rumput situs pokekea, saya merasa sangat dekat dengan langit, negeri di atas awan yang sesungguhnya. Jadi, saya akan berhenti bercerita di sini, and let these pictures speak. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sulteng saat ini tengah menginventarisasi kembali situs-situs yang ada di Lembah Besoa, Napu, dan Bada. Pemerintah setempat juga berencana menggelar seminar internasional di tahun 2012 mengenai World’s Heritage untuk menarik minat dan perhatian dunia mengenai peninggalan sejarah yang tak ternilai ini, dan membantu menguak misteri kehidupan nenek moyang masyarakat di Lembah Besoa. How can you not be grateful for living in such a beautiful country like Indonesia?

by Esti Durahsanti - a proud traveler

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Artikel, MSN, Travel & Tourism0 Comments

Hingar Bingar Politik dan Kreatifitas Anak Bangsa

Hingar Bingar Politik dan Kreatifitas Anak Bangsa

Perseteruan Politik Jangan Sampai Membunuh Kreativitas Bangsa.

Oleh: Drs. Ahmad Cholis Hamzah, MSc, alumni Universitas Airlangga dan university of London. Dosen STIE PERBANAS Surabaya.

Kalau kita mengikuti perdebatan di TV hari-hari ini tentang kepemimpinan bangsa (baca: Presiden), maka kita bisa berbangga bahwa dinamika demokrasi di negeri ini sudah berkembang dengan baik, ada kebebesan semua orang untuk mengemukakan pendapatnya yang kadang-kadang sering pedas dan keras, misalnya menyimpulkan bahwa negeri ini sudah tidak ada pilotnya, sehingga tidak bisa mengemudikan pesawat yang penumpangnya rakyat banyak. Malah ada yang menggunakan kata-kata yang cukup keras – bahwa negara ini (maaf) seperti “Kentut” alias keberadaannya tidak bisa dilihat atau rakyat tidak bisa merasakan adanya kehadiran pemerintah.

Kita boleh setuju atau tidak setuju dengan berbagai pendapat politik seperti itu karena negeri ini adalah negeri demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan India. Penulis tidak akan membahasnya hal ini di goodnewsfromindonesia ini – karena soal seperti ini bukan “maqom” nya blog ini. Yang perlu di cermati sebenarnya bahwa bangsa ini harus mengaca atau belajar dari negara-negara yang sudah established – jangan jauh-jauh mengaca pada Amerika Serikat, tapi pada Korea Selatan atau Jepang. Di kedua negeri ini orang sering disuguhi anggota DPRnya sedang berkelahi, dan Presiden dan Perdana Menterinya umur pemerintahannya pendek karena sering diganti. Akan tetapi pergolakan kaum elit di pusat kedua negeri ini tidak membuat ekonomi diseluruh negeri menjadi macet. Bahkan para ilmuwan, para peneliti, para produsen mobil, computer, kamera, dan alat-alat canggih lainnya masih tenang bekerja untuk kemajuan bangsanya. Para petani dan para pengusahanya terus menaikkan produktivitasnya agar produk-produk mereka membanjiri pasar global. Sekolah-sekolah tidak tutup, mahasiswa/wi masih dengan cerianya belajar di perpustakaan-perpustakaan kampus. Para penumpang kereta api bawah tanah di Tokyo dan Seoul terus berjubel melakukan aktivitasnya setiap hari, mereka tidak takut ada bakar-bakar ban mobil, penutupan jalan dsb. Pendeknya semua kehidupan negara dan berbangsa di kedua negeri ini tetap berjalan meskipun anggota DPR nya berkelahi.

Para penduduk kedua negeri contoh ini seakan-akan tidak menghiraukan perang kata-kata para politisinya, tidak perduli konspirasi partai politiknya, tidak perduli berita para elit mereka. Rakyat kedua negeri ini tetap memiliki semangat tinggi untuk meneruskan cita-cita pendiri bangsanya bahwa negeri mereka harus memiliki martabat di mata dunia, dan negeri mereka tetap harus bisa menafkahi semua golongan penduduknya.

Kita memang boleh bangga dengan progress demokrasi kita – yang sering di puji negera lain sebagai demokrasi yang baik. Tapi perlu diingat bahwa kondisi rakyat Indonesia lain dengan rakyat kedua negara maju itu. Penduduk kita masih banyak yang miskin dan masih banyak anak-anak kecil di daerah-daerah terpencil yang tidak memakai sepatu dan berjalan ber-kilo-kilo meter untuk menuju sekolah mereka. Kita juga harus ingat bahwa masih banyak dosen-dosen dengan mobil bututnya berjuang menyebarkan ilmu kepada mahasiswanya, bekerja siang malam di laboratorium. Kita juga harus ingat masih banyak guru-guru dan dokter-dokter muda yang bekerja dengan gajih kecil di tempat-tempat terpencil yang tidak ada bioskop, tidak ada mall, tidak ada listrik. Kita ingat para petani kita yang bekerja mulai pagi sampai sore untuk memproduksi makanan bagi sebagian besar rakyat kita. Dan kita ingat para penari, pembaca puisi, penabuh gamela yang terus memperjuangkan agar budaya nasional di kenal di manca negara. Belum lagi para prajurit TNI dan polisi yang menjaga keamanan di tempat-tempat terpencil agar NKRI tetap utuh. Dan jangan juga lupa anak Esemka (SMK) di Solo dan di berbagai daerah yang masih bersemangat menciptakan produk kebanggaan bangsa.

ESEMKA

Semua itu sangat rentan dengan penampilan para elit politik dan selebriti di pusat yang seakan-akan tidak ingat akan perjuangan mereka. Kondisi di negeri kita juga lain – penduduk kita yang miskin bisa terpengaruh dengan kekacauan yang dilakukan para elit di pusat, ekonomi akan lumpuh karena jalan-jalan di blockade, isu konflik SARA yang bisa menimbulkan konflik berkepanjangan, dan tentu menimbulkan korban jiwa dan luka.

Para elit politik harus sadar bahwa dinamika demokrasi kita yang seringkali panas menjelang Pemilu tidak boleh menghambat perjuangan para penduduk negeri ini, tidak boleh mematikan kreativitas anak-anak SMU, SMK dan mahasiswa/wi Perguruan Tinggi yang terus mempunyai mimpi bahwa negeri ini menjadi negeri yang damai dan makmur. Pergolakan politik dengan tujuan jangka pendek akan menimbulkan biaya sosial dan ekonomi yang besar bila para elitnya tidak menyadari amanat rakyat yang diembannya.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Artikel, MSN, Politics & Law0 Comments

The Super Tucano

The Super Tucano

Indonesia will receive its first four Embraer EMB-314 Super Tucano trainer/light attack aircraft in March 2012.

The aircraft will be based at Abd Saleh air force base in Malang, on Indonesia’s main island of Java, where support facilities have been set up for the Brazilian turboprop, said a report by official Indonesian news agency Antara, quoting Indonesian air force colonel Novianto Widadi.

The report added that 12 pilots have been trained for the aircraft, which will perform a flying display at the air force’s anniversary celebrations in April.

In November 2010, Jakarta announced that it would acquire 16 Super Tucanos to replace its Rockwell OV-10 Broncos. The aircraft will be used both as trainers and in the light ground attack role. Widadi added that the aircraft will also be used for border patrols.

Super Tucano (image by Embraer)

© Embraer

According to Embraer, the Super Tucano can carry a payload of 1,550kg (3420lb) and, with external tanks, has an endurance of up to eight hours. It can take off and land on an airfield of just 900m (2950ft).

It is armed with two .50 caliber machine guns in the wings with 200 rounds each.

“In addition to its two internal machine guns, the Super Tucano can be configured with additional underwing armament, such as two 20mm gun pods or .50 caliber machine guns, thereby significantly increasing its firepower for missions requiring air-to-ground saturation,” said Embraer.

It added that the aircraft can also carry air-to-air missiles such as the Raytheon AIM-9 Sidewinder class, rocket pods, and conventional or guided bombs. The OV-10 has seen extensive combat service in Indonesia. It was used extensively in the former Indonesian province of East Timor, and also conducted anti-guerrilla operations in the low-level insurgencies that Indonesia has periodically suffered in its provinces of Aceh and Irian Jaya.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in Military0 Comments

15 new N-219 Planes for Papua

15 new N-219 Planes for Papua

Aircraft manufacturer PT Dirgantara Indonesia (PTDI) is to build 15 N-219 airplanes for service on so-called “pioneer” routes in Papua province, a company official said here on Thursday.

“Work to construct the N-219 planes has already started with a prototypes expected to be completed in 2014,” PTDI technology and development director Andi Alisjahbana said.

Andi said the production cost of one N-219 plane with a capacity of 19 passengers was US$4 million so that around US$60 million would be needed to build the 15 N-219 planes for Papua.

Andi said PTDI had forwarded a request to the government to obtain the needed funds from the state budget.

“The plan to produce the 15 N-219s has the full support of the government through the ministries of research and technology, industry and transportation,” he said.

He said the N-219 was a type of plane vell suited for use in pioneer regions like those in Papua and other eastern Indonesia provinces where the runways of almost all airports were less than 800 meters long.

“The runways of most airports in Papua are less than 800 meters and in some cases even only 400 meters long,” Andi said, adding N-219 type planes were urgently needed in the province. (Antara)

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in General0 Comments

Sepeda adik saya…

Sepeda adik saya…

Saya masih ingat ketika adik saya dibelikan oleh ayah sebuah sepeda. Waktu itu, kondisi keuangan belum begitu baik, sehingga karena terbentur anggaran, sepeda yang dibeli pun bukan sepeda dengan merk terkenal, dan saya yakin harganya pun murah. Tanpa saya sangka, dalam kurang dari seminggu, sepeda itu sudah mengeluarkan bunyi-bunyian yang menandakan sekrup-sekrupnya kendor. Rantaipun kadang lepas.

Saya juga masih kecil waktu itu, dan saya bisa merasakan bagaimana perasaan adik saya, dan pasti ayah saya juga merasa sangat bersalah. Namun ternyata saya salah.

Saya tidak pernah sekalipun mendengar dia mengeluh tentang sepedanya, dan saya masih ingat ketika dia pulang sekolah (kelas 3 SD), sepedanya dituntun karena rantainya putus. Bagi kebanyakan anak, mungkin kejadian tersebut akan membuatnya ngambek, marah, atau nangis. Tapi sungguh, tidak adik saya. Dan ayah saya pun dengan tekun membetulkan sepeda adik saya setiap kali ada yang tidak beres, mengganti suku cadang yang rusak satu demi satu, dan dari situlah ternyata adik saya mulai belajar untuk membetulkan sepedanya sendiri untuk kerusakan ringan.

Dalam 2 bulan pertama, saya masih ingat bahwa sepeda itu rusak hampir tiap 3 hari sekali. Tahun berlalu, ternyata sepeda itu menjadi jarang sekali rusak, selain karena sebagian suku cadangnya diganti dengan baik, juga karena ketekunan adik saya memelihara, membersihkan, dan membetulkannya. Sampai 15 tahun kemudian, sepeda yang awalnya bobrok itu masih bisa dipakai dengan baik. Dan satu hal yang perlu saya garis bawahi adalah, adik saya sekarang adalah pemilik dari 11 bengkel sepeda/sepeda motor di Jogja, pemilik toko suku cadang sepeda/sepeda motor di Jogja dan Solo.

Cerita yang seolah-olah seperti sinetron, tapi benar adanya dan ini kisah nyata.

Lalu saya membayangkan, sepeda itu adalah negara Indonesia, ayah saya adalah pemerintahnya, dan adik saya adalah rakyatnya. Mau apalagi, beginilah Indonesia warisan pendahulu kita, terima saja. Pemerintah juga mempunyai banyak keterbatasan, anggaran, kemampuan, kemauan, dan lain lain. Terima saja. Namun, rakyatnya lah yang berperan penting. Seperti adik saya itu, dia bisa saja menguliti kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan sepeda itu, sambil tanpa henti menyalahkan ayah saya. Namun, adik saya memilih memperbaiki semampunya, tanpa memaki.

*Teruntuk adik saya di Jogja

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +11 (from 11 votes)

Popularity: 2% [?]

Posted in Artikel, General, MSN2 Comments

A Private Roaring Lion

A Private Roaring Lion

Space Jet, the business aircraft charter start-up of Indonesian low-cost carrier Lion Air, will begin operations later this year with Hawker 900XP twin jets, but said it may add other types to the fleet at a later date.

Two of the nine-seat midsize aircraft will arrive in May and September, with two more to be added to the fleet at a later date, said Lion Air president Rusdi Kirana.

“There is no specific time-frame for Space Jet’s third and fourth 900XP,” Kirana said. He added that the company will only consider other types of private aircraft after all four 900XPs are in service. “Other types are possible, but it depends on what we need,” he said.

Space Jet will offer time-sharing and block charter, but Kirana believes traditional ad hoc charter will account for the bulk of the demand.

“Even though time-sharing and block charter would be less expensive [for the customer], I don’t see people being as interested in this,” he said. “The private jet service is targeted at Indonesia’s high-end, who are less concerned about price.”

Kirana anticipates demand for services across Indonesia – mirroring the 62 destinations already served by Lion. “The people who charter us will be aware of the region’s infrastructure and our ability to provide the service at just four hours notice,” said Kirana

While private jet charter is common in Indonesia, Kirana noted, the majority of aircraft in the region are privately owned. This hampers the availability of aircraft as many operators have to juggle the demands of charter customers with those of the owners, he added.

Aside from offering private jet service, Space Jet will operate scheduled services with Lion’s Boeing 737-900ER, and eventually widebody aircraft on both domestic Indonesian and regional routes.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1% [?]

Posted in EcoBiz0 Comments

Photobucket
Design your own t-shirt at ooShirts.com!
Photobucket
Parlemen Muda Indonesia

GNFI’s Charity Project

GNFI Channels

@GNFI on Twitter GNFI on Facebook GNFI's Channel on YouTube

Good News by Month