<a href="http://goodnewsfromindonesia.org/shia-terminal-3-for-budget-airport-jakarta/"><b>SHIA Terminal 3 for Budget Airport Jakarta</b></a> <a href="http://goodnewsfromindonesia.org/buy-time-magazine-may-2009-edition/"><b>Buy TIME Magazine May 2009 Edition!</b></a> <a href="http://goodnewsfromindonesia.org/asian-tiger-revisited/"><b>Asian Tiger Revisited</b></a> <a href="http://goodnewsfromindonesia.org/indonesia-vs-thailand-again/"><b>Indonesia Vs Thailand (again)</b></a> <a href="http://goodnewsfromindonesia.org/optimistic-indonesians/"><b>Optimistic Indonesians</b></a>
 

Bersaudara. Madagascar dan Kita.

Keanekaragaman budaya Indonesia ternyata tidak hanya dikenal di seluruh negara, tetapi budaya Indonesia berkontribusi bagi perkembangan budaya negara lain. Salah satunya adalah kebudayaan di Pulau Madagaskar yang terletak di Samudera Hindia.

Prof. Herawati Sudoyo, peneliti di Eijkman Institute for Molecular Biology, mengungkapkan fakta bahwa budaya asal yang dimiliki penduduk Madagaskar adalah budaya bangsa Indonesia.

“Pulau Madagaskar dihuni 1.200 tahun yang lalu oleh sekelompok kecil perempuan Indonesia. Saat itu sekitar 28 wanita Indonesia melakukan perjalanan ke Pulau Madagaskar. Mereka tinggal dan membangun budaya di sana,” ujar Herawati Sudoyo.

Ia menuturkan, terdapat banyak budaya asal Indonesia yang dikembangkan sebagai budaya asal Madagaskar. Diantaranya adalah, teknik bercocok tanam padi, pisang, dan umbi-umbian, serta teknik memproses besi. Wujud budaya lainnya yaitu instrumen musik seperti gamelan, dan adanya kapal bercadik.

“Kontribusi budaya yang dibawa oleh sekelompok kecil perempuan Indonesia, masih berlangsung dan mendominasi bangsa Madagaskar sampai detik ini,” tuturnya.

Prof. Herawati beserta tiga orang peneliti lain asal New Zealand, Arizona, dan Perancis telah melakukan penelitian sejak tahun 2005 untuk menjawab misteri nenek moyang penduduk Madagaskar. Hasil yang diperoleh cukup mengejutkan, nenek moyang asli penduduk Madagaskar adalah perempuan asal Indonesia yang berlayar ke Madagaskar 1.200 tahun silam.

“Penelitian yang kita lakukan adalah melalui pencocokan DNA, yaitu 2.745 DNA penduduk Indonesia dengan 266 penduduk asal Madagaskar. Walau hasilnya sudah diperoleh, tapi baru DNA yang wanitanya, kami harus juga melakukan pencocokan DNA pada pria Indonesia dan Madagaskar,” ungkapnya.

(Detiknews)

Membangun Kembali Harapan

Anda tentunya masih Ingat dengan ramainya pemberitaan tentang jembatan Indiana Jones dimedia Televisi, yang sebenarnya adalalah jembatan gantung yang terletak diantara kampung Ciparay dan Kampung Ciwaru Lebak banten dan penduduk sekitar menamakan sebagai jembatan ciwaru. Jembatan ini rusak berat pada tiang penyangga sehingga salah satu Wire rop utama jatuh dari dari dudukanya di tiang utama sehingga lantai jembatan miring sampai 90 derajat, yang mengakibatkan sangat berbahaya bagi anak-anak kampung ciwaru yang melewati setiap harinya untuk berangkat kesekolah.

Perjuangan untuk melewati jembatan miring ini yang jadi berita yang diexpose seluruh media nasional dan bahkan diberbagai media sosial sedemikian terkenal dan  mereka menamakanya sebagai jembatan Indiana Jones.  Anak Sekolah dan orang tua Nekat berjibaku melewati jembatan yang sudah miring tersebut , karena untuk mencari jalan alternative harus berputar berkilo-kilometer jauhnya untuk keseberang jembatan dikampung ciparay tempat mereka sekolah dan berhubung dengan dunia luar.

Gambar  1. Anak-anak sekolah harus menempuh bahaya setiap hari hanya untuk berangkat kesekolah, Karena tidak ada jalan lain yang terdekat kecuali harus memutar sejauh 3 km dan tidak ada angkutan umum

Seminggu setelah  kejadian banjir tersebut  Pemda Lebak memang lagi mengajukan permintaan anggaran tambahan ke Gubernur BANTEN untuk pembuatan jembatan baru Indiana Jones senilai kurang lebih 1 Milyard rupiah, karena tidak ada anggaran dari APBD Lebak, tetapi itu  proses persetujuan apalagi realisasinya akan melalui prosedur yang sangat panjang yaitu harus dibahas di DPRD saat pengajuan  APBD-Perubahan provinsi banten yang waktunya belum tentu kapan dirapatkan dan belum tentu disetujui.

Ketika  IKA ITS BANTEN yang didukung oleh Krakatau Steel (karena kebetulan yang survey jembatan tersebut juga karyawan Krakatau Steel) menawarkan bantuan untuk ikut membangun kembali jembatan Indiana jones, mereka setuju dengan menggeser posisi jembatan 50-75 meter dari pondasi lama dan jembatan dengan konstruksi baja dari Krakatau steel , agar jembatan baru lebih aman dari abrasi sungai dan hantaman banjir. Kemudian kami meminta dibuatkan  segera  permintaan resmi dari Bupati Lebak, dengan tujuan agar bisa dibantu Wire Rop, Plat Checker plate dan bahan baja lain yang ada di Krakatau steel untuk bahan pembuatan jembatan gantung yang baru, karena Krakatau Steel telah terbukti lebih cepat .

Surat Permintaan dari Bupati Lebak tgl 23 Januari 2012

Tiang Utama bengkok 90 derajat , sehingga salah satu Sling utama jatuh ketanah yang membuat jembatan miring sampai vertikal (90 derajat Sehingga .Jembatan miring  yang panjangnya  100m ini jadi Obyek pemberitaan berita media masa nasional maupun Internasional.

KETUA IKA ITS BANTEN  yang Juga Deputy Direktur PT.Krakatau Steel berdiskusi dan memberi penjelasan Kepada Perangkat Desa, Lurah , Camat , Ustad Ponpes Ciwaru bahwa Bantuan Jembatan gantung ini memang sebagian besar  bantuan Krakatau Steel melalui Divisi PKBL ini , Tetapi tanpa ketrelibatkan Pemda Cilegon, IKA ITS dan terutama Gotong royong penduduk sekitar maka jembatan ini tidak akan jadi, kalaupun Jadi tidak akan bertahan lama jika penduduk sekitar tidak ikut membantu merawatnya, dengan Demikian Anak Anak kampung Ciwaru yang kesulitan untuk dapat besekolah , karena kampungnya terisolir segera bisa lebih mudah bersekolah lagi.

Rancangan baru Jembatan gantung  Indiana Jones oleh Alumni ITS dari Krakatau Engineering
dengan konstruksi baja dengan Tiang Utama Pipa Tubular membentuk Pilar A
dan Lantai plat Checker plate produksi PT.Krakatau Steel
serta tinggi jembatan dinaikkan agar lebih aman dari terjangan banjir

IKA ITS membantu perlengkapan untuk gotong royong seperti  gerobak dorong , pacul , scoop, ember, rancangan jembatan, pembayaran tukang  dan  supervisi setiap minggu.

Akses menuju Sisi seberang jembatan (kampung Ciwaru) yg terisolir, harus menggunakan mobil Offroad yang kecil yang membuat sulit untuk dapat menstransfer material jembatan.

Transportasi Sirtu di sisi Pesantren kampong Ciparay, Pasir Tanjung Rangkas,  dengan gotong royong  dibantu Ibu-ibu ikut gotong royong menggunakan gerobak , sekop pacul bantuan IKA ITS

Transportasi sisi Kampung Ciwaru yang terisolir Terpaksa Mengguinakan  FLYING FOX
Bahkan Anak-anak kampung Ciwaru  dengan telanjang bulat sambil bermain ikut membantu memindahkan batu belah untuk dibawa dengan rakit bambu ke kampungnya.
Tiang Jembatan terpaksa juga diangkut dengan Gerobak (Ang Hang) yang ditarik Jeep 4×4.
Transfer Material  Pasir dan batu yang tidak bisa memakai truk dan harus dilakukan dengan gerobak dorong, ember , rakit dan dengan Flying FOX membuat pembangunan pondasi jembatan menjadi lamban dan memerlukan tenaga banyak orang, untungnya penduduk sekitar bahkan Ibu-ibu, anak anak bahkan santri di ponpes terdekat sangat banyak membantu.

Selamatan Mohon keselamatan  memulai Pengecoran Pondasi Jembatan gantung

Pondasi Jembatan dibuat setinggi tinggi 7 Meter agar lebih aman dari terjangan banjir sudah Siap Di Cor di minggu ketiga Maret 2012

Jembatan gantung sebelumnya sudah rusak 3 kali dan terakhir baru dibangun 3 tahun lalu  dengan program stimulan pemda Lebak sudah rusak karena terjangan banjir. Jembatan yang dibangun saat ini lebih aman dari terjangan banjir, karena selain lokasi jembatan digeser ke posisi yg lebih aman  dan lebih tinggi serta desain jembatan  disimulasikan dengan Software Analisa Strukture (SAP2000) oleh alumni ITS serta dijamin lebih kuat karena menggunakan konstruksi BAJA berstandard SNI Produk dari Krakatau Steel,

Progres pembangunan pada akhir bulan Maret 2012,  Tiang  Utama Jembatan Sudah terpasang.  2 Minggu kedepan  setelah Beton Cor Pondasi kering akan diinstall Jembatan gantung yang sudah disiapkan di workshop Krakatau Steel .

(AlumniITS.com)

Terbaik ke-2 di Asia

Tenaga perhotelan dan para koki Indonesia rupanya terbaik kedua di Asia setelah Singapura. Kemenparekraf pun optimistis SDM pariwisata Indonesia bisa bersaing di dunia.

Badan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sangat yakin terhadap kemajuan sumber daya manusia di Indonesia. Mereka yakin SDM lulusan sekolah tinggi pariwisata di Indonesia bisa mengangkat potensi wisata Indonesia di kancah internasional.

“SDM kita nomor 35 dari 125 negara di dunia. Di Asia kita nomor 2, setelah Singapura,” ungkap Prof I Gede Pitana, selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Parekraf, dalam diskusi di Kemenparekraf, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta.

Beberapa sekolah tinggi yang bergerak dalam bidang pariwisata di Indonesia yang saat ini sudah mulai mengembangkan sayapnya di tingkat internasional. Namun, ada dua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) yang berhasil mendapat sertifikasi tingkat internasional.

“Di Asia Pasifik, hanya 16 yang dapat sertifikasi, yaitu STP Bandung dan STP Bali,” ujar Pitana.

Untuk level SDM sendiri, Indonesia memiliki tingkat yang cukup membanggakan. “Lulusan dari sekolah tinggi pariwisata di Indonesia sudah unggul di kawasan Asean. Untuk tingkat dunia akan segara menyusul,” kata dia.

Diungkapkan pula, pentingnya kerja sama dengan pihak luar, seperti universitas di luar negeri. Hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas SDM di Indonesia.

“Bandung sudah hampir pasti bekerja sama dengan universitas di Inggris (Leeds Met University-red). Nantinya mahasiswa kita sudah bisa mendapatkan dua gelar sekaligus dalam waktu hanya 15 bulan,” jelas Pitana.

Untuk mendukung pengembangan SDM pariwisata, pemerintah daerah harus ikut membantu. BPSD juga berupaya mengembangkan kualitas SDM dalam pemerintah daerah dalam koridor otonomi daerah.

“Kami sudah mulai untuk mengembangkan SDM pemerintah daerah. Semenjak otonomi daerah diberlakukan, khususnya daerah terpencil. Langkah ini belum pernah dilakukan,” ungkapnya.

(Detik Travel)

Sikorsky above us

Sikorsky Aircraft has received an order from Indonesian Aerospace subsidiary IPTN North America for a pair of S-300Cs. The training helicopters will enter service with the Indonesian Army in late 2012 to meet a requirement to train more than 100 new pilots in coming years.

Indonesia plans to double its military helicopter fleet, increasing the need for training, Defence Minister Purnomo Yusgiantoro announced in March.

 

(Source : Rotor & Wing)

They did it in 81 seconds!

It was one of Indonesia’s Elite Force (Kopassus). The hostages liberation by Kopassus was broadcasted LIVE in some countries, around 200 international journalist, reporter were covering the rare event at Bangkok Don Muang Int’l Airport. AND THEY DID IT IN ONLY 81 SECOND. It was WORLD’S MOST SUCCESSFUL ANTI-TERRORIST OPERATION IN THE WORLD, and followed by GSG (Germany) in Ethiopia, and Israel Special Force in Tanzania (if I am not mistaken). The 30 strong commando team member was led by Sintong Pandjaitan.

On 28th March 1981, Garuda Indonesian Airlines Flight GA 206, by DC-9 “Woyla” was en route from Palembang to Medan, a domestic flight between two Indonesian cities. The plane had flown from Jakarta at 08:00, was in transit to Palembang, and from there was scheduled to make the trip to its final destination at Medan, arrival time estimated 10:55.

Once in the air, however, two passengers got up from their seats. One went to the cockpit while the other stood in the aisle. Moments later, by 10:10, Woyla was completely under the control of five hijackers, all armed. The hijacker in the cockpit ordered the pilot to fly the plane to Colombo, Sri Lanka, but the pilot said that the fuel wouldn’t be sufficient to travel that distance. Then the plane was then flown to Penang, Malaysia.

The terrorists are from Jihad Commando group, radicals responsible for raids on police stations, military bases, and various acts of sabotage in Indonesia from 1977-1981. In the midday, Indonesian government went on red alert. Indonesia had never dealt with serious hijacking before. The first case ever was in 1974, when a desperate Marine hijacked a domestic flight for money, then he was killed by the pilot himself. In an effort to familiarize themselves with the layout of the aircraft, later that evening the newly created Indonesian’s Special Force, Kophasanda (now Kopassus), borrowed another DC-9 from Garuda Airlines and used it for combat training.

Woyla has left Malaysia after refueling, bound to Don Muang, Thailand. An old female passenger was allowed to go in Malaysia. The terrorists have declared their demand: The release of Jihad Commandos that have been imprisoned by Indonesian government, and US $ 1.5 million. They also demand a plane is prepared for the released prisoners, to an yet unspecified destination. They have bomb set on the plane. Things get harder for the Kophasanda commander. He suspects that the plane will be flown to a state in Middle East. But as the plane has been relocated from Malaysia, the step was going further for him.

Also, US Ambassador has called him and told him that US really counts on him to the safety of American citizens abroad the flight. In 21:00, 29th March, 35 members of Kophasanda left Indonesia in a DC-10, all wearing civilian clothes. Thailand government itself didn’t agree much on Indonesian choice to use military force. They preferred negotiation, the same way that ended the taking of Israeli embassy in Bangkok by Black September terrorists back in 1972. Finally, they let the military way, considering that the owner of the aircraft is Indonesian government, and all the terrorists are Indonesian nationals, from an extremist group. The CIA chief of station in Thailand met later with Kophasanda to lend them flak jackets and breaching kits for the assault.

An American journalist on the top of a bus surrounding Don Muang, woke his comrades, international journalists from Indonesia, US, Thailand, Japan, Singapore, West Germany, France, and Australia. 500 meters from Woyla, armed soldiers walked silently in the bushes. The plan was, blue team and red team would climb the wings then wait at the side doors. The windows of the plane have been blinded. While green team will breach the rear door, all will enter at the same time at the go-code.

02:43 Thailand commando team also moves in, waiting on the runway to prevent the possibility of escaping terrorists.
02:43 The go-code is given. The three teams enter, but not at the same time. Green team entered first, only to find that a terrorist was alert in the rear side of the plane. The terrorist fired, striking one assault team member in an area of his stomach unprotected by his flak jacket. Blue team and red team then entered, shot 3 terrorists on sight, as the passengers ducked and closed their eyes. The commando team shouted to the passengers, telling them to rush out. A hijacker, with grenade in hand, also ran outside and tried to throw it. But other passengers pinpointed him and the commando team finished him before the front door. The last terrorist was killed outside the plane.
02:45 With the area secure, paramedics immediately rushed to the plane to try and save the pilot who had accidentally been shot by a terrorist during the raid.

All terrorists aboard were killed. The Asian Wall Street Journal, as well as Asian and European papers praised the good work by Indonesian Special Force – Kopasandha (now Kopassus). Indonesian intelligence itself later declared that the main goal of the terrorists’ organization was to throw the government and to create an different kind of state in Indonesia.

300 Million reasons to invest in Gresik

Wilmar Group, a Singapore-listed CPO producer, plans to pour $300 million in investments in Gresik, a city in East Java to build a flour mill and bio-refinery plant, a senior executive at the Indonesian unit said.

“We are building a flour mill through PT Wilmar Nabati Indonesia, in Gresik,” said MP Tumangor, commissioner of Wilmar Indonesia. “It will be completed in 2013.”

Tumangor said the bio-refinery plant that is being constructed will be used to process crude palm oil into some derivatives.

There are at least 40 derivatives that can be developed, and Wilmar has just produced 20 of them.

Wilmar will only supply up to 30 percent of the CPO needed for the bio-refinery plant and has plans to buy more from other plantation companies, including state-owned enterprises.

Tumangor said Wilmar is hoping to invest $300 million, which is part of the group’s investment plan in Indonesia in the next two to three years.

“Wilmar sees a potential in Indonesia’s natural resources. It [the country] also offers a big market,” Tumangor said in a press release on Sunday.

Tumangor said that the company’s expansion plan reflected the company’s intention not to focus solely on the crude palm oil business.

He said Wilmar has put a total of Rp 33 trillion ($3.6 billion) worth of investments in Indonesia since 1991, when it began its agro-business in the country.

According to the group’s statistics, Wilmar booked $37.8 billion in sales from Indonesia for the period 2007-2011.

As much as 63 percent of its products was sold overseas and 37 percent was for the local market.

Apart from Indonesia, Wilmar also owns the CPO plantation operation in Malaysia, and sugar mills in Australia

Reuters reported on Feb. 22 that Wilmar International Ltd., booked a 57 percent increase in net income for fourth quarter 2011 from the same period a year earlier, thanks to a big revaluation gain in its core palm oil business and from its enlarged sugar operations.

Antara

It’s Going to be the World’s Largest!

Indonesia’s government plans to create one of the world’s largest palm oil and rubber firms in March by combining state planters with total assets of $5.6 billion, a government minister said on Thursday.

A planned listing of the firm will tap investor interest in a country with a recently acquired “investment grade” rating and create a rival to top regional planters such as Malaysia’s Sime Darby and Singapore’s Wilmar.

The government will consolidate the assets of 15 state firms, whose revenues last year stood at around Rp 40 trillion ($4.45 billion), under parent company PT Perkebunan Nusantara III.

“This holding will become one of the largest plantation firms in the world with one million hectares of palm oil and rubber,” State Enterprises Minister Dahlan Iskan said in an interview.

The sprawling archipelago of 17,000 islands is the world’s biggest exporter of palm oil, second biggest producer of rubber and robusta coffee and third biggest producer of cocoa . The state firms produce all these commodities as well as tea, rice, cassava and sugar.

Analysts said the consolidation of the state firms would produce some economies of scale but would not have a dramatic impact on commodity supply.

“They have been producing. It is not new supply coming into the market. This is just a rationalization of government linked assets,” said Carey Wong, an analyst with OCBC Bank in Singapore.

The last mega-plantation merger was in 2008 when Malaysia’s government pushed for the tie-up of three state-linked planters to form Sime Darby, which it touted as the largest plantation firm by assets.

Borneo Rice Bowl

Indonesian state plantation firms will combine to produce an extra 500,000 tons of rice from planting 100,000 hectares of new paddy fields in east Kalimantan on Borneo island, Iskan said, without giving a timeframe for the production.

Indonesia, the world’s fourth largest country by population, is trying to become self-sufficient in production of its staple grain. But it surprised regional markets last year with hefty imports from Thailand and Vietnam. Expanding paddies could help its aim not to import again this year.

“I expect Indonesia could produce an additional 280,000-300,000 tons of paddy from the newly planted areas of 100,000 hectares,” said Chookiat Ophaswongse, the honorary president of the Thai Rice Exporters Association.

Plantation firms have been restricted this year from expanding in forested areas such as Borneo by Indonesia’s two-year moratorium on new forest clearance and land acquisition is in any case seen as a hurdle in a country known for red tape.

Indonesia in December passed a land bill designed to speed up land acquisition for state projects deemed in the public interest and the law could enable the new firm to get access to land for rice.

Top Landbank

Iskan said the combined profits of the firms to be amalgamated were around Rp 3.6 trillion. The government plans to first list one of the firms, Perkebunan Nusantara VII, as a unit of the holding firm this year on Jakarta’s stock exchange.

“After PTPN VII, we’re open for other units to list on the stock exchange but eventually we will list the parent company and I don’t think we should retain a majority stake once it is listed,” Iskan said.

The combined palm oil and rubber landbank of the holding company Perkebunan Nusantara III will be bigger than that of the main existing listed regional planters. Sime Darby currently tops the list with 525,795 hectares for palm oil and has a market value of $18.2 billion.

Analysts said the new Indonesian merger’s hefty landbank would pull in investors.

“It is massive. They are talking about a million hectares. That would be massive. I’m sure the stock market will be very excited,” said John Rachmat, a palm oil analyst at the Royal Bank of Scotland in Singapore.

Reuters

More lines in the sky

Indonesia’s flag carrier Garuda will sign a deal for 11 Airbus passenger jets on Wednesday, during a visit byPrime Minister David Cameron aimed at boosting trade and investment.

The purchase of the A330 jets, worth about $2.5 billion (1.5 billion pounds) and powered by UK supplied Rolls-Royce engines, reflects the growing consumer demand that is attracting political leaders and financiers to court Southeast Asia’s largest economy.

“This deal between Airbus and Garuda Indonesia Airlines is great news for the UK aerospace industry,” Cameron told reporters after arriving in Jakarta on a 24-hour visit.

Cameron’s coalition government is trying to boost British manufacturing to reduce reliance on financial services and to limit exposure to the crisis-hit euro zone by doing more business with fast-growing emerging markets.

Cameron, accompanied by about 35 executives on an Asian tour, has said he sees enormous potential in Indonesia, and the British delegation is expected to focus on possible deals in energy, construction, retail, pharmaceutical, defence and financial services sectors.

The new Airbus jets will increase by two-thirds the number of long-haul A330s already delivered to Garuda or on order from the airline. Its main domestic rival Lion Air in February signed a record $22 billion deal for planes from Boeing Co.

That deal was first announced during a visit to Jakarta by U.S. President Barack Obama. Leaders from China and France also visited last year together with large delegations of executives sniffing for investment opportunities, especially to overhaul Indonesia’s dilapidated infrastructure.

Indonesia is seeing a rapidly expanding aviation sector as a growing middle class, and business executives, opt to travel by air across an archipelago of 17,000 islands. Many islands lack good roads or railways, while ship connections are sporadic and slow, and deadly transport accidents are common.

Many airlines use ageing propeller planes to navigate remote and mountainous eastern provinces such as Papua, where a Garuda plane skidded off the runway on Wednesday. Garuda was removed from a European Union blacklist on Indonesian carriers in 2009.

Garuda’s CEO Emirsyah Satar said he planned to use the new Airbus planes to expand in Asia-Pacific, including to China, South Korea and Australia.

Southeast Asian carriers have ordered $47 billion worth of aircraft for the coming decade.

(Reporting by Olivia Rondonuwu and Mohammed Abbas; Writing by Neil Chatterjee; Editing by Michael Perry)

(Reuters)

Cocos Islands..Darah Daging Indonesia

Siapa diantara kita yang pernah mendengan Cocos Islands ? Sebulan lalu mungkin sedikit sekali, namun kini mungkin sudah agak sedikit terkenal, terutama setelah ada kabar bahwa Amerika Serikat akan membangun pangkalan pesawat tanpa awak di Cocos Islands. Tapi tentu kita tidak membahas itu.

Cocos Islands adalah kepulauan kecil yang terdiri dari 27 pulau koral dan 2 pulau atol, terletak sekitar 1000 km dari Jakarta, yakni sebelah selatan Pulau Jawa di Samudra Hindia, dan 2800 km dari Perth, Australia. Penduduknya sekitar 600-an orang. Cocos Islands masuk dalam teritori negara Australia sejak 1955 setelah sebelumnya dikuasai Inggris, dan Srilanka.

Cocos is located in Indian Ocean

Nah, yang unik dari pulau ini adalah bahwa 90% penduduknya adalah muslim, dan beretnis Jawa dan Melayu. Betul, mereka adalah keturunan para pekerja yang didatangkan oleh Inggris dari Jawa pada abad 19, untuk bekerja di perkebunan di sana. Konon, para keturunan Jawa ini masih memegang budaya Jawanya, bahkan di antara golongan tuanya, masih ada (mungkin sedikit) yang masih bisa berbahasa Jawa. Bahkan di dalam logo kepulauan tersebut, terdapat tulisan berbahasa Indonesia “Maju Pulau Kita”. Bahkan wayang kulit diadopsi menjadi gambar di perangko nasional Australia. Dulunya, wayang-wayang yang dibuat di Cocos  itu mereka buat dari kulit hiu kering, sedangkan dalang terakhir mereka Mbah Itjang meninggal pada tahun 1949.  Wallahualam

File:Armoiries des îles Cocos.svg

Pemerintah Australia secara tegas mewajibkan penggunaan bahasa Inggris di sekolah-sekolah di pulau tersebut, bahkan konon anak-anak yang masih menggunakan bahasa asli mereka, dulunya dihukum. Wallahualam.

Banyak orang Jawa yang bahkan tidak pernah tahu keberadaan saudara-saudara mereka di pulau kecil nan terpencil ini, yang saya tahu, beberapa tahun lalu ada rombongan turis dari Malaysia yang berwisata ke pulau ini. Wajar saja, karena keturunan melayu Malaysia juga banyak. Kedatangan mereka, tentu saja menjadi obat rindu etnis Jawa/Melayu disana…yang begitu jauh terpisah dari mana-mana, dan jarang bertemu orang dari luar wilayah mereka.

Kita sering mendengar dan mempelajari Suriname, tentu saja, dimana banyak keturunan Jawa yang ada di sana. Namun kita seolah melupakan saudara kita di selatan sana. Kalau ada waktu, kalau ada dana, visit Cocos Islands. Say hello to them, from GNFI.

Baling-Baling sang Garuda

Saya selalu ‘bersemangat’ setiap kali akan naik pesawat berbaling-baling, terutama karena disitulah “semangat” pesawat terbang benar-benar saya peroleh. Pertama tentu saja ketika baling-baling mulai berputar pelan dan kemudian sangat cepat, lalu terdengar bunyi menderu mesin dan baling-baling, dan dengan “susah payah” pesawat naik ke angkasa. Yang paling ‘mendebarkan’ tentu saja adalah karena pesawat tidak berada jauuuh di atas permukaan, sehingga kita akan dimanjakan oleh pemandangan dibawah yang terlihat jelas, bahkan mobil yang lewat di jalan pun bisa kita lihat secara clear.

Ketika mendengar Garuda Indonesia akan membeli pesawat turboprop (baling-baling), saya kaget, sekaligus excited. Bukan apa-apa, Garuda Indonesia adalah maskapai dengan reputasi dunia, belum lama ini dinobatkan sebagai World’s Best Airline oleh Roy Morgan, dan penghargaan-penghargaan tingkat dunia yang lain. Tentu akan “berbeda” rasanya terbang dengan pesawat baling-balingnya Garuda.

Sejak beberapa tahun terakhir, Garuda Indonesia “sibuk” membeli pesawat-pesawat baru, mulai dari Boeing 737-800NG, 777-300, Airbus A330, hingga yang terakhir Bombardier CRJ1000. Sementara itu, saat ini Garuda masih memilih untuk pesawat turboprop antara 2 pilihan, apakah ATR 72-500, atau Bombardier Q400. Keduanya pesawat bagus. Namun, karena Garuda juga punya CRJ1000, alangkah baiknya kalau Bombaordier juga yang dipilih. Menyederhanakan maintenance kan?

Bravo, Garuda Indonesia.